Sabtu, 10 April 2021

Genmuda – Pernah dengar nama Alejandro Iñárritu? Namanya menggaung di pagelaran Oscar tahun lalu lewat film besutannya ‘Birdman’. Doi berhasil menggondol penghargaan sebagai sutradara terbaik dan filmnya berhasil meraih Best Picture. Engga puas hanya sampai di situ, kali ini Iñárritu kembali menunjukan karya sensasional lainnya berjudul ‘The Revenant’.

‘The Revenant’ mengisahkan tentang mantan tentara Amerika tahun 1800an bernama Hugh Glass (Leonardo DiCaprio), yang melakukan perburuan bersama kawannya. Selain mantan tetara, sosok Glass dikenal pula sebagai pemburu handal yang telah lama tinggal bersama suku Indian.

Sutradara Alejandro G. Iñárritu dan Leonardo DiCaprio saat proses syuting The Revenant (Sumber: Movie Geeks)

Meski film berdurasi 156 menit ini adalah adaptasi cerita nyata karya Michael Punke, yang berjudul ‘The Revenant: A Novel of Revange’ tapi sang sutradara membuat versi filmnya lebih dramatis dan kompleks lewat tokoh Hawk (Forrest Goodluck),–anak laki-laki Glass dari pernikahannya dengan gadis Indian yang diceritakan telah meninggal.

Konflik utama film dimulai saat Glass diserang oleh beruang Grizzly dan terluka parah. Beberapa temannya berusaha untuk menolong dan membawanya melalui cuaca ekstrim serta medan yang cukup berat. Adalah Fitzgerald (Tom Hardy) salah seorang kawanan yang merasa Glass sangat memberatkan kelompok mereka.

Melihat kondisi medan dan luka yang dialami oleh Glass, Fitzgerald  malah memilih meninggalkan rekannya tersebut di tengah hutan. Keajaiban justru terjadi, Glass ternyata dapat bertahan hidup dan berniat membalas dendam kepada Fitzgerald yang meninggalkannya begitu saja.

'The Revenant' (Sumber: Fox Movies)
‘The Revenant’ (Sumber: Fox Movies)

Dari awal cerita, Iñárritu yang bekerja sama dengan kompatriot DOP favoritnya, Emmanuel Lubezki, menyajikan visual yang memukau melalui hutan belantara Amerika dan serangan awal dari suku Indians Arikara. Ketika memasuki hutan dan salju turun dengan lebat, Iñárritu mampu menangkap gambaran akan kerasnya dataran hutan Amerika saat musim dingin. Sekilas pesan yang ingin disampaikan engga cuma soal pengkhianatan, melainkan kesulitan manusia buat bertahan hidup di tengah alam liar.

Keindahan sinematografi dan kuatnya konflik cerita dibarengi dengan akting para pemain. Leo bisa dibilang berakting cukup kontras dibandingkan dengan film-film terdahulunya. Perannya sebagai Hugh Glass benar-benar menampilkan kekuatan emosional sebagai seorang pemimpin yang dikhianati. Ia menunjukan apa arti pentingnya hidup dalam setiap gerak-geriknya dalam menghadapi tantangan yang ada.

Penonton juga bakal diajak melihat aksi survival Leo saat mengoyak daging mentah, menyusup di perut kuda, dan tergopoh-gopoh menyeret kakinya yang patah. Belum lagi adegan paling mengejutkan tahun ini dimana beruang Grizzly coklat besar menerjangnya tanpa ampun.

Engga banyak dialog yang diucapkan oleh Leo, namun dari gestur dan mimik wajah seakan ingin menunjukan bahwa doi lagi bercerita tanpa suara. Buat akting dalam film yang satu ini, Leo emang layak diganjar penghargaan yang belum pernah ia raih, yaitu Academy Award.

Sedangkan lawan mainnya Tom Hardy juga patut disanjung. Fitzgerald seakan mencerminkan sosok Bane dalam film ‘The Dark Knight’ tanpa embel embel topeng di mukanya. Tom Hardy berperan sangat picik sebagai musuh dalam selimut. Singkatnya tokoh ini adalah gambaran manusia yang tamak, oportunis, tanpa sisi kemanusiaan.

(Sumber: Fox Film)

To conclude, bukan perkara gampang mengembangkan cerita adaptasi dari novel, apalagi jika novel tersebut adalah novel klasik. Namun demikian Iñárritu berhasil menghidupkan karakter Glass secara maksimal lewat DiCaprio dan sebagai peraih Oscar, doi juga berhasil menghadirkan nuansa alam liar yang jadi musuh utama di film ini.

Meski filmnya telat masuk di Indonesia, dan udah bocor duluan, namun kamu pasti bakalan penasaran dengan sound dan visual yang disajikan oleh film berdurasi 156 menit tersebut. Just sit, relax, and look how to survive like DiCapro! So badass!

(sds)

 

Comments

comments

Wisnu
An average joe lives in the value of curiosity/orang biasa tukang kepo.