Sabtu, 5 Desember 2020

Genmuda – Tumbuh berkembang dan menjadi orang dewasa mungkin menjadi impian setiap orang. Namun, Kawan Muda pernah juga dong ngerasain kalau hidup engga selamanya harus berbelit pada masalah yang ada didalamnya. Sindiran inilah yang kemudian diangkat oleh film ‘The Little Prince’.

Diadaptasi oleh novel aslinya ‘Le Petit Prince’, karya penulis Perancis, Antoine de Saint-Exupery yang ngetop banget di abad ke-20. Novel fabel ini sudah diterjemakan lebih dari 250 bahasa asing, termasuk Indonesia. Oke, kalau dilihat dari prolognya, cerita ‘The Little Prince’ murni sebuah fabel (hewan yang bertutur seolah-olah adalah manusia), tapi soal tema yang diangkat ‘nyindir’ banget di kehidupan modern.

Melalui tangan Mark Osborne (sutradara Kung Fu Panda dan The SpongeBob Square Pants Movie), film animasi dari adaptasi novel Saint-Exupery terasa sangat mengagumkan. Kenapa saya bilang begitu? Kawan Muda bisa bayangin perpaduan film-film animasi milik Pixar dengan animasi stop-motion, ala-ala ‘Shaum the Sheep’, tapi efeknya menggunakan kertas. Hasilnya ada di ‘The Little Prince’.

The Little Girl dan Si Penerbang di film ‘The Little Prince’

Awal cerita dikisahkan The Little Girl (Mackenzie Foy) punya kehidupan yang luar biasa teratur dan padat. (Ya, hampir sama dengan anak sekolah di Indonesia yang pergi subuh pulang sore. Yaudah itu aja!) Sebagai orang tua, Sang Ibu (Rachel McAdams) juga punya ambisi supaya anaknya sukses di masa depan, makanya doi rela mengatur sejumlah jadwal hingga beberapa sebulan ke depan.

Setelah jenuh dengan rutinitasnya, The Little Girl bertemu dengan tentangganya, seorang Penerbang pensiunan (Jeff Bridges). Berbeda dengan tentangga lainnya, si Penerbang justru punya rumah dan kehidupan yang engga monoton dibandingkan dengan tetangga lainnya. Perkenalannya dengan Penerbang dilanjutkan dengan kisah ‘The Little Prince’ yang dikirimkan Penerbang lewat sebuah pesawat kertas.

Cuplikan film ‘The Little Prince’ yang tayang di Indonesia pada bulan Oktober 2015

Si Penerbang mengisahkan jika ia pernah terdampar di sebuh gurun dan bertemu dengan Little Prince (Paul Rudd). Lewat alur film, cerita ‘Little Prince’ kembali dinarasikan oleh Si Penerbang kepada The Little Girl. Namanya juga fabel, muncul juga karakter-karater ‘Si Rubah’ (James Franco) dan ‘Si Ular’ (Benicio Del Toro).

Saya kebutulan telah membaca novel aslinya, kendati tidak 100 persen mengikutinya mentah-mentah, tapi film animasi ini menawarkan narasi yang cukup unik, tanpa menghilangkan pesan, “kalau terkadang menjadi dewasa hanya membuat kita jadi terlalu serius dan melupakan hal-hal indah dalam hidup, yang biasa dipandang oleh anak kecil.”

Kalaupun ada sedikit kekurangan, mungkin terletak pada teks berbahasa Perancis yang justru mampu dimengerti secara langsung oleh The Little Girl –yang aslinya cuma ngomong bahasa Inggris sepanjang film, entah sebuah kebetulan atau disengaja– Menyadang karya sastra Perancis, tetap saja banyak anak-anak yang rada kebingungan menonton alur cerita film ini, namun hal itu engga terlihat maksa dan mempengaruhi dari pesan yang ingin disampaikan.

Perpaduan efek visual di ‘The Little Prince’

Singkatnya ‘The Little Prince’ menggambarkan betapa absurdnya dunia orang dewasa. Ketika orang tua memaksakan anaknya menjadi seperti yang mereka inginkan, hingga indikator kesuksesan yang dilihat dari harta dan jabatan. Tentunya anak-anak punya cara pandang berbeda melihat itu semua, film ini pun membuat Kawan Muda juga mikir dan kesindir loh. Selain jangan terlalu buru-buru menjadi dewasa jangan lupa juga buat bahagia ya. He-he.

 “Mereka sangat terburu-buru, apa yang mereka cari?” The Little Prince

Well, daripada makin banyak spoiler langsung saja Kawan Muda tonton sendiri film ‘The Little Price’.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.