Kamis, 9 Desember 2021

Genmuda – Bumi sudah menua. Para manusia berbondong-bondong mencari planet baru untuk mereka tempati. Kendati berhasil menemukan planet baru atau New Earth, efek sampingnya manusia kini berevolusi dengan memiliki kemampuan ‘noise’, yaitu mampu mendengarkan suara hati dan pikiran mereka satu sama lain. Inilah premis yang berusaha ditawarkan oleh film “Chaos Walking”.

Cerita berlangsung pada tahun 2257 masehi. Sejumlah manusia yang berhasil bermigrasi di planet baru tersebut kemudian hidup berkelompok dan menetap di daerah bernama Prentisstown. Selain harus bertahan hidup, mereka juga bentrok dengan makhluk asli New Earth yakni, Spackle.

Perang membaca dan mengendalikan pikiran

©Lionsgate/2021

Berangkat dari intro di atas, penonton kemudian langsung berkenalan dengan tokoh Todd Hewitt (Tom Holland). Cowok yatim piatu yang tinggal di pinggiran Prentisstown dengan dua ayah angkatnya. Digambarkan sebagai cowok penakut, Todd berusaha mengendalikan ‘noise’ dan menyembunyikan isi pikirannya dari penduduk Prentisstown, yang dipimpin oleh walikota David Prentiss (Mads Mikkelsen).

Dianggap sebagai pahlawan dan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengontrol pikiran, David sering kali memuji kemampuan Todd ketimbang anak kandungnya sendiri. Todd pun dianggap punya potensi untuk menjadi pemimpin jika mau mengembangkan kemampuannya. Namun semua pujian David gak lebih dari sebuah provokasi untuk mencuci otak Todd seperti yang dilakukan oleh penduduk Prentisstown lainnya.

Suatu hari sebagian manusia dari pesawat luar angkasa berhasil menemukan New Earth setelah menempuh perjalanan selama 64 tahun. Sayang saat memasuki atmosfer pesawat tersebut hancur dan hanya seorang awak yang selamat. Ia adalah seorang perempuan bernama Violet (Daisy Ridley) yang tanpa segaja mendarat di wilayah perkebunan dari rumah Todd.

Menariknya Todd sama sekali tidak bisa membaca pikiran Voilet dan baru saat itu bertemu dengan seorang perempuan. Lantaran panik, ia lalu melaporkan kejadian tersebut kepada David. Seluruh warga kemudian berusaha membunuh Violet. Belakangan diketahui jika hanya perempuan yang mampu mendengarkan ‘noise’ laki-laki, hal sebaliknya justru tidak berlaku bagi para laki-laki. Inilah yang menjadi alasan mengapa tidak ada perempuan yang tinggal di Prentisstown.

Alih-alih ingin memburu Violet, Todd malah membantunya untuk lari dari kejaran David dan sekutunya yang sadis, pendeta Aaron (David Oyelowo). Todd dan Violet pun berusaha mencari pesawat luar angkasa di luar Prentisstown untuk memberikan sinyal bahwasannya terdapat kehidupan di New Earth. Saling adu kekuatan pikiran pun dimulai seiring perjalanan Todd dan Violet.

Menarik sih, tapi…

©Lionsgate/2021

Film yang diadaptasi dari novel The Knife of Never Letting Go karya Pattrick Ness ini sejatinya sangat menarik buat diikuti. Petualangan Todd dan Violet sejatinya merupakan perjalanan panjang yang dapat diolah lebih dalam dari cerita novelnya. Sayang, Doug Linman sebagai sutradara berusaha menyederhanakannya secara terburu-buru.

Kendati tidak semua orang mengikuti trilogi novel tersebut, penulis jutsru merasa banyak tokoh dan alur cerita yang terkesan numpang lewat gitu aja. Biarpun pekerjaan naskah film melewati ‘tambal sulam’ berbagai penulis, namun hal ini gak mampu menyelamatkan filmnya terlihat lebih greget.

Asal usul Spackle yang memburu manusia, latar belakang warga Prentisstown yang membunuh para wanita, atau urusan konflik antara Todd dengan anak sang walikota, semuanya terasa nanggung bagi penonton. Jadi kalo Kawan Muda tanya seberapa kuat ceritanya, penulis hanya bisa bilang cukup sederhana namun terasa kurang berkesan.

Kesimpulan

Tom Holland dalam film Chaos Walking ©Lionsgate/2021

Terlepas dari penilaian minor dari Genmuda.com, film “Chaos Walking” masih asik untuk dinikmati oleh pencinta film-film fiksi ilmiah. Baik Tom Holland maupun Daisy Ridley mampu memberikan kualitas akting mempuni untuk lepas dari stereotipe peran mereka sebagai manusia laba-laba dan jedi. Keduanya tampil cukup all out.

Hal senada turut diperlihatkan oleh akting dari Mads Mikkelsen dan David Oyelowo yang sukses menjadi tokoh antagonis super nyebelin di film ini. Kalo pun ada yang kurang semua kembali lagi oleh ‘malesnya’ penulisan naskah film yang menjadikan semua alur terasa diburu-buru dan menghilangkan elemen pendukung di cerita film.

Kesimpulannya “Chaos Walking” adalah film fiksi ilmiah yang cocok dinikmati dengan pop corn dan minuman tanpa perlu mikir terlalu ribet. Saking sederhananya mungkin kalian dapat langsung menebak alurnya akan seperti apa. Melihat plus-minus dari debutnya, semoga Lionsgate bisa lebih matang menyiapkan ceritanya jika ingin memberikan sekuel lanjutan.

Di Indonesia film ini mulai tayang pada hari Rabu, 7 April 2021 di bioskop. Selalu patuhi protokol kesehatan saat menonton di bioskop ya, gengs.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.