Rabu, 28 Januari 2026

Genmuda – Kalau Kawan Muda mikir film zombie itu cuma soal darah, teriakan, dan kejar-kejaran tanpa napas, We Bury the Dead siap bikin lo mikir ulang. Film garapan Zak Hilditch ini datang dengan pendekatan yang lebih sunyi, sendu, dan surprisingly emosional. Zombie tetap ada, tapi horornya justru datang dari rasa kehilangan dan hubungan manusia yang belum selesai.

Pencarian orang tersayang

©Vertical/2025

Premis film mengikuti Ava (Daisy Ridley), seorang perempuan yang bergabung dengan tim relawan pengubur jenazah setelah bencana militer fatal terjadi di lepas pantai Tasmania. Bom elektromagnetik eksperimental yang dijatuhkan pemerintah AS bukan cuma menewaskan ribuan orang, tapi juga “menghidupkan kembali” sebagian dari mereka. Di tengah kekacauan itu, Ava punya misi pribadi: mencari suaminya yang terakhir kali berada di lokasi tersebut untuk sebuah konferensi energi terbarukan.

Yang bikin film ini beda, motivasi Ava bukan soal heroisme besar atau menyelamatkan dunia. Ini tentang cinta dan harapan tentang seseorang yang menolak menerima kenyataan sebelum melihatnya sendiri. Kilas balik hubungan Ava dan suaminya yang dreamy dan intim bikin pencarian ini terasa personal dan relatable, bahkan di tengah dunia yang udah keburu kiamat.

Sepanjang perjalanan, Ava nggak sendirian. Ia bertemu relawan lain yang juga menyimpan luka masing-masing. Dari Clay (Brenton Thwaites) yang kelihatannya cuek dan nggak terlalu peduli misi kemanusiaan, sampai Riley (Mark Coles Smith), tentara pendiam yang masih berduka atas kematian istrinya. Awalnya mereka terasa kayak karakter template film zombie, tapi perlahan lapisan emosinya dibuka, bikin interaksi mereka terasa lebih manusiawi.

Romansa Post Apocalypse

©Vertical/2025

Hal paling menarik dari We Bury the Dead adalah cara film ini memandang zombie. Nggak semua mayat hidup digambarkan sebagai monster tanpa jiwa. Ada momen-momen sunyi ketika Ava menatap mata zombie, dan kita kayak mikir: “Apakah masih ada kenangan dalam diri mereka?” Tatapan kosong itu jadi simbol komunikasi yang terputus, tentang hal-hal yang nggak sempat diucapkan pada orang terkasih sebelum semuanya terlambat.

Secara visual, film ini memang nggak terlalu revolusioner. Tapi efek makeup zombie-nya solid dan terasa nyata, apalagi untuk film dengan bujet relatif kecil. Ada satu adegan zombie menggesekkan giginya dengan suara yang bikin merinding, cukup untuk bikin lo nggak nyaman tanpa harus jumpscare murahan.

Cukup solid dan oke

©Vertical/2025

Zak Hilditch jelas lebih tertarik membedah hubungan manusia ketimbang menjelaskan detail politik atau asal-usul bencana. Buat sebagian orang, ini mungkin terasa kurang ‘wah’. Tapi justru di situlah kekuatannya. Film ini tahu apa yang mau diceritakan dan konsisten bertahan di sisi emosionalnya.

Performa Daisy Ridley jadi highlight utama. Permainannya tenang, lembut, dan penuh empati. Jadi pas banget dengan tone film yang muram tapi hangat. We Bury the Dead bukan film zombie yang berisik, tapi film yang ngajak lo duduk, diam, dan merenung.

Kesimpulan

Intinya nih, di tengah banjir film zombie yang terasa itu-itu aja, We Bury the Dead hadir sebagai opsi yang lebih dewasa, melankolis, dan berbasis karakter. Buat Kawan Muda yang cari horor dengan rasa, bukan cuma adrenalin, film ini layak masuk watchlist kalian. Berikut cuplikan trailernya.

Our Score

Comments

comments