Kamis, 20 Januari 2022

Genmuda – Sebagai pembuka, penantian Cinta (Dian Sastrowardoyo) selama 14 tahun yang selama ini digembor-gemborkan akhirnya terjawab: ternyata bukan 14 tahun. Jadi, pada 2006 silam diceritain Cinta pernah datang ke New York bersama keluarganya dan bertemu dengan sang pujangga, Rangga (Nicholas Saputra). Namun, Mira Lesmana sebagai penulis skenario berhasil memanfaatkan celah tersebut.

Pertemuan itulah yang melandasi alur cerita AADC 2 dan menjawab hampir semua pertanyaan yang ada. Klasik sih, ayah Cinta berharap Rangga cepat menyelesaikan pendidikannya di New York dan kembali ke Tanah Air. Di lain sisi, Rangga yang kini telah ditinggal pergi ayahnya mengalami banyak kedala sebagai perantau New York.

Rangga hanya manusia biasa

Rangga mengaku terpaksa bekerja serabutan demi melanjutkan pendidikan yang ditempuh. Terseok-seok, jauh dari Tanah Air, tanpa satu orang pun yang bisa meringankan punggungnya. Namun itulah New York.

Seperti yang kita ketahui, kota multi kultural yang menjadi impian setiap orang itu bukan medan yang mudah. Anggapan yang tertanam selama ini bahwa Rangga berasal dari keluarga mapan, mampu, dan kaya raya telah ditepis. Rangga hanya laki-laki biasa, namun dengan mimpi yang besar, dan hati kecil yang ia bugkus untuk seseorang nan jauh di sana. *tsah!

(Sumber: AADC2)

Pertemuan Rangga dengan ayah Cinta yang membuktikan bahwa Rangga bukan lelaki brengsek. Pun pula sang Ayah. Rangga memutuskan untuk menjauhi dan mengakhiri hubungan jarak jauhnya dengan Cinta. Ia melayangkan surat yang berisi tulisan tangannya, yang dibalas air mata kekecewaan Cinta setelah membacanya.

Cukup sampai di adegan tersebut, benang merah dari film pertama sudah cukup terjawab. Penantian Cinta bukan 14 tahun. Kita lah yang menantikan. Hilangkan meme-meme yang menerangkan ratusan purnama atau apapun bentuknya. Dan kelanjutan film kedua dimulai dari masalah tersebut. Titik.

Cerita sebenarnya diawali pertemuan Cinta dan para sahabatnya, yakni Maura (Titi Kamal) yang telah menikah dan sibuk dengan peran baru sebagai ibu muda, Milly (Sissy  Priscilla) yang sedang mengandung, dan Carmen (Adinia Wirasti) yang muncul dengan kisah pilu. Di mana dirinya baru aja lepas dari jeratan narkotika setelah menjalani rehabilitasi dari obat-obatan terlarang.

(Sumber: Miles Film)

Satu yang mencengangkan, ternyata Cinta telah bertunangan dengan kekasih barunya bernama Trian (Ario Bayu), seorang pengusaha muda yang sifatnya berbanding terbalik dengan Rangga. Sementara, di New York Rangga masih setia duduk di coffee shop miliknya, berpuisi, dan melempar pandangan kosong.

Jika AADC pertama adalah konsumsi remaja, AADC 2 lebih menunjukan sebuah realita yang umumnya terjadi dalam sebuah hubungan. Membumi. Engga berlebihan. Para tokoh ditampilkan dengan pas, begitu pula cerita yang disajikan.

Seperti pepatah, ‘Karena tulang rusuk dan pemiliknya tidak pernah tertukar’, secara ajaib, Cinta dan Rangga dipertemukan kembali di Yogyakarta. Cinta dan sahabatnya pergi ke Yogyakarta dengan tujuan untuk berlibur, sementara Rangga dihadapi perasaan rindu terhadap sang ibu, yang selama ini telah meninggalkan dirinya.

Berjalan lambat, seolah ingin menjawab keinginan penonton

Kurang lebih 30 menit awal perut kita dipaksa menggelitik, bibir pun tak kuasa tertarik ke atas, atau bahkan tertawa. Kerinduan yang tertimbun selama ini, ya, akhirnya terjawab. Saya senang bisa melihat wajah-wajah mereka kembali. Namun, dipertengahan film berbagai konflik baru muncul.

Pengembangan karakter dari masing-masing tokoh sangat terlihat. Cinta di usia yang sudah bukan remaja lagi, masih menyimpan senyum lugu dan perilaku kekanak-kanakan. Seakan kita masih tetap dihadapi dengan Cinta remaja. Mengagumkan.

(Sumber: Miles Film)

Lalu Carmen misalnya, kali ini ia hadir sebagai pengganti Alya, yang mampu menguasai sisi sentimentil seorang Cinta. Sikap garang dan menakutkan dari dirinya memudar. Carmen juga memiliki sisi rapuh, yang ditunjukan Adinia Wirasti dengan sangat halus.

Rangga sendiri udah engga semisterius film pertama. Namun disinilah kuncinya. Peran yang dijalani Nicholas Saputra lebih melebar. Rangga mulai menjemput bola dan berusaha memperjuangkan satu-satunya orang yang ia cintai.

Tanpa Yogyakarta, bagi saya yang sudah menonton, tak bisa membayangkan lagi bagaimana jika AADC 2 diproduksi di kota lain. Rasanya Yogyakarta memang sudah pas sebagai saksi berseminya asmara Cinta dan Rangga.

Jikalau terjadi di Jakarta, mungkin alur yang hadir adalah Cinta sebagai cewek metropolis dan pertemuan mereka terjadi karena menghindari macet atau berteduh di bawah halte. Apanya yang indah? Iya kan?

Soundtrack masih digawangi oleh pasangan musisi yang sama, yakni Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Bukan Melly dan Anto rasanya kalau musik yang mereka hasilkan engga terngiang di telinga kita setelah keluar dari pintu bioskop.

Beberapa lagu di film pertama masih terbawa, seperti ‘Suara Hati Seorang Kekasih, ‘Denting’, dan ‘Ingin Dicintai dan Mencintai’, namun dengan aransemen yang lebih kekinian. Lagipula, lagu tersebut rasanya susah dipisahkan sama kisah Cinta dan Rangga.

‘Ada Apa Dengan Cinta? 2’ memang plot yang berjalan lamban. Film lebih menyoroti perjalanan semalam Cinta dan Rangga di Yogyakarta. Engga ada yang salah, dan saya rasa udah pas. Semua dibayar lunas dengan interaksi yang terjadi di antara mereka berdua.

Penasaran kayak gimana? Nonton langsung aja filmnya ya di Bioskop! Happy watching!

(sds)

Comments

comments

Bobi Brilyan Bastenjar
Valar Morghulis