Selasa, 5 Juli 2022

Genmuda – Kawan muda tentunya tau soal British Exiting European Union atau disingkat ‘Brexit’ kan? Itu loh proses pengambilan suara (referendum) warga Inggris terkait keanggotaan negara asal sepak bola itu di Uni Eropa.

Kamis (23/6) lalu, referendumnya telah diikuti lebih dari 30 juta warga Inggris. Berdasarkan pengumuman keesokan harinya, sebanyak 51,9% peserta referendum sepakat Inggris meninggalkan Uni Eropa. Seperti kehilangan pegangan, perekonomian Inggris pun anjlok ketika menghadapi masa baru ini.

Menurut BBC, pemungutan suara itu diikuti peserta terbanyak di antara pemilu 1992. Berdasarkan informasi Telegraph.co.uk, 24 Juni, keputusan keluar dari Uni Eropa (UE) banyak dipilih warga berusia di atas 60 tahun. Sementara anak kampus dan pemuda lebih memilih Inggris tetap di UE.

UE itu sendiri merupakan kerjasama ekonomi-politik yang melibatkan 28 negara di Eropa. Kerja sama itu dimulai setelah Perang Dunia II, dengan tujuan ngebangkitin lagi kekuatan negara-negara korban perang.

Dengan kerja sama itu, warga dan barang bisa berpindah dari Inggris ke negara anggota UE lain dengan mudah tanpa passport atau izin yang menyulitkan. Selain Inggris, negara anggota UE punya satu mata uang bersama yang diakui yaitu Euro.

Tanpa kerja sama itu, kemungkinan besar warga Inggris perlu membuat Visa untuk jalan-jalan ke dataran Eropa. Sementara itu, pekerja Inggris yang tersebar di Eropa kemungkinan perlu kembali ke negaranya. Namun, pemerintah Inggris hingga kini masih bernegosiasi dengan kandidat UE lain terkait konsekuensi keluarnya Inggris dari kerjasama multi-lateral itu.

Kenapa perlu keluar?

Inilah wajah Boris Johnson. Agak mirip Donald Trump mukanya, tapi sama sekali engga ada hubungan darah. (Sumber: Huffington Post)

Politikus Inggris Boris Johnson bersama UK Independence Party merupakan pihak yang paling galak kampanye Inggris keluar UE. Selain itu, tim mereka juga dapat dukungan lima menteri serta sejumlah politikus partai buruh.

Menurut Boris dan timnya, UE terlalu menghambat pertumbuhan ekonomi dan keleluasaan Inggris karena punya banyak sekali peraturan. Miliaran poundsterling yang disetorkan Inggris sebagai bentuk keanggotaan dinilai engga sebanding sama keuntungan yang didapat.

Ada pula alasan lain yang berbau rasis. Koalisi Boris khawatir akan kedatangan imigran dan pengungsi ke dataran Inggris. Selain itu, dikhawatirkan pendatang baru akan merebut lapangan pekerjaan dan menambah angka pengangguran warga Inggris asli.

Pihak yang menentang Boris

Inilah David Cameron yang baru aja mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri. (Sumber: Independent.co.uk)

Namun, kampanye Koalisi Boris ditentang koalisi politikus yang beranggotakan Perdana Menteri David Cameron. Cameron percaya Inggris bisa lebih Berjaya kalau menerima kemudahan dagang yang ditawarkan UE.

Cameron juga menjelaskan dampak yang kemungkinan besar akan dirasakan Inggris kalau memutus keanggotaan Uni Eropa, salah satunya adalah krisis ekonomi. Hingga pengunduran dirinya sehari setelah pengumuman referendum pun Cameron masih yakin kalau Inggris tidak akan kesulitan kalau berjalan sendirian.

Pengaruh taruhan

Uniknya, pemungutan suara ini dijadikan bahan taruhan oleh orang-orang Inggris. Ladbrokes dan William Hill, dua buah penyelenggara taruhan di Inggris mengaku ‘kebanjiran order’ menjelang hari pemungutan suara.

Matthew Shaddick, kepala taruhan ajang politik Ladbrokes bilang, “Ada sekitar 100 juta poundsterling uang yang dipertaruhkan di ajang referendum ini.” Sementara itu, William Hill menyatakan pihaknya menerima lebih dari 70 juta poundsterling uang taruhan.

Kalo kata The Guardian, “Minat taruhan acara itu setara dengan minat taruhan sepakbola atau olahraga mentereng di Inggris macam Epsom Derby dan Cheltenham Gold Cup.” Saking menariknya, sejumlah warga yang belum pernah berjudi pun ikut menggunakan uangnya buat taruhan.

Dalam taruhan ini, analis Ladbrokes memprediksi 90% peserta referendum memilih Inggris tinggal di UE dan menawarkan hadiah dua kali lipat buat siapapun yang bertaruh Inggris tinggal. Sementara peserta taruhan yang milih ‘Brexit’ ditawari hadiah hingga lima kali lipat kalo tebakannya benar.

Dikhawatirkan, tawaran penyelenggara taruhan terbesar di Inggris itu mempengaruhi hasil pemungutan suara. Namun, Shaddick menegaskan, “Semua informasi yang kami keluarkan sama sekali tidak bertujuan untuk memprediksi hasil referendum. Itu hanya untuk cari keuntungan sebesar-besarnya.” (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.