Senin, 26 Oktober 2020

Genmuda – Karya tertunda dari rumah produksi Blumhouse Production akhirnya resmi rilis juga, Sabtu (6/1) untuk slot midnight, dan baru tayang serentak mulai tanggal 10 Januari 2017. Berjudul “Insidious: The Last Key,” film itu sambungin langsung cerita “Insidious: Chapter 3” (2015) ke “Insidious” (2010).

Distribusi filmnya ke mayoritas negara ditanganin Universal Pictures. Tapi, ada juga distribusi ke sejumlah negara yang ditanganin Sony Pictures, United International Pics, dan Warner Bros. Semacam project campur-campur gitu, deh. Mirip kayak filmnya yang juga campur-campur.

Cenayang dari kecil

Dokumentasi Blumhouse
(Dok. Blumhouse)

Filmnya dimulai langsung setelah adegan Elise Rainier (Lin Shaye) selesai bantuin keluarga korban gangguan makhluk astral di film sebelumnya. Specs (Leigh Whannel) dan Tucker (Angus Sampson), duo pemburu hantu masih ikutin Elise ‘Si Cenayang’.

Pada suatu malam, saat tertidur, Elise mimpi buruk tentang masa lalunya. Saat itu, dia masih kecil dan punya adek cowok. Keduanya tinggal sama nyokap seorang ibu rumah tangga dan bokap seorang sipir penjara di rumah dalam kompleks penjara.

Elise selalu tau permintaan terakhir terpidana mati (saat itu, hukumannya setrum di kursi listrik), pikiran terakhirnya sebelum tewas, terus ketemu jelmaan korban hukuman mati itu masih berkeliaran di kompleks penjara.

Dokumentasi Blumhouse
(Dok. Blumhouse)

Setiap pengalaman horor itu diceritain ke orangtua, tiap itu pula bokapnya marah karena ngerasa Elise aneh. Lalu dia dikurung ke ruang bawah tanah berhantu. Nyokapnya yang pengertian nyari Elise ke ruang bawah tanah. Dia diganggu hantu sampe nyawanya dalam bahaya.

Pengalaman traumatis itu terus hantui Elise sampe dia kabur dari rumah pada masa remaja dan kini jadi nenek-nenek. Pengalaman itu pula yang harus dia hadapi di usia senja ketika dimintai tolong lewat telepon sama penghuni baru rumah masa kecilnya.

Origin story yang gak origin amat

Dokumentasi Blumhouse
(Dok Blumhouse)

Sejak masa poromosi, film keempat franchise “Insidious” ini digembar-gemborin akan menguak masa lalu Elise. Namun demikian, sama sekali gak bisa dibilang murni origin story.

Jangan berharap masa lalu Elise diceritain dengan detil dan fokus layaknya masa lalu Wolverine di “X-Men Origins: Wolverine” (2009). Masa kecil Elise cuma jadi latar belakang dalam kasus mistis di masa modern yang melibatkan dua cucunya, Melissa (Spencer Locke) dan Imogen (Caitlin Gerard).

Filmnya pun berlangsung dengan alur maju-mundur. Tenang aja. Gak bakal bingung nontonnya karena transisi masa lalu-masa sekarang-masa lalu berlangsung mulus. Selain itu tone warna antara masa lalu dan masa sekarang pun dibedain.

Iblis yang gak terjelaskan motifnya

Dokumentasi Blumhouse
(Dok Blumhouse)

Rumus umum pembuatan film keempat ini masih sama kayak film crime drama, kok. Elise dan tim pemburu hantunya bertindak sebagai cenayang penuntas kasus mistis, sama kayak polisi-detektif menyelesaikan kasus.

Ada adegan interogasi (ketika Elise mewawancarai pihak terkait untuk nyari petunjuk). Ada juga adegan kebingungan nyambungin petunjuk itu, ada plot twist keren yang gak berhubungan sama hal misteri, dan ada pengejaran.

Film crime drama selalu nampilin motif setelah modus dan pelakunya ketangkep. Namun, gak di “Insidious: The Last Key.” Motif iblis peneror orang dengan modus khususnya enggak dijelasin hingga akhir film. Jadi, penonton kebingungan kayak “Ini teror iblisnya kenapa harus gitu, yak?”

Gak nakutin tapi ngetwist

Secara keseluruhan, ada satu atau dua adegan nakutin plus ngagetin terkait hantu. Sisanya berisi dongeng, jokes dari para pemburu hantu, dan quotes heroik para tokoh. Namun demikian, twist yang disajiin di filmnya mainin asumsi dan psikologis penonton. Keren. Kesimpulannya, kamu gak perlu parno duluan sebelum nonton film ini, gaes.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.