Senin, 20 Mei 2019

Genmuda – Rabu, 6 Maret 2019, film “Captain Marvel” tayang lebih dulu di Indonesia. Sejumlah fans berat Marvel banyak yang gak sabaran buat menonton film superhero terkuat di MCU Universe ini.

Selain menjadi film solo, film ini semakin hype lantaran menjadi benang merah sebelum “Avenger: End Game” bulan April depan. Lantas sekeren apa sih filmnya? Nih, langsung kamu baca aja review lengkapnya berikut ini. No spoiler kok!

Superhero lupa ingatan

©Marvel Studios
©Marvel Studios

“Captain Marvel” langsung dibuka oleh sosok Carol Danvers (Brie Larson) di planet Hala, yang merupakan tempat tinggal bangsa Kree. Ia menjadi salah satu anggota kesatuan tim milter elit bangsa Kree bernama Star Force yang dipimpin oleh Yon-Rogg (Jude Law). Mereka berusaha memburu bangsa Skrull, alien yang dapat berubah wujud.

Carol kemudian dijebak dan tertangkap oleh Talos, pemimpin bangsa Skrull. Dengan kemampuannya ia berusaha mengorek informasi dari masa lalu Carol. Lucunya Carol juga gak tau akan asal-usul dirinya selama ini. Nah loh?

©Marvel Studios
©Marvel Studios

Di tengah pencarian jati diri tersebut Carol berhasil melarikan diri dan mendarat di Bumi. Ia lalu ketemu dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson) muda yang saat itu masih menjabat pimpinan S.H.I.E.L.D.

Kehadiran pejuang bangsa Kree itu mulai menarik perhatian Fury, apalagi setelah Skrull datang ke bumi untuk mencari informasi dari Carol. Selain itu juga misteri masa lalu Carol mulai ikut terkuak saat ia datang ke bumi.

Nah, di sini Kawan Muda bisa tau asal-usul kekuatan super yang dimiliki oleh Carol hingga kaitannya dengan ide Avengers yang dibentuk sama Nick Fury.

Gak jelek tapi juga gak bagus-bagus banget

©Marvel Studios
©Marvel Studios

Jika dibandingin sama film solo superhero MCU lainnya, cerita “Captain Marvel” bisa dibilang cukup sederhana atau mungkin terkesan cari aman. Jika gak ada embel-embel benang merah di “Infinity War”, maka film ini pun terasa biasa.

Alur cerita yang ditawarkan sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck mungkin bakal ngebingungin buat kamu yang gak terlalu suka penceritaan model maju-mundur. Banyaknya karakter dalam film ini ikut menjadi bumerang buat mengeksplorasi sosok Carol Danvers itu sendiri.

Hasilnya kharisma akting Larson yang pernah menyabet Oscar di film “Room” seolah kurang maksimal buat ditonjolin ke penonton. Beruntung film ini berhasil ngegambarin latar tahun 90-an dengan pas mulai dari arcade game, game boy, turn table, sampai playlist band-band 90an yang hits di kala itu.

Film ini pun gak sepenuhnya milik Carol, masa lalu Fury yang selama ini masih jadi misteri menjadi penyeimbang yang pas dan belum ada dari film-film MCU sebelumnya. Ibarat puzzle yang hilang, duet Carol dan Fury jadi potongan menarik buat melengkapi cerita di MCU.

Walau gak semenghibur “Ant-Man and The Wasp” atau seepik “Infinity War”, Marvel cukup berhasil ngegambarin “Captain Marvel” sebagai superhero badass dari tahun 90-an.

Kesimpulan

©Marvel Studios
©Marvel Studios

Buat penulis, debut “Captain Marvel” boleh dibilang cukup sederhana dan plot yang gampang ditebak. Kamu yang fans berat film-film MCU mungkin gak masalah buat ngikutin alur yang ditawarkan, tapi sebaliknya kalo kamu cuma ngikutin satu-dua film doang mungkin perlu effort lebih menikmatinya.

Namun kesan ‘biasanya’ film “Captain Marvel” bisa jadi nilai lebih karena filmnya ikut melengkapi cerita “Infinity War” di bagian after credit setelah Nick Fury lenyap karena jentikan jari Thanos. Overall, film ini pun bakal menjadi trigger lebih buat kamu untuk menyambut “Avengers: End Game”. Emang gak istimewa, tapi juga gak akan ngecewain kamu.

Seperti biasanya, “Captain Marvel” juga menyimpan dua after credit yang gak kalah penting buat kamu tunggu hingga akhir film. Selamat penasaran! He-he.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.