Jum'at, 7 Agustus 2020

Genmuda – Label doyan demo yang melekat bagi mahasiswa sebenarnya berbanding lurus sama prestasi universitas di bidang akademik. Selain rutin juarai kompetisi, kampus-kampus di Tanah Air juga sering bikin penemuan.

Bukan sekedar sebagai tugas kampus atau nambahin nilai, penemuan itu juga punya manfaat menyeluruh apabila diproduksi massal. Beberapa contohnya adalah temuan di bawah ini.

1. Saus tiram berbahan kerang bulu

via detik.com
(Sumber: detik.com)

Makanan seafood di Indonesia relatif lebih mahal dari pecel ayam atau lele goreng karena saus tiram, bumbu masak utama semua masakan seafood adalah barang impor. Bahkan sebagian merk saus tiramnya juga diimpor.

Peneliti IPB yang beranggotakan tenaga pengajar Departemen Teknologi Hasil Perairan tergerak ciptain produk alternatif. Mereka pun bikin saus tiram dari bahan baku kerang bulu, kerang yang produksinya melimpah di Indonesia, tanpa mengubah rasanya.

Apabila saus tiram berbahan kerang bulu itu diproduksi massal, maka ada kemungkinan harga rata-rata seafood dan masakan Tionghoa bisa lebih murah dan cocok di kantong mahasiswa.

2. Traktor terpadu

via okezone.com
(Sumber: okezone.com)

Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) IPB ngerasa agak miris sama produksi jagung yang selalu lebih rendah daripada konsumsi dalam negeri. Jadi, mereka ciptain traktor terpadu yang bisa diatur untuk mengolah tanah, memupuk, atau menanam.

Alat serba bisa itu bikin jam kerja petani mengolah satu hektar lahan berkurang dari 480 jam (lebih dari 20 hari kerja) jadi 7,7 jam. Berdasarkan hasil penelitian, prototipe traktor terpadu itu punya nilai efisiensi hingga 83,78%.

3. Minuman tempe

via okezone.com
(Sumber: okezone.com)

Kedelai fermentasi alias tempe terkenal punya manfaat mengobati hipertensi alias tekanan darah tinggi. Sampe detik ini, tempe baru bisa dikonsumsi setelah dibumbui dan diolah. Dimakan langsung juga bisa, sih. Gak ada yang ngelarang. Tapi, rasanya agak aneh di lidah orang Indonesia.

Maka, sejumlah peneliti dari IPB (lagi) ciptain minuman tempe dalam bentuk bubuk siap seduh. Setelah penelitian dilakuin terhadap 30 orang usia 22-55 tahun, minuman tempe itu terbukti bisa jadi obatan alternatif bagi penderita tekanan darah tinggi dan kolesterol berlebih.

4. Pengolah limbah batik

via hargo.co.id
(Sumber: hargo.co.id)

Di balik keindahan motif dan warna, batik Pekalongan gak lepas dari limbah produksi. Pencemaran air terus terjadi karena sisa-sisa cat dan warna yang terbuang ke saluran air selama memproduksi batik.

Biar kualitas air di Pekalongan gak memburuk, anak-anak UI bikin instalasi pengolah limbah batik portable (Plato) di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik UI Prof Dr Ir Slamet MT.

Prototipe Plato dirancang supaya gampang dipakai pelaku batik rumahan. Air limbah yang diolah alat canggih itu pun berpotensi bisa dipakai lagi untuk produksi batik selanjutnya. Jadi, warga juga bisa menghemat penggunaan air.

5. Genting ramah lingkungan

via undip.ac.id
(Sumber: undip.ac.id)

Fungsi genting (genteng) sebagai penghalau rumah dari segala perubahan cuaca kini bertambah berkat genteng canggih karya anak-anak Undip. Dibuat dari bahan nano silika dan nano zeolit, Genting Beton Estetika (Genetika) juga punya fungsi menyerap gas emisi.

Dengan kata lain, Genetika bukan cuma tahan air dan anti bocor, tapi juga bikin rumah lebih asri dan adem. Kondisi itu pada akhirnya bikin pengguna Genetika gak perlu keseringan nyalain kipas dan AC. Menurut data, konsumsi energi pengguna Genetika berkurang sampe 17%.

6. Kapal tenaga surya

via republika.co.id
(Sumber: republika.co.id)

Batharakala dan Triton, dua kapal tenaga surya buatan tim dari ITS beraksi di Yanagawa Solar Boat Festival 2016, Fukuoka, Jepang. Kapal tenaga uap itu adalah modifikasi dari kapal yang dibikin sejak 2014. Tahun 2016, kapal tenaga surya ITS sempat berlaga di ajang Dutch Solar Challenge (DSC).

Bayangin deh kalo teknologi itu dipake massal sehingga kapal gak perlu lagi beli bahan bakar untuk beroperasi. Harga barang-barang bisa lebih murah karena ongkos perkapalannya juga turun kali, ya?

7. Pendeteksi kesehatan jarak jauh

via eng.ui.ac.id
(Sumber: eng.ui.ac.id)

Real Time Telemonitoring System (RTTS) buatan tim lintas fakultas UI bantu dokter dan perawat memantau kesehatan pasien rawat jalan dari jarak jauh secara realtime. Begitu ada perubahan kondisi, para petugas medis bisa mengetahuinya secara langsung.

Alatnya dilengkapi sensor EKG, sensor denyut nadi, dan sensor suhu tubuh. Dengan besar kayak kotak P3K dan berat di bawah 2 kilogram, RTTS gampang dipakai dan harganya terjangkau. Hak paten alat itu digarap sama Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis UI.

8. Kumble Store

via unpad.ac.id
(Sumber: unpad.ac.id)

Eits, inovasi besar gak mesti diciptain dengan latar belakang ilmu alam. Latar belakang ilmu sosial juga bisa. Contohnya adalah Kumble Store bikinan anak-anak Unpad. Bisnis tas keren itu dibangun berdasarkan keinginan untuk mengolah limbah pakaian bekas.

Jeans bekas pun diubah jadi tas dengan bentuk stylish yang anak kampus banget. Cocok juga dipake untuk anak SMA. Secara teoritis, bisnis itu bukan cuma bantu upaya pelestarian lingkungan, tapi juga berdayain masyarakat yang bekerja jadi pembuat tasnya.

Kita doain aja supaya invoasi di atas bisa jadi selegendaris inovasi terdahulu macam kontainer nuklir temuan Yudi Utomo atau teknik sosrobahu untuk bangun jembatan temuan Tjokorda Raka Sukawati. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.