Senin, 25 Juni 2018

Genmuda – Daur ulang “Tomb Raider” bukan cuma dialami game tapi juga filmnya. Sejatinya, Sutradara Roar Uthaug menggarap film “Tomb Raider” sebagai adaptasi dari game remake keluaran 2013, sementara franchise Tomb Raider ada di dunia game sejak 1996.

Biar objektif, mari kita bersama singkirkan gambaran akan game Tomb Raider yang penuh petualangan dan teka-teki itu dari benak. Soalnya, film “Tomb Raider” (2018) lain banget.

Ceritanya mirip game

via MGM Pictures
Adegan ikonik Tomb Raider. (Sumber: MGM Pictures)

Dikisahkan mirip gamenya, Lara Croft (Alicia Vikander) adalah cewek muda yang menolak manfaatin warisan ayahnya. Hidup sederhana dan struggle, doi bekerja sebagai kurir sepeda di London, Inggris.Namun, doi gak bisa tinggalkan asal-usulnya. Teka-teki, misteri, dan arkeologi tetap menarik minatnya seperti sejak kali pertama tiga hal itu dikenalin oleh sang ayah, Lord Richard Croft (Dominic West), zaman Lara bocah.

via MGM Pictures
Lu Ren (tengah) disekap tim penjahat. (Sumber: MGM Pictures)

Keberadaan sang ayah entah di mana. Dia ninggalin Lara sejak remaja. Katanya, mau menyelidiki sesuatu dan berjanji akan cepat pulang. Nyatanya, dia gak kunjung pulang saat Lara menginjak usia 20-an tahun.

Kepepet masalah dana, Lara diminta tandatangani surat kematian sang ayah. Tapi, doi menolak lantaran percaya Lord Richard masih hidup. Lara akhirnya menelusuri jejak perjalanan sang ayah berdasarkan teka-teki arkelogis pemberian Lord Richard.

Dalam perjalanan ke lokasi berupa Pulau Yamatai di perairan Jepang, Lara bertemu Lu Ren (Daniel Wu). Keduanya pun melanjutkan perjalanan bersama sambil mengejar misi masing-masing dan menghindari ancaman Mathias Vogel (Walton Goggins).

Momen menggugah terjadi di London

via MGM Pictures
Lara kala jadi kurir bersepeda. (Sumber: MGM Pictures)

Rangkaian adegan yang nampilin kehidupan Lara sebagai rakyat jelata di London adalah momen-momen paling menggugah. Film itu sajiin dengan cermat kehidupan para kurir bersepeda.

Berbagai cengcengan terlontar sehingga penonton merasa tergugah. Suka-duka pekerja yang sering dipandang sebelah mata dan disalahartikan sebagai pemuda nakal itu pun tergambar dengan nyata.

Lebih seru lagi, semua penonton diajak mengenal permainan kejar-kejaran yang menentukan kecepatan dan ketangkasan kurir bersepeda. Yaitu, permainan Fox Hunt.

Petualangannya dapet, teka-tekinya kurang

via MGM Pictures
Lara Croft mengamati camp dari jauh. (Sumber: MGM Pictures)

Petualangan Lara Croft pun berjalan seru. Ada beberapa momen mengelak dari kematian yang mendebarkan, ada juga momen perkelahian tangan kosong yang memukau berkat jurus pitingan akrobatik ala mixed martial arts. Adegan laganya masih diterima nalar, kok.

Meski begitu, ada beberapa adegan di luar nalar yang muncul dalam filmnya. Misalnya, saat loncat jarak jauh atau saat Lara masih sanggup berlari, manjat, dan loncat meski perutnya baru tertancap kayu (atau batu) dengan diameter sebesar jarinya.

Poin yang mengkhawatirkan justru timbul pada segala hal yang menyangkut teka-teki arkeologis, padahal itu adalah tumpuan game Tomb Raider dari zaman baheula.

Teka-teki yang sekilas doang

via MGM Pictures
Adegan Lara memecahkan puzzle di Yamatai. (Sumber: MGM Pictures)

Gini, gini. Kali pertama muncul, lempengan puzzle yang menjadi teka-teki di film itu mendapat perhatian penuh. Beberapa kali benda asal Jepang itu tampil di tengah-tengah titik fokus sementara pemeran utamanya nge-blur atau gak terlihat sama sekali.

Sayang satu juta sayang, proses pemecahan teka-teki dalam puzzle itu sama sekali gak diceritain di film. Tau-tau dan tiba-tiba, cenderung kayak gak sengaja, Lara Croft berhasil membukanya. That’s it. Gitu doang.

Benar-benar lain dari berbagai film Indiana Jones yang nampilin proses pencarian segala cara yang dilakuin Prof Jones buat memecahkan misteri arkeologis dan menghindari perangkap kuno.

Jalan pikiran Lara Croft saat mecahin puzzle itu pun gak terjelaskan. Lain dari film “National Treasure” (2004) yang secara spesifik ceritain segala hal terkait pemecahan teka-teki arkeologis yang tersirat di otak Benjamin Franklin Gates.

Kesimpulannya, film Tomb Raider is just another action movie yang seting tempatnya ada di hutan dan goa pulau terpencil. Gak mengecewakan, tapi juga gak menghebohkan. Jadi, yah, lumayan aja buat Genmuda.com.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.