Minggu, 27 November 2022

Genmuda – Per 30 Agustus lalu, peraturan ‘ganjil-genap’ di jalan-jalan protokol DKI Jakarta udah resmi diterapin. Pelanggar peraturannya bisa diberhentiin polantas dan langsung ditilang dengan denda maksimal 500 ribu rupiah atau ancaman pidana maksimal dua bulan.

Meski baru resmi diterapin, Pemprov DKI udah nyiapin peraturan Electronic Road Pricing (ERP) sebagai penggantinya. Video penjelasan ERP nyebutin kalo kendaraan roda empat (buat roda dua belom diputusin) yang melintas di jalan-jalan Protokol bakal dikenai tarif 20 ribu – 40 ribu.

Karena menggunakan sistem pembayaran elektronik otomatis, cuma kendaraan yang masang On Board Unit (OBU) yang bisa melintas di jalur itu. Tiap kendaraan ber-OBU melintas, gerbang pemindai (Gantry) bakal langsung memotong saldo di OBU-nya.

Saldonya bisa diisi kembali lewat ATM yang udah ditunjuk Pemprov DKI Jakarta. Sementara itu, uang yang udah masuk kantong Pemprov DKI rencananya bakal dipakai sepenuhnya buat memperbaiki sarana dan prasarana transportasi. Kira-kira, gimana pendapat Kawan Muda soal peraturan unik nan ajaib itu? Kita #TanyaKawanMuda!

1. Fahrul Kamal (Esports Associate)

via Fahrul Kamal
Fahrul yang di kanan. (Sumber: Dok. Fahrul)

Kata Fahrul, tarif ERP sebaiknya dimahalin banget sekalian. “Kalo mahal pasti bisa ngurangin kendaraan pribadi. Kalo murah mah gak akan guna peraturannya. Duitnya cuma buat nambahin pendapatan pemerintah aja tapi ga mengurai macet,” ujar Paul.

2. Kharisma Tauhid (pelatih tenis)

via Dok. Kharisma Tauhid
(Sumber: Dok. Kharisma Tauhid)

Sementara itu, cowok yang biasa disapa Moy ini bilang optimis ERP bisa ngurangin macet. Cuma, doi memprediksi lama-lama jalanannya mungkin tetep macet karena orang-orang punya mobil pribadi mayoritas punya penghasilan cukup. “Kecuali, jalan protokolnya bener-bener dilarang buat mobil pribadi,” jelas doi.

3. Aji Mitra (media planner)

via Dok. Aji
(Sumber: Dok. Aji Mitra)

Si Aji ini lebih galak lagi. Doi bilang peraturan ERP masih cemen. “Mendingan pajak mobil ditinggiin aja sampe minimal 90 juta setahun buat mobil kelas murah. Terus, ongkos parkir sepanjang Jakarta juga dinaikin sampe 90 ribuan sejam,” kata doi. Wajar sih. Doi mengaku sering kejebak macet dan ngeliat banyak mobil isinya cuma satu orang doang.

4. Darwita Ayu (Anak Kreatif)

via Dok. Darwita Ayu
(Sumber: Dok. Darwita Ayu)

“Apapun kebijakan pemerintah, macet di Jakarta kayaknya susah terurai deh,” kata Ayu pesimis. Menurutnya, cuma warga yang bisa bikin Jakarta engga macet lagi. “Warganya harus peduli sama Jakarta dan mau pakai angkutan umum. Kan percuma pemerintah buat peraturan kalo [ujung-ujungnya] cuma buat dilanggar,” kata Ayu.

5. Randi Kurnia (Pegawai swasta)

Randi
(Sumber: dok. Randi)

Sama kayak Ayu, Randi ngerasa agak pesimis sama peraturan ERP. “Macetnya paling pindah doang dari jalan protokol ke jalur-jalur alternatif. Jumlah kendaraan pribadinya paling tetep sama,” Menurut doi Jakarta emang udah engga bakal disembuhin dari macet. “Mending orang-orang pada ngekos deket kantor biar kalo berangkat tinggal jalan kaki,” imbuhnya.

6. Talita Yakin Putri (Arsitek)

via Dok. Talita
(Sumber: Dok. Talita)

“Udah lah naik baling-baling bambu aja biar ga kejebak macet Jakarta,” kata Talita. Peraturan yang lagi digodog Ahok dan timnya ini tampaknya belom bikin Talita yakin (padahal namanya Yakin. Oke maksa). “Kalau mau bikin orang-orang pada gunain angkutan umum, harusnya yang diubah adalah pola pikir orang supaya mikir transportasi umum itu menyenangkan. Caranya, dibuat supaya transportasi umum enak dinaikin,” ujar doi.

7. Rama Aditya (Pebisnis Muda)

via Dok. Rama
(Sumber: Dok. Rama)

Rama yakin kalo ERP bisa berjalan lancar kalo diimbangi pembangunan sarana transportasi yang layak. “Kalau pemerintah maksa warga buat mengurangi penggunaan mobil, harus ada substitusinya, dong. Kalo engga gitu, peraturannya sia-sia,” Doi juga berharap warga yang biasa melintas jalan protokol tergerak hatinya buat gunain angkutan umum. “Karena semua kembali ke diri warganya,” pungkas doi.

8. Ryan Anjar (Marine Engineer)

via Dok. Ryan
(Sumber: Dok. Ryan)

Sementara itu, pelaut yang satu ini udah engga kuat lagi ngadepin macet Jakarta biarpun pemerintah bikin peraturan seunik dan seajaib apapun. “Jakarta udah parah. Makanya ane buru-buru nyemplung lagi ke laut,” doi bilang.

Yah, begitulah pendapat Kawan Muda yang hampir tiap hari ngadepin kemacetan Jakarta. Semoga aja peraturan ERP bisa jauh lebih oke daripada ganjil-genap atau 3-in-1 dan bikin orang-orang betah naik angkutan umum. Gimana menurut kamu? Kasih aja komentar di bawah ya! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.