Selasa, 20 Oktober 2020

Genmuda – ‘Mukidi’ namanya mungkin ndeso bagi sebagian Kawan Muda. Tapi siapa sangka tokoh fiksi yang sering melempar humor di dunia maya tersebut menjadi buah bibir netizen di tanah air.

Bukan tanpa sebab sosok ini mendadak jadi viral guys. Saat ditelusuri sama Genmuda.com, ternyata banyolan yang dibuat oleh Mukidi terlihat jenaka dan bisa disesuaikan dengan berbagai usia dan kalangan. Meski terkesan jenaka, tapi pesan yang tersirat penuh dengan sindiran kepada pemerintah atau masyarakat seperti kita.

Siapa sih Mukidi?

via fuccha.in
(Sumber: fuccha.in)

Dilansir dari BBC Indonesia, (29/8) karakter fiksi tersebut dibuat oleh Soetantyo Moechlas atau yang akrab dipanggil Yoyo pada tahun 1990an. “Iseng aja pakai nama itu,” jelas Yoyo.

Lebih lanjut saat muncul pertama kali tokoh tersebut diceritakan sebagai pria yang berasal dari Cilacap dan merupakan “orang biasa-biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja”. Yoyo pun rutin mengirimkan cerita Mukidi ke Radio Prambors. Seiring berjalannya waktu, tokoh ini pun tetep eksis di dalam blog hingga punya akun Facebook.

Hiburan baru dalam beropini

via: WhatsApp
(Sumber: WhatsApp)

Masih ingat dong sama kasus netizen yang dipidanakan karena memberikan komentar yang berbau hate speech? Kamu mungkin juga sebel dong sama netizen yang suka salah kaprah bedain mana komentar yang nyinyir, dan mana yang serius?

Nah, tokoh Mukidi mungkin bisa jadi contoh buat anak muda supaya pintar kalo mau beropini atau nyindir pemerintah. Sosok ini pun engga ragu mengajak kamu buat bercermin sama apa yang (mungkin) terjadi sama diri kamu sendiri.

Meski sedang hype banget, tapi sang kreator justru mengaku engga mau mematenkan karakternya tersebut. Jadi engga heran kalo kamu bisa aja melihat versi Mukidi berbagai versi. “Saya senang orang jadi kreatif. Mukidi itu mewakili diri mereka sendiri. Saya nggak mau monopoli karena saya ngambil (ceritanya) juga dari masyarakat,” tutur Yoyo.

Mau tau gimana sih contoh humor Mukidi? Nih Genmuda.com kasih salah satu contohnya:

Mukidi naik Metromini

Mukidi yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta.

Dia ingin keliling Jakarta naik Metromini.

Diam-diam dia mengamati segala yang terjadi di dalam Metromini. Termasuk tingkah laku kernet dan penumpang.

Tak lama kemudian si kernet bilang. “Dirman.. Dirman.. Dirman..” (tanda bahwa bus telah sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak, “kiri..!” Dan turunlah penumpang tersebut.

Selang berapa lama kernet teriak. “Kartini.. Kartini.. Kartini..” Seorang cewek muda kemudian nyeletuk. “kiri..!” lalu cewek tersebut pun turun.

Beberapa lama kernet itu teriak lagi. “Wahidin.. Wahidin.. Wahidin..” Adalagi cowok yang bilang, “kiri..!”

Tak selang lama si kernet teriak lagi. Gatot Subroto!! Gatot Subroto!!

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab, “kiri. kiri….!!” Maka turunlah si kumis itu.

Tinggallah seorang diri Mukidi di dalam bus. Dengan hati ngedumel, lama-lama jengkel juga dia. Lalu dicoleklah si kernet, dengan nada marah Mukidi bilang, “Kurang ajar sampeyan ya. Dari tadi rang-orang sampeyan panggil. Lahh,, nama saya ndak sampeyan nggil-panggil!! Kalau begini caranya. Kapan saya turun ?!!!”

Untung si kernet tanggap. Kernet bertanya. “Siapa nama bapak?”

“Namaku Mukidi”, jawab Mukidi.

Si kernet langsung teriak. “Mukidi.. Mukidi.. Mukidi.. !!!”

Mukidi pun lega dan berkata. “Nah, begitu!!”. “Kirri..!” Maka turunlah Mukidi di jalan tol.

Bagi Anda yang menemukan Mukidi harap menghubungi keluarganya di Sumenep.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.