Sabtu, 24 Oktober 2020

Genmuda – Vin Diesel kembali mencoba peruntungannya sebagai superhero dalam film terbaru berjudul “Bloodshot”. Kali ini ia diceritakan menjadi seorang pemeran utama yang mengalami fase jatuh bangun dalam hidupnya.

Dibumbui oleh sedikit drama percintaan film ini merupakan adaptasi dari komik yang berjudul serupa. Kawan Muda kepo dengan filmnya? Langsung aja simak review dari Genmuda.com berikut ini!

Orang baik yang diperalat

©Sony Pictures/2020

Intro dibuka oleh aksi heroik Ray Garrison (Vin Diesel) yang berusaha menyelamatkan sandera dari sekapan teroris. Tipikal film one man show, Ray dengan mudah mengalahkan musuhnya dengan satu aksi jitu sekaligus menyelesaikan misinya.

Hidupnya sebagai seorang tentara Amerika Serikat terbilang lempeng-lempeng aja. Jago menjalankan misi, dikagumi rekan-rekannya, begitu pulang pun dijemput oleh istri cantik pula. Siapa yang gak iri coba? Oke baik.

Namun cerita happy itu gak berlangsung lama. Mendadak kehidupan Ray yang damai berubah menjadi mimpi buruk. Ia dan istrinya pun harus dibunuh oleh cowok misterius yang ingin mengorek informasi dari dirinya.

Usai kejadian mengerikan tersebut Ray tiba-tiba bangun dengan keadaan tak sadarkan diri. Ia cuma diberikan informasi bahwa dirinya dibangkitkan lagi dari kematian dengan bantuan nanoteknologi sekaligus menjadikan dirinya memiliki kekuatan super untuk menyembuhkan diri dengan cepat.

Seiring berlajannya waktu ingatan Ray akan pembunuhnya dan sang istri mulai kembali. Dari situlah teka-teki konspirasi mulai disajikan hingga akhir film. Siapakah orang yang harus ia percayai dan siapakah yang mengkhiantinya?

Visual oke dengan cerita yang lemah

©Sony Pictures/2020

Tema superhero atau supervillain mungkin bukan sesuatu yang baru buat disajikan. “Bloodshot” sendiri sejatinya adalah karakter protagonis. Tapi jujur aja deh, dari sekian banyak film superhero yang udah atau mau tayang, pasti faktor nama besar tokoh dan cerita yang orisinil bakal jadi pertimbangan penonton.

Inilah yang penulis rasa menjadi titik lemah “Bloodshot”. Walau lo disajikan oleh aksi khas film-film Vin Diesel yang mengandalkan otot dan ‘tabrak-tubruk’ dalam aksinya, namun film ini terasa sempit untuk dinarasikan secara visual.

Paham sih jika Dave Wilson ingin nonjolin sosok Ray yang super kuat kepada penonton. Tapi lantaran mimik Vin Diesel yang gitu-gitu aja setiap main film, cerita filmnya malah bikin akting sang aktor kelihatan biasa banget. Semuanya cuma dibikin fokus ke tokoh utama, tanpa menampilkan sebab-akibat dari cerita yang dibangun.

Hasilnya lo mungkin bakal ngerasa jika skenario garapan Jeff Wadlow dan Eric Heisserer terkesan males buat mengembangkan latar cerita dan peran antagonis di film ini. Gak terlalu wah emang, tapi buat penulis mungkin sedikit jenuh menontonnya.

Untungnya film ini masih terbantu oleh dua faktor. Pertama visual efek yang cukup manjain mata lo. Mulai dari efek slow motion adegan action hingga polesan pertarungan dengan efek ledakan sana-sini. Kedua lewat akting Lamorne Morris sebagai hacker jenius yang cukup konyol dan kocak dalam berbagai kesempatan.

Kesimpulan

©Sony Pictures/2020

Diprediksi berpotensi menelurkan sekuel, debut “Bloodshot” mungkin gak terlalu menarik buat sebagian orang. Tanpa harus tau atau membaca komiknya terlebih dahulu, idealnya sebuah film superhero gak perlu ngejelimet dan kebanyakan basa-basi. Sayangnya masih banyak dialog maupun karakter yang gak berkesan bagi penonton.

Kalo lo merasa gak setuju dengan penilaian Genmuda.com di atas, boleh loh tulih di kolom komentar. Oia, filmnya tayang mulai hari ini, Rabu (11/2) di Indonesia. Nih, potongan trailernya biar lo gak penasaran banget!

Comments

comments