Rabu, 27 Januari 2021

Genmuda – Film “The Foreigner” garapan sutradara Martin Campbell menarik bukan cuma karena berisi akting realistis dan aksi laga menegangkan. Plot kental yang diwarnai intrik politik mendalam juga patut diacungi dua jempol.

Indonesia kembali dapet keistimewaan karena tayangin film ini awal Oktober, sementara para movie goers Amerika Serikat harus nunggu sampe 13 Oktober untuk menontonnya. Belum tayang aja, popularitas filmnya cenderung naik.

Karya adaptasi novel thriller berjudul The Chinaman karya Stephen Leather, tahun 1992, itu berlatar belakang kerusuhan super besar sejumlah kelompok yang ingin memerdekakan Irlandia Utara dari Pemerintahan Inggris. Tujuannya, supaya bersatu sama Irlandia yang merdeka lebih dulu.

Baru mulai langsung drama

Dok. SR Media
Quan (Chan) sedih berat atas kejadian yang menimpa anak terakhirnya. (Dok. SR Media)

David Marconi selaku penulis naskah film gak buang-buang waktu berharga. Rentetan kejadian pada 10 menit pertama berisi adegan kunci yang pengaruhi keseluruhan cerita, bukan cuma ngenalin karakter-karakter penting.

Seorang bapak bernama Quan Ngoc Minh (Jackie Chan) sedang nganter anak perempuan terakhirnya, Fan (Katie Leung si Cho Chang di film “Harry Potter”) ke sebuah toko baju formal. Cewek yang periang itu butuh dress cantik buat pesta akhir tahun ajaran.

Sepanjang perjalanan, mereka ngomongin sambil becanda tentang cowok yang berencana dampingi Fan ke pesta dansa tersebut. Kekhawatiran dan sifat protektif Quan terhadap anaknya keliatan pada adegan-adegan itu.

Dok. SR Media
Quan sedang mengintai “buruannya.” (Dok. SR Media)

Saat tiba di toko baju, Fan turun duluan sebelum bokapnya selesai parkir mobil. Ketika bokapnya sedang parkir, sebuah bom meledak, menewaskan sejumlah orang, termasuk Fan salah satunya. Suasana ceria berubah jadi kelam. Pelakunya kabur entah ke mana.

Sejak saat itulah, Quan berusaha mati-matian memperoleh keadilan. Sebagai warga biasa, doi cuma bisa mendatangi kantor polisi dan Wakil Perdana Menteri Liam Hennesy (Pierce Brosnan, mantan pemeran James Bond) untuk memohon pengusutan tuntas kasus terorisme tersebut.

Proses hukum yang terhalang intrik politik akhirnya memancing Quan mencari keadilannya sendiri. Dia menggunakan setumpuk pengalaman perang yang telah dikubur dalam-dalam.

Cerita yang “Eropa banget”

Dok. SR Media
Quan (Chan) bertamu ke kantor Hennesy (Brosnan). (Dok. SR Media)

Keputusasaan Quan nyari kebenaran terasa konsisten dari awal hingga akhir film, seperti halnya sifat tokoh-tokoh lainnya. Perubahan sifat yang dimunculin beberapa karakter terjadi secara perlahan, tanpa ada momen “aha” lalu sifatnya berubah drastis kayak tokoh utama film Hollywood pada umumnya.

Karakter Quan yang merupakan tokoh utama pun ditampilin apa adanya, gak kayak aktor superhero. Doi tua. Jadi, gerakannya relatif lambat dan staminanya terbatas. Karena itulah, doi selalu kesulitan saat hadapi banyak musuh.

Liam Hennessy yang merupakan seorang politikus berpengaruh besar pun nunjukin sisi manusianya. Meski kekuasaannya besar (banget), doi tetep punya rasa takut yang mendalam dan rapuh.

Latar belakang yang kurang ‘terceritakan’

Dok. SR Media
Liam dan para pengawalnya. (Dok. SR Media)

Latar belakang tentang kerusuhan antara kelompok Irlandia dengan pemerintah Inggris yang merupakan bagian penting malah gak terceritakan dengan jelas. Kecuali punya pemahaman dasar mengenai sejarah konflik Irlandia-Inggris, penonton dipaksa menebak intrik yang sesungguhnya terjadi.

Sayangnya, informasi yang terkandung dalam dialog itu pun terbilang samar. Sehingga, sulit banget ngertiin pesan sejarahnya, apalagi nyatuin pecahan-pecahan informasi itu jadi gambaran utuh mengenai kondisi sosial dan politik film.

Karena naskah asli dari novel dibuat sama orang Inggris, wajar kalo akhirnya terkesan narsis. Misalnya, kepolisian Inggris ditampilin serba kuat, cepat, dan taktis. Sementara itu, orang Irlandia digambarin kayak para Mafia Irlandia di film “Black Mass” (2015).

Mereka pemabuk, licik, dan pastinya bengis. Padahal, aslinya gak gitu. Coba aja liat kelakuan suporter bola Irlandia. Dalam berbagai video, mereka emang sering muncul dalam keadaan mabok. Tapi, mereka cuma becanda. Bukannya ngerusuh.

Meski ada kritik, Genmuda.com masih berpegang pasa pendirian awal: film ini direkomendasiin banget. Kalo gak percaya, coba liat trailernya dulu, nih.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.