Minggu, 20 September 2020

Genmuda – Siapa bilang game sama sekali engga bermanfaat buat kehidupan manusia? Biarpun efek main game berbahaya banget ketika udah ketagihan, ada sejumlah penelitian yang bilang kalo ngegaming bisa merangsang otak supaya makin pinter.

Seiring perkembangan jaman, teknologi dalam game pada akhirnya bisa dimodifikasi jadi teknologi lain yang ada manfaat langsung buat kebaikan, mulai dari jadi alat simulasi lalu-lintas sampai jadi alat mengobati gangguan psikologi. Lebih jelasnya, cek di bawah ini.

1. “Grand Theft Auto V”

via critical-reviews.com
Tampilan “GTA V” (Sumber: critical-reviews.com)

Blockbuster yang rilis sejak 2013 ini bukan cuma nampilin cerita trio penjahat ugal-ugalan yang ngerampok berbagai bank, tapi juga menyediakan area bermain yang hyper-realistis berdasarkan penampang area Hollywood, California. Di atas kertas, ada 14 kondisi cuaca, 262 jenis kendaraan, lebih dari 1.000 pejalan kaki yang pergerakannya engga bisa diprediksi, juga ribuan tikungan dan persimpangan.

Lebih-kurang, kondisinya mirip dengan yang terjadi di jalan raya dunia nyata. Oleh karenanya, peneliti Darmstadt University of Technology Jerman dan Intel Labs memodifikasi lalu-lintas di dalam game buatan Rockstar itu jadi area simulasi AI mobil tanpa supir (otonomus).

Setelah “supir AI” itu “lulus” menyetir di “GTA V” tanpa nabrak tiang listrik apalagi pejalan kaki yang sepertinya diciptakan developer game itu untuk tertabrak, baru AI-nya ditempatkan ke mobil otonomus dunia nyata.

2. “Gran Turismo”

via Istimewa
Tampilan “Gran Turismo 6.” (Sumber: Istimewa)

Game lain yang juga dapet gelar hyper-realistis seperti “GTA V” adalah “Gran Turismo 6,” andalannya Sony PlayStation. Game yang sampai dapet sertifikat dari International Automobile Federation itu pada akhirnya dipakai Nissan buat ngerekrut pembalap baru untuk tim Nissan-Nismo mereka di berbagai kompetisi balap.

Kegiatan seleksi yang bertajuk “GT Academy” itu udah melahirkan 21 pembalap pro sejak periode 2008-2016. Satu-satunya perwakilan Asia yang lolos tahap seleksi hingga jadi pro adalah perwakilan Filipina, Jose Gerard Policaripio di GT Academy 2015.

3. “SimCity”

via Istimewa
Penampakan “SimCity 5″(Sumber: Istimewa)

Rilis pertamama kali sejak 1989, “SimCity” dikenal sebagai game simulasi pembangunan kota yang menantang pemainnya buat seimbangin antara tata kota, fasilitas publik, jumlah area hijau, dan pastinya budget dalam ngebangun kota.

Semua data kota SimCity nantinya bisa diliat dalam format yang mudah dimengerti meski engga memiliki dasar-dasar ilmu statistik atau tata kota yang bisa diperoleh setelah pendidikan sarjana bertahun-tahun. Data akurat-tapi-gampang-dibaca itu pada akhirnya diadopsi di London, Inggris dan New York, AS.

Mantan pakar teknologi Mozilla ngebangun sebuah program bernama ViziCities yang bisa ngeliat semua data ibu kota Inggris itu semudah ngeliat data SimCity. Data yang jadi fokus utamanya adalah soal kriminalitas, transportasi, sanitasi, dan kesehatan.

4. “Full Spectrum Warrior”

via Istimewa
Penampakan simulasi perang game “Full Spectrum Warrior.” (Sumber: Istimewa)

Di Indonesia jarang kedengeran, tapi “Full Spectrum Warrior” (FSW) populer di Amerika Serikat, terutama di kalangan tentara. Game yang dirilis Pandemic Studios tahun 2004 ini ditunjuk Angkatan Darat AS sebagai game simulasi perang yang harus dipelajari tentara-tentara baru.

Kenapa? Soalnya, mereka ngebuat game perang serealistis pertempuran yang dialami tentara AS. Lain dari tentara di game perang “Call of Duty” yang punya peluru tak habis-habis, tentara di game strategi itu perlu bergerak, berperilaku, dan bereaksi layaknya tentara ngelawan musuh sporadis. Sebuah peluru saja bisa berakibat fatal.

5. “Bravemind Project”

via Istimewa
Tentara AS sedang menjalankan sesi terapi “Bravemind.” (Sumber: Istimewa)

Sementara game di atas dimanfaatin langsung oleh berbagai organisasi, game “Bravemind Project” merupakan permainan VR yang khusus diciptain para ahli dari Institute for Creative Technologies, Universitas California. Fungsinya bukan buat seru-seruan doang, tapi buat terapi trauma.

Project itu kini dipakai Angkatan Darat AS buat mengobati veteran-veteran yang trauma pasca perang. Di dalam laboratorium, para pasien dipakaikan perangkat VR dan earphone kualitas tinggi sambil memegang senjata tanpa peluru.

Ketika game itu mulai, mereka perlu memberanikan diri melihat adegan perang mulai dari yang ringan hingga yang paling membahayakan nyawa. Tujuannya, supaya para veteran bisa senantiasa menghadapi ketakutan mereka dalam lingkungan aman, tidak perlu turun lagi ke medan perang. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.