Jum'at, 10 Juli 2020

Genmuda – Banyak kasus soal tindak keadilan yang mau diusut sama orang-orang yang peduli sama negara ini. Tapi lebih banyak lagi orang-orang yang engga mau keadilan itu ditegakkan. Buat nutupin peran mereka dalam kasus yang lagi bergulir, biasanya dipake cara yang licik dan jahat. Sebenernya kasus apapun yang lagi coba diusut, pasti akan ada drama “penganiayaan”-nya dimana sang penegak keadilan menjadi korbannya.

Kayak yang sekarang lagi rame diberitain, Selasa (11/4) pagi penyidik KPK Novel Baswedan dilempar sama air keras sama beberapa oknum. Ternyata kejadian ini bukan usaha penyiksaan yang pertama buat beliau. Sebelumnya doi pernah ditabrak di perjalanannya dari rumah ke kantor sama orang tak dikenal juga. FYI, doi menjadi salah satu penyidik dari KPK yang berhasil membongkar kasus korupsi e-KTP yang diperkirakan ngerugiin negara sampe Rp 2,3 T.

Kita doain beliau segera sembuh dan bisa kembali bertugas di KPK. Namun, sosok Noval bukan jadi satu-satu penegak keadilan yang pernah di serang. Di bawah inilah adalah orang-orang pemberani lainnya yang memperjuangkan keadilan meski nyawa mereka jadi taruhannya.

1. Wiji Thukul

Beliau selalu jadi inspirasi setiap aktivis era 98 buat terus bergerak walaupun di sana-sini banyak yang engga suka. Puisi-puisinya yang dinilai provokatif dan melawan pemerintahan jaman orba inilah yang akhirnya bikin doi dicari terus sama para aparat. Beberapa judul dari puisi itu adalah “Peringatan,” “Sajak Suara,” dan “Bunga dan Tembok” yang selalu doi baca setiap turun ke jalan.

Engga ada satu pun yang tau keberadaan Wiji sampe sekarang. Tapi perjuangannya engga akan pernah mati. Fajar Merah, anak sulungnya juga sering menyuarakan kegelisahan-kegelisahannya lewat lagu bertema keadilan. Kisah hidupnya sebelum doi hilang sempat difilmkan dengan judul “Istirahatlah Kata-Kata.”

2. Marsinah

via: Merdeka.com
(Sumber: Merdeka.com)

Serupa dengan kasus Wiji Thukul, Marsinah diduga hilang dulu sebelum akhirnya keungkap kalo ternyata beliau dibunuh. Marsinah dikenal sebagai buruh yang aktif menyuarakan kegelisahan para buruh yang dulu dapet upah sangat rendah. Jiwa pemberaninya emang engga pernah mati, walaupun di jaman itu doi sering diperingatkan akan dibunuh kalo tetep ngelawan.

Sampe akhirnya doi diketahui hilang selama 3 hari, dan akhirnya ditemukan meninggal dengan penuh luka dibadannya. Sejak kematiannya, kasusnya diusut dan orang-orang yang ngebunuh pun akhirnya bebas gitu aja. Kasus ini engga pernah terungkap dan masih jadi teka-teki sampe sekarang.

3. Wartawan Udin

via: Google
(Sumber: Istimewa)

Kasus ini terjadi di Yogyakarta, tahun 1996. Fuan Muhammad Syafruddin atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan wartawan Udin  adalah salah satu korban dari hilangnya HAM di negeri ini. Sering bikin berita untuk mengkritisi pemerintah, bikin sosoknya dianiaya sama sejumlah oknum dan akhirnya meninggal.

Beberapa orang yang diduga jadi pembunuhnya malah jadi korban rekayasa kasus ini juga. Akhirnya sampe sekarang belum diketahui siapa otak dari kasus ini. Kalo kalian ke Jogja, coba deh perhatiin dinding-dinding jalanannya. Beberapa poster tentang wartawan Udin masih ada sampai sekarang, dan akan terus ada sampai kapanpun.

4. Munir

via: Google
(Sumber: Istimewa)

Hampir semua orang tau sosoknya karena perjuangan untuk membela keadilan HAM di Indonesia. Munir pernah menangani kasus Marsinah dan kasus penghilangan orang secara paksa 24 aktivis di tahun 1998. Dirinya diracun pake senyawa arsenik dalam perjalanannya menuju Amsterdam. Tujuan pembunuhannya engga pernah diketahui sampe sekarang, dan dalang pembunuhannya pun engga pernah terungkap.

Hari kematiannya, yaitu 7 September juga diperingati sebagai Hari Pembela HAM Indonesia. Di hari ini setiap tahunnya akan selalu ada semboyan “Menolak Lupa”, yang disuarakan sama semua orang-orang yang menyayangkan lalainya sikap pemerintah atas kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

5. Salim Kancil

Di tahun 2015, kejadian serupa masih aja terjadi. Kali ini korbannya petani yang menolak penambangan pasir liar di Lumajang. Doi menganggap kalo aktivitas ini ngerusak lahan pertanian dan pesisir pantai. Salim Kancil diikat, kemudian diseret sejauh 2 kilometer oleh preman suruhan.

Engga cuma itu, doi dipukul sepanjang penyeretan, disetrum, dan lehernya pun digergaji dengan sadis. Tapi karena Salim masih bernafas, dengan sadisnya para preman itu mukul kepalanya dengan batu hingga tewas.

Bisa dibilang semua kejadian yang dialami sama para aktivis di atas ngajarin kita, bahwa engga semua tuntutan rakyat itu bisa dengan gampang dipenuhi, walaupun nantinya kita juga yang nikmatin. Engga semua suaranya yang lantang bisa didengar, dan pada akhirnya, suara-suara itu dibungkam juga, bahkan yang menyuarakannya. Pilihannya cuma ada dua, menyerah atau balik melawannya? (sds)

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.