Selasa, 28 Juni 2022
Gaya HidupKesehatan

Kenapa sih Banyak Tokoh Besar udah Sukses tapi Masih Mau Bunuh Diri?

via istimewaKi-ka: Chris Cornell Soundgarden, Kurt Cobain Nirvana, dan Hideto X-Japan. Tiga tokoh besar yang tewas bunuh diri. (Sumber: Istimewa)

Genmuda – Chris Cornell yang wafat 17 Mei 2017 akibat gantung diri dalam sebuah hotel di Detroit, Amerika Serikat nambahin daftar seniman berbakat yang bunuh diri. Sylvia Plath pujangga Amerika tahun 1932, Kurt Cobain vokalis Nirvana tahun 1994, dan Hideto Matsumoto gitaris X Japan alami nasib yang sama.

Corey Taylor si vokalisnya band Slip Knot juga dikabarin pernah hampir bunuh diri. Sebuah studi di telegraph.co.uk, 17 Maret lalu bilang kalo pekerja kreatif, termasuk penulis, insan perfilman, dan pelukis punya kecenderungan bunuh diri empat kali lebih besar dari penduduk lain.

Kenapa ya? Steve Stack, direktur Pusat Penelitian Kasus Bunuh Diri AS, bilang kalo seniman punya ciri psikologis mirip korban bunuh diri pada umumnya. Mereka yang bekerja di bidang lain juga punya kecenderungan bunuh diri yang besar kalo ciri-cirinya kayak gini.

Perfeksionis

via tumblr.com
(Sumber: tumblr.com)

Orang yang perfeksionis gak bakalan hidup tenang saat tau karyanya gak dapet nilai sempurna. Saat kesempuranaan gak didapat, mereka gampang depresi. Saat depresinya tinggi, mereka jadi terpikir bunuh diri. Kalo engga percaya, cek aja biografinya Chris Cornell atau Kurt Cobain. Pasti mereka yang paling getol ngotot bikin lagu bagus. Bahkan guru perfeksionis aja ada yang bunuh diri.

Punya pengalaman di luar kebiasaan orang banyak

Sementara pengidap kelainan psikologis depresi karena pengalaman buruk yang dialaminya, para seniman depresi karena pengalaman buruk yang diimajinasikannya. Saking kuatnya, efek imajinasi negatif seorang artis sampai mempengaruhi kepribadiannya.

Selalu terancam pengangguran

via hernamesrachel.wordpress.com.

Jadi tokoh besar emang keliatan enak. Padahal mereka sama rentannya dengan seorang buruh kontrak. Sama-sama terancam pengangguran ketika diputus kontrak. Akibatnya, perlu kerja ekstra dan “ngejual jiwa” ikuti kata label rekaman atau klien, biarpun bertentangan sama kata hati. Bayaran mengkhianati diri sendiri kayak gitu emang menggiurkan karena beban mentalnya juga besar.

Gajinya gak nentu tapi kerjaan banyak

Akan tetapi, gak semua yang udah ngejual jiwanya dapet bayaran gede. Kalo job lagi sepi, ya siap-siap aja bayaran turun drastis sementara tagihan pajak, sewa tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari dateng gak gak berhenti.

Seperti yang dibilang di atas gak dialami pekerja seni doang. Para freelancer, pemilik start-up, hingga CEO perusahaan internasional yang kerjanya butuh kreativitas dan mengejar hasil perfek juga rentan bunuh diri.

Apa hikmah peristiwa itu?

via tenor.co

Seperti kata Paman Ben, pamannya Peter Parker/Spiderman, “With great power, comes a great responsibility.” Kalo kamu pengen jadi best of the best dalam bidang apapun, siap-siap hadapi tantangannya dan jangan terjerumus jurang buat mengakhiri hidup sebelum waktunya. Peace, Kawan Muda. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.