Sabtu, 5 Desember 2020

Genmuda – Waktu. Sebuah fenomena yang efeknya engga bisa ditahan semua makhluk fana di bumi. Mutan dengan otak tercerdas dan badan terkuat yang nyelametin bumi dari berbagai perang besar pun kalah akan waktu.

Itu hal terpenting dan bukan spoiler yang perlu kamu pahami sebelum nonton “Logan” yang terbilang “sastra” banget. Kenapa? Karena, semua kisah yang melatarbelakangi kejadian di film itu sama sekali engga dijelasin secara tersurat.

Potongan-potongan percakapan tiap karakter dalam film perlu disusun supaya kamu paham alasan para mutan generasi X-Men lenyap dari dunia, Professor Charles Xavier (Patrick Stewart) sakit-sakitan, dan Logan alias Wolverine (Hugh Jackman) mulai kehilangan kemampuan quick healing-nya.

Meski begitu, film yang latar waktunya berlangsung beberapa tahun setelah kejadian di episode “Days of Future Past” (2014) ini engga 100% suram. Ada komedi, haru, sedikit misteri, dan pastinya adegan laga yang mantap djiwa. Perpindahan berbagai mood karakter terasa cepet tapi tetep ngena.

Wolverine banget

via Istimewa
Adegan Wolverine vs cecunguk-cecunguk. (Sumber: Istimewa)

Film yang disutradarai James Mangold itu dimulai dengan satu adegan yang “Wolverine Banget.” Logan lagi teler karena alkohol, digangguin oleh segrombol preman. Awalnya berniat santai, tapi lama-lama akhir semua preman habis di-bantai.

Adegan berdarah-darah diperlihatkan dengan jelas. Bahkan, adegan mutilasi dan peledakan bagian tubuh juga ditampilin. Gabungan efek komputer dan make-up membaur dengan baik, terasa realistis. Jadi engga heran kalo film ini punya rating R, karena penuh dengan adegan kekerasan.

Setelahnya Logan kembali hidup sebagai sopir, sekaligus perawat Professor Xavier yang kini sakit-sakitan. Namun suasana juga langsung cair berkat kehadiran Caliban (Stephen Merchant), –si mutan albino, yang pandai mencium jejak mutan lain.

Via Istimewa
Laura, bocah imut yang punya kekuatan ganas. (Sumber: Istimewa)

Kehidupan monoton itu terus berlangsung hingga suatu ketika masalah besar menghampiri Logan. Doi dimintai tolong seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) buat membawa kabur Laura (Dafne Keen) si mutan muda dari kejaran pasukan organisasi ilmuwan gila di bawah pimpinan Donald Pierce (Boyd Holbrook).

Biar suka berkata kasar dan keras kepala, Logan engga pernah bisa nolak permohonan tulus dari orang yang putus asa. Dimulailah petualangan doi nyelametin Laura sekaligus bawa Professor X ke tempat aman dengan segala cara, termasuk melanggar prinsip bertempur tanpa senjata api.

Di akhir film, Logan yang hidup sejak era Perang Dunia I akhirnya memahami makna hidup setelah selama ini ngerasa hampa dan depresi tinggi dalam umur panjangnya. Warning buat kamu yang punya mata kayak kran air, adegan-adegan ini bisa bikin banjir.

Akting para pemain keren banget

via Istimewa
Ini Donald Pierce (Boyd Holbrook) yang nyebelin. (Sumber: Istimewa)

Akting Dafne Keen di film keduanya ini keren banget. Mukanya yang imut dan planga-plongo bisa berubah nyeremin. Malah, lebih menyeramkan daripada Wolverine saat ngamuk di masa mudanya. Sedangkan Patrick Stewart engga usah ditanya. Di tangan doi, Professor Charles Xavier yang ketika muda sangat sopan, santun, dan elegan berubah jadi orang tua rapuh dan kasar.

Ceng-cengan doi dengan Wolverine yang udah berusia ribuan tahun pun ngena, bikin ngakak dan ngerasain betapa eratnya persahabatan dua ikon X-Men itu. Meski begitu, yang patut diberi applause merupakan akting Boyd Holbrook sebagai penjahat. Cowok bertampang mellow itu bener-bener jadi cyborg bengis super nyebelin dengan logat dan dialognya yang khas.

Lengkap

via Istimewa
Professor Charles Xavier versi usia sekitar 90an tahun. (Sumber: Istimewa)

Seperti yang udah dibilang, film ini mengandung unsur aksi, drama, dan komedi. Kejar-kejaran mobil, tembak-tembakan, dan berburu di hutan mewakili unsur actionnya. Interaksi Logan dan Laura yang penuh haru mewakili unsur drama, sementara ceng-cengan Professor X dan Logan jelas bagian dari komedi.

Background music yang dipakai sepanjang film pun pas. Musiknya bikin mood tiap adegan makin terasa dan engga lebih diinget daripada adegannya itu sendiri. Lagu “The Man Comes Around” Johnny Cash yang tampil di credit bener-bener bikin film terakhir Wolverine itu terasa wild-wild-west.

Hutch Parker, Simon Kinberg, Lauren Shuler Donner, dan anak-anak 20th Century Fox yang memproduksi filmnya bisa bergembira atas betapa epiknya film yang tayang duluan di Indonesia pada 1 Maret 2017. Karena itu, Genmuda.com engga ragu ngasih skor 5/5 buat film ini. FYI, engga ada adegan tambahan setelah credit kok, jadi setelah itu silakan kamu keluar dari bioskop dengan perasaan emosional.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.