Kamis, 1 Oktober 2020
Serius Lo?

Meski Keliatan Sadis dan Bikin Geleng-Geleng, 9 Teknik Pengobatan Jadul Ini Masih Dipelihara Loh Sampe Sekarang

via KapanLagi.comIndah Kusuma, anak jurusan kedokteran. (Sumber: KapanLagi.com)

Genmuda – Buat anak kedokteran, di tengah kemajuan teknologi seperti sekarang pasti pernah mengalami dualisme. Pasalnya teknik kedokteran modern yang melibatkan alat-alat canggih terus berkembang bersamaan dengan teknik kedokteran tradisional yang berasal dari kearifan lokal ratusan bahkan ribuan tahun lalu. (Intermezo klasik!)

Nah, tapi Kawan Muda wajib tau kalo banyak teknik pengobatan tradisional yang makin modern pengerjaannya menurut Dr Scott Podolsky, internis Massachusetts General Hospital sekaligus direktur Pusat Kajian Sejarah Kedokteran Harvard. Singkatnya semuanya engga kalah canggih deh. Berikut contohnya:

1. Bekam darah

via jual-alkes.com
Ini bekam biasa yang engga nyedot darah. (Sumber: jual-alkes.com)

Di Indonesia, ada sebuah terapi tradisional untuk mengeluarkan darah kotor menggunakan penghisap (bukan pake mulut). Nama terapinya disebut ‘bekam’ namun bahasa Inggris menyebutnya sebagai cupping therapy. FDA mengategorikan ini sebagai terapi mengeluarkan darah atau bloodletting.

FYI, cara itu perlu dilakukan buat mengurangi jumlah zat besi berlebihan dalam tubuh yang bisa membahayakan hati. Namun bekam dianjurkan selama bekas sayatannya diobati dengan peralatan steril supaya engga infeksi.

2. Terapi listrik

via NBCNews.com
Sabuk di kepala itu adalah penghantar listrik. Pasiennya pun perlu menggigit penahan supaya lidah engga kegigit ketika shock-therapy dimulai. (Sumber: nbcnews.com)

Sejumlah perguruan silat dan tenaga dalam di Nusantara berpendapat kalo listrik yang dialirkan ke tubuh punya banyak khasiatnya. Menurut dokumentasi sejarah, cara ini pertama kali dilakukan sekitar 1930 dan setahun kemudian diadopsi di Amerika Serikat.

Electroconvulsive Therapy (ECT) di AS pun dilakukan dengan mengalirkan listrik ke otak melalui penghantar yang dipasang di kulit atau ditanam dalam otak manusia. Podolsky bilang terapi ini berguna buat menyembuhkan depresi akut yang engga bisa diselesaikan lewat pengobatan medis.

3. Trepanning

via writersforensicsblog.wordpress.com
Tengkorak pasien terapi trepan. (Sumber: writersforensicsblog.wordpress.com)

Trepanning dilakukan dengan cara melubangi tengkorak. Ketika Zaman Batu di Eropa, cara ini dilakukan untuk mengusir roh jahat. Penelitian kedokteran modern menunjukan kalo cara itu bermanfaat buat mengurangi darah yang tersumbat di kepala.

Podolsky bilang, terapi ini merupakan cara yang umum dilakukan kepada korban kecelakaan yang mengalami pendarahan internal di daerah otak. Cara tersebut bisa dilakukan bagi penderita stroke yang pembuluh darah otaknya telah pecah.

4. Terapi lebah

via dontpaniconline.com.
(Sumber: dontpaniconline.com)

Masyarakat Yunani Kuno, terutama ketika masa Hippocrates 460-370 SM menggunakan racun lebah sebagai pereda rematik atau masalah lain di persendian. Penelitian American Apitherapy Society yang dipublikasikan di situs Live Science, (5/8) bilang kalo kandungan melittin di racun lebah punya senyawa anti pembengkakan.

Meski berisiko bikin kulit luka atau malah keracunan akut, praktik ini kerap dilakukan di Asia, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Namun terapi alternatif ini masih belum disarankan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.

5. Terapi belatung

via reference.com
(Sumber: reference.com)

Iyuh. Kedengeran jijik banget ya? Tapi jangan salah, terapi ini biasa dilakukan sekitar 100 tahun lalu. Terapinya dilakukan dengan meletakkan belatung ke sebuah luka. Orang-orang barat terinspirasi melakukannya setelah Perang Dunia I 1914-1918.

Ketika itu, tentara medis sadar kalo prajurit yang lukanya dihinggapi lalat cenderung cepat sembuh. Karena belatung yang menetas dari telur lalat akan memakan bekas luka yang membusuk dan infeksi. Setelah dikembangkan hingga tahun 1928, FDA AS mengizinkan jual-beli belatung medis yang telah steril pada tahun 2004. *geleng-geleng kepala.

6. Terapi lintah

via YouTube
(Sumber: YouTube Image)

Jujur aja. Hewan lembek dan berlendir ini bisa bikin orang parno berat, apalagi kalo mereka udah pernah ditempeli dan disedot darahnya. Akan tetapi siapa sangka kalo karakteristik lintah penyedot darah itu bisa dimanfaatkan buat kepentingan medis.

FDA bilang kalo hewan itu bisa digunakan buat nyedot darah menggumpal di bagian tubuh tertentu. Itu perlu dilakukan supaya aliran darah dari dan ke jantung tetep lancar. Selain itu, liur lintah punya senyawa yang mencegah penggumpalan darah.

7. Lobotomy

via thepsychologist.bps.org.uk
(Sumber: thepsychologist.bps.org.uk)

Rumah Sakit Jiwa di AS pada periode 1940-1950 sering menggunakan praktik Lobotomy buat mengobati perilaku menyimpang pasiennya. Terapi itu dilakukan dengan melukai salah satu bagian otak. Di tahun itu caranya dilakukan dengan mengebor otak depan dari hidung, menembus tengkorak untuk menghancurkan sejumlah syaraf bermasalah.

Cara ini juga pernah hadir dalam film ‘Sucker Punch’ (2011). Jurnal Brain Research Reviews tahun 2005 membuktikan kalo praktik kedokteran seperti itu jauh lebih presisi. Sebab dokter dapat dengan tepat menyelesaikan masalah yang terjadi di bagian tertentu di kepala.

8. Pisau obsidian

via YouTube Image
Tipikal pisau obsidian manusia purba. Sekarang, pisau obsidian jauh lebih tipis dan tajam dari itu. (Sumber: YouTube Image)

Berkembangnya ilmu mengolah logam membuat penggunaan batu obsidian makin ditinggalkan. Meski begitu, batu vulkanik ini bisa diasah hingga 100 kali lebih tajam daripada pisau logam. Pisau ini bahkan dikabarkan bisa membelah hingga ke level atom.

Teknologi yang ada sejak jaman manusia purba ini pun akhirnya dipakai buat gantiin pisau operasi. Umumnya dalam operasi kecantikan obsidian mampu memotong bagian tubuh yang paling sensitif. Karena sangat berbahaya engga sembarangan dokter yang bisa pakai pisau ini.

9. Transplantasi feses (fecal microbiota transplantation)

anigif_optimized-766-1428458808-25

Ini merupakan teknik kedokteran paling di luar nalar yang ditemui tabib Tiongkok di abad ke-4. Dalam sejarahnya pasien tabib yang menderita diare, muntaber, dan keracunan makanan (maaf banget) diminta memakan kotoran orang sehat. Live Science menyebutkan kalo cara itu masih dilakukan hingga abad ke-16. Kemajuan teknologi akhirnya membuat feses orang sehat itu dimasukkan ke dalam pil.

Tujuannya sih supaya bakteri dalam kotoran orang sehat bisa melawan bakteri buruk yang ada di usus orang sakit. Berhubung teknologi makin maju, sekarang udah ada tabung yang mampu memindahkan bakteri baik dari usus orang sehat dan disuntikkan ke dalam perut.

Gimana pendapat Kawan Muda? Kaget, bingung, heran, atau kagum dengan fakta di atas? Kasih tau jawaban kamu di kolom komentar ya. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.