Minggu, 22 September 2019

Genmuda – Masa liburan buat anak sekolah sebentar lagi akan selesai, dan waktunya mereka buat kembali ke sekolah. Bahkan beberapa sekolah udah menyelesaikan masa liburannya minggu lalu, dan Senin kemarin (10/7) para siswa udah diharuskan masuk kembali.

Tapi, anak yang baru masuk ke tingkatan sekolah baru yaitu dari SMP dan SMA banyak yang mengalami masalah pendaftaran. Entah karena terbentur peraturan baru tentang zonasi atau nama mereka tersingkir di web PPDB ketika mendaftar secara online.

Peraturan penerimaan siswa baru dari Kemendikbud

(Sumber: Tumblr)

Yap, berdasarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru yang dikeluarkan sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, tahun ini para siswa diharuskan mendaftar sesuai dengan zonasi, atau berdasarkan radius zona rumah peserta didik ke sekolah.

Jadi, sekolah pasti menerima 90% siswa yang rumahnya berjarak dekat dekat dengan sekolah tersebut. Sedangkan 5% siswa yang diterima adalah mereka yang masuk jalur prestasi, sisanya dikhususkan buat siswa yang mengalami perpindahan domisili.

Perubahan kebijakan ini diakui sebagai salah satu cara buat pemerataan kualitas pendidikan di tiap sekolah. Jadi udah gak ada lagi istilah sekolah favorit, karena sekarang semua sekolah berisi murid dengan beragam kualitasnya, begitu kata Mendikbud Muhadjir Effendy.

Peraturan baru ini bukan tanpa hambatan loh…

via: Metro.co.uk

Banyak orang tua murid yang mengeluhkan sistem baru ini karena dinilai gak adil. Orang tua ngerasa, seharusnya anak mereka bisa masuk ke sekolah impian dengan nilai akhir (NEM) yang besar. Tapi karena adanya peraturan ini anaknya jadi harus sekolah di sekitar rumahnya.

Ada juga yang komplain karena meskipun nilai anaknya tinggi, tapi malah justru gak masuk ke sekolah idamannya. Hal ini dirasain sama Purba yang tinggal di Ciledug. Meskipun punya NEM yang cukup tinggi yaitu 25,45, Purba gak bisa masuk SMP Negeri yang ia mau.

“Anehnya mengapa anak lain ada yang NEM nya 19, 22, 23, 24 saja bisa masuk, diterima. Mengapa anak saya NEMnya tinggi tidak diterima? Ini apakah yang upgrade software ada yang bermain?,” tutur Sudarmanto, ayahnya Purba yang dilansir dari JawaPos.com.

Ada yang kelebihan, ada juga yang kekurangan siswa

Related image
(Sumber: Tempo.co)

Buat sekolah favorit pasti bakal gampang banget menjaring murid baru. Gak usah cape-cape nyari dan nunggu, karena mereka pasti akan dicari sama siswa. Bahkan banyak juga sekolah yang akhirnya kelebihan pendaftar, sampe akhirnya kasus terdepaknya beberapa murid pun terjadi, kayak kasusnya Purba di atas.

Gak cuma kebanyakan, tapi beberapa sekolah justru kekurangan siswa. Emang sistem zonasi ini diterapkan buat menghapus stigma ‘sekolah unggulan’ dan menyamaratakan semua kualitas sekolah negeri di daerah tersebut, tapi imbasnya beberapa sekolah justru jadi sepi pendaftar.

Contohnya kayak apa yang terjadi di SMAN 2 Banjarmasin. Sekolah itu justru mengalami kekurangan calon siswa, jadi mungkin siswa yang nilainya di bawah rata-rata akan dimasukin juga.

“Jadi, penerapan sistem zonasi ini tetap diberlakukan. Namun bagi sekolah yang ternyata kekurangan siswa, bisa saja menerima siswa di luar zonasi sebagai kebijakan tambahan,” kata Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Selatan, Yazidi Fauzie kepada jejakrekam.com.

Tapi kata Pak Menteri, kekisruhan ini wajar kok

via: giphy

Namanya juga kebijakan baru, pasti ada aja kurangnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy bilang kalo kesemerawutan proses PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru adalah hal yang wajar. Beliau bilang ini terjadi karena masih banyak yang belum paham sama sistem tersebut.

“Ya ini kan baru tahun ini kita terapkan. Jadi di lapangan pasti masih banyak kendala,” kata Muhadjir di Labschool UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/7) lalu.

Dilansir dari Detik, Menteri Muhadjir akan mengirimkan edaran ke sekolah-sekolah buat menyikapi permasalahan itu. Beliau menegaskan belum ada sanksi bagi sekolah yang masih mengalami masalah dalam PPDB.

“Nanti kita akan minta edaran dari Kementerian untuk menyikapi hal-hal di atas. Supaya luwes dulu, tidak kaku-kaku. Untuk sekarang ini belum ada sanksi yang diberlakukan,” katanya. (sds)

 

 

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.