Sabtu, 31 Oktober 2020

Genmuda – Geregetnya film “Spider-Man: Homecoming” terasa banget mulai dari masa promo hingga kamu keluar bioskop dan ngobrolin filmnya ke orang-orang. Gak percuma franchise itu di-reboot buat kesekian kalinya. Dan, gak sia-sia juga kerjasama penuh tarik ulur Marvel Studios dengan Sony Pictures.

Biaya sekitar 175 juta dolar AS (sekitar 2,3 triliun rupiah) yang digelontorin pun berubah jadi film dengan aktor-aktor tepat casting, efek CGI yang pas, dan naskah lucu tapi bikin mind-blown. Harus diakui, seperti inilah idealnya film “Spider-Man.” Sori banget, ya penggemar Tobey Maguire dan Andrew Garfield.

Penjahat yang beralasan bagus untuk jadi jahat

dok. Columbia Pictures
Michael Keaton is The Vulture! (Dok. Columbia Pictures)

Sekitar 5-10 menit filmnya dibuka sama origin story sosok antagonis kali ini. Jauh sebelum jadi The Vulture, Adrian Toomes (Michael Keaton) gigih bekerja sebagai kontraktor. Doi rela ngeluarin modal besar sampai gak punya uang sepeserpun demi memenuhi request pemerintah.

Tim kontraktornya diminta bersihin New York dari bangkai alien, rongsokan pesawat luar angkasa, dan puing-puing bangunan pasca perang “The Avengers” (2012). Lagi enak kerja, didatangilah doi sama anak buah Tony Stark (Robert Downey Jr).

Katanya, doi diputus kontrak tanpa pesangon karena Pemkot NY lebih pengen Stark Industries yang ngebersihin kota. Udah gak balik modal, gak dibayar pula. Adrian Toomes marah besar. Saking marahnya, doi nekat manfaatin teknologi alien buat ciptain jubah The Vulture dan senjata super yang kemudian dijual ke para penjahat.

Sementara The Vulture dan komplotannya beraksi diam-diam, Peter Parker (Tom Holland) dengan pengalaman minimnya sebagai Spider-Man berusaha ngebersihin Kota NY dari penjahat. Lama-lama, doi berkonfrontasi juga dengan geng The Vulture dan dimulailah narasi utama “Spider-Man: Homecoming.” Eng-ing-eng.

Tepat casting

dok. Columbia Pictures
Ned (Jacob Batalon) and Parker (Tom Holland) (dok. Columbia Pictures)

Pembaca komik “Spider-Man” pasti paham kalo Peter Parker tuh anak pinter banget yang super canggung saat bersosialisasi sama orang. Begitu memasang Spidey Suit, doi berubah jadi lebih pede ngomong dan lancar ceng-cengin para penjahat yang ditumpasnya. Seperti itulah akting Tom Holland di film.

Semangatnya yang tinggi buat buktiin pada dunia kalo doi bisa mengubah keadaan lingkungan sekitarnya juga terasa mirip sama semangat anak-anak muda kekinian. Sah-sah aja kalo Peter Parker/Spider-Man kali ini disebut relatable dengan keadaan sesungguhnya.

Terus, dengan ngeliat Spider-Man sering gagal karena kecerobohannya, para penonton muda pasti inget sama kecerobohan-kecerobohan yang pernah mereka lakuin akibat terlalu ngotot dan pengen buktiin diri.

via spidermancrawlspace.com
Liz (Laura Harrier) si senior lucu menggemaskan. (Sumber: spidermancrawlspace.com).

Adrian Toomes apa lagi. Pekerja bermodal pas-pasan itu sungguh ngegambarin mayoritas kondisi para pekerja dunia nyata. Yaitu, para pekerja yang rela ngelakuin apapun di saat kritis supaya doi dan keluarganya tetap bisa makan, punya tempat tinggal, dan berpakaian layak. Michael Keaton nampilin sosoknya dengan pas.

Ned (Jacob Batalon), sahabat Peter Parker, juga ditampilin sebagai sosok nerd yang canggung dengan kocaknya. Liz (Laura Harrier) keliatan menggemaskan sebagai cinta monyetnya Peter. Sementara itu, Michelle (Zendaya) yang maunya dipanggil MJ jadi orang antisosial yang curi-curi pandang ke Parker.

Tapi, kamu harus biasain diri ngeliat Tante May (Marisa Tomei) yang ditampilin masih relatif muda, cakep, dan terbilang seksi. Bukan Tante May yang sudah tua dan keibuan seperti film-film Spiderman sebelum ini.

Naskah kocak dan bikin mind-blown

via dok. Columbia Pictures
(Sumber: Columbia Pictures)

Melalui naskah yang dibuat keroyokan oleh Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna, dan Erik Sommers, penonton dibawa ngakak tapi terus langsung serius terus ngakak lagi. Sebuah roller coaster mood yang bikin betah nontonin filmnya.

Perubahan suasananya juga makin terasa berkat pemilihan soundtrack yang oke. Filmnya dimulai dengan themesong “Friendly Neighborhood Spider-Man” yang gak bisa dilupain dan diakhiri lagu punk “Blitzkrieg Bop” dari The Ramones. Itu, loh yang liriknya “Hey! Oh! Let’s Go!”

Sedikit celah kecil

dok. Columbia Pictures
Salah satu adegan aneh. Kok gak ada orang yang liat doi loncatin pager tinggi? (dok. Columbia Pictures)

Akan tetapi, ada celah kecil pada jalan cerita secara keseluruhan. Selepas memperkenalkan asal-muasal The Vulture, cerita tentang Peter Parker terasa lambat dan bikin deja vu. Sabar-sabar aja sampai adegan mind-blown di pertengahan film yang bikin beberapa penonton bergumam “what the f.”

Terus, kenapa juga judul filmnya harus ada kata “Homecoming” kalo adegan homecoming (pesta akhir tahun ajaran) cuma nampil sedikit dan sama sekali gak jadi plot utama filmnya. Ada yang tau alasannya?

Intinya, sih, penggemar superhero, terutama Spider-Man perlu banget nonton film yang satu ini. Karena Genmuda.com juga udah dibuat takjub, film ini pas banget buat menghibur kamu di awal minggu bulan Juli 2017. “Happy watching!”

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.