Selasa, 19 Maret 2019

Genmuda – Perjalanan hidup seseorang emang engga ada yang bisa menebak. Pun pada kisah petualangan hidup seorang Saroo Brierley yang terpisah ribuan kilo meter dari rumah dan orang tua aslinya.

Kisah inspirasif Saroo sebenernya pernah ditulis dalam buku yang berjudul “A Long Way Home” (2014), namun baru di tahun 2016 lah novel tersebut diadaptasi dalam bentuk naskah oleh Luke Davies dan disutradari oleh Garth Davis. Film yang rilis di Australia sejak 19 Januari ini pun juga menjadi pembuka di acara FSAI 2017, Kamis (26/1) di Jakarta.

Haru dan penuh perjuangan

via: Google
Saroo kecil (Sunny Pawar) yang mengikuti kakaknya, Guddu (Abhishek Bharate) (Sumber: Istimewa)

Di awal film Kawan Muda bakalan ketemu sama sosok Saroo kecil (Sunny Pawar) yang mengikuti kakaknya, Guddu (Abhishek Bharate), yang tingga di Ganesh Talai, India. Layaknya brother relationship. keduanya saling kerja serabutan untuk mendapatkan makanan. Bahkan kedua rela mencuri batu bara dari atas kereta barang yang membahayakan nyawa mereka.

Suatu hari Saroo memaksa ikut bekerja di malam hari bersama Guddu. Namun, karena engga terbiasa, bocah kecil itu akhirnya mengantuk dan disuruh untuk beristirahat di sebuah peron. Ketika bangun, Saroo malah panik engga menemukan sang kakak, akhirnya ia masuk ke dalam kereta dan memabawanya ke Calcutta.

Setelah itulah petualangan bocah itu dimulai, mulai dari hidup luntang-lantung, melewati perdagangan anak di India, hingga masuk ke panti sosial. Pokoknya bener-bener bikin mata berkaca-kaca deh, Kawan Muda.

Beruntung setelah itu Saroo bertemu dengan sepasang suami-istri asal Tasmania, Australia, Sue (Nicole Kidman) dan John Brierley (David Wenham). Keduanya lantas membesarkan bocah malang tersebut di Australia dan membuatnya semakin jauh dari rumah dan keluarga aslinya.

Ingatan kecil sebagai petunjuk

via: Google
(Sumber: Istimewa)

Setelag 20 tahun berlalu, Saroo dewasa (Dev Patel) hidup berkecukupan, punya pacar Lucy (Rooney Mara), dan kuliah dibawah naungan PBB otomatis membuat ia bertemu dengan banyak teman dari India. Hal inilah yang tanpa sadar mendorong ia untuk mencari tau asal usul dirinya.

Bermodal sedikit ingatan di masa kecil, ia cuma berusaha mencarinya rumahnya lewat Google Earth. Akan tetapi itu semua belum cukup untuk membawanya pulang. Saroo masih harus melalui melawan pergolakan batin dalam dirinya dengan orang tua angkatnya.

Singkatnya kamu bisa ngelihat bagaimana seseorang bisa saling menyayangi satu sama lain tanpa memandang perbedaan ras, suku, agama dan bahasa. Dan “Lion” berhasil mengangkat itu secara mulus dan rapih dalam keseluruhan cerita film.

via: Kedutaan Besar Australia
Saroo Brierley dalam konfrensi pers pembukaan Festival Sinema Australia Indonesia Kamis (26/1) di XXI Senayan City, Jakarta (Sumber: dok.Kedutaan Besar Australia)

Dan seperti pesan Saroo asli kepada semua media saat pembukaan FSAI 2017, “Walau semua orang berkata (macam-macam), syukuri saja hidupmu yang sekarang. Saya tetap berusaha ingin memberi tau keluarga saya bahwa saya masih hidup dan saya baik-baik saja.”

Tentunya kamu engga bakalan nyesel buat nonton film yang diangkat dari kisah nyata ini. Buat yang masih penasaran, tonton aja dulu trailernya di bawah ini.

Comments

comments

Al Fanny Panestika
Wannables, penyuka ice cream dan colak colek Nutela