Rabu, 19 Juni 2024

Genmuda – Insting dan alam bawah sadar memungkinkan seseorang cepet menilai orang lain tanpa banyak berinteraksi. Penilaiannya bisa positif sehingga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama atau sebaliknya, negatif sehingga sebel tanpa sebab yang jelas.

Berbagai penelitian dilakuin untuk mengetahui sebab masing-masing perasaan bisa muncul mendadak. Penyebab love at first sight ada hubungannya dengan aroma dan penampilan, seperti yang penelitiannya bisa diliat di sini.

Sementara itu, jumlah penyebab hate at first sight jauh lebih banyak dan berlaku buat semuanya tanpa mandang jenis kelamin. Beberapa di antaranya terangkum di bawah ini. Berguna banget biar terus disukai temen dan dapet jodoh. Hehehe.

1. Kebanyakan posting foto di Facebook

Penelitian David Houghton dan tim riset Universitas Birmingham Inggris, 2013, bilang, efek kebanyakan memposting foto berpengaruh dengan hubungan di dunia nyata. Keluarga bakalan gak suka kalo foto temen yang diunggah lebih banyak. Sementara itu, temen akan ngerasa bosen kalo foto-foto keluarga yang kebanyakan diunggah. Kalo kebanyakan foto selfie, dua-duanya yang muak.

2. Kebanyakan atau terlalu dikit temen di Facebook

Jumlah temen di Facebook juga memicu kebencian mendadak, menurut riset Michigan State University, 2008. Makin jauh jumlah temen satu akun dengan akun lain, makin besar kebencian tak beralasan di antara keduanya.

Misalnya, gini. Orang yang friendsnya 1.000 cenderung lebih nyaman berinteraksi sama akun yang jumlah temennya gak jauh dari itu. Akun dengan friends lebih rendah dipandang kurang gaul sementara yang friendsnya lebih tinggi dianggap terlalu sombong.

3. Curcol terlalu dini

via tenor.com

Psychologytoday.com, 2014, bilang, ‘curhat colongan’ terlalu dini merupakan simbol keputusasaan seseorang mencari temen dan merupakan interaksi yang gak pada tempatnya. Siapa sih yang gak risih sama orang baru kenal yang tau-tau curhat rahasia terdalam doi.

Curcol sebaiknya dilakuin sama temen deket. Kalo sama temen baru, baiknya ngomongin hobi, sedikit bahas kerjaan, dan hal-hal lain yang masih termasuk dalam kriteria “biodata dasar.”

4. Kebanyakan nanya tanpa cerita

Obrolan akan berjalan lancar tanpa garing selama ada timbal-balik, menurut riset di ResearchGate.com, 2013. Gak boleh ada satu pihak yang mendominasi cerita atau malah bertanya terus-menerus tanpa mau ditanya.

5. Nyembunyiin perasaan

via theglorydazeblog.wordpress.com

Tampil cool dengan muka dingin seolah gak berperasaan cuma keliatan keren di dalam foto doang. Dalam pergaulan sehari-hari, orang yang nyembunyiin perasaannya justru susah disukai.

Riset Universitas Oregon Kanada, 2016, bilang, orang yang nyembunyiin perasaan justru keliatan seperti orang yang tertutup, gak punya jiwa sosial, dan sulit mendekatkan dirinya dengan orang lain.

6. Terlalu baik

Namun begitu, bukan berarti seseorang harus perez. Soalnya, orang yang berlagak terlalu baik juga bikin orang lain ngerasa muak dan sebagian curiga dengan maksud tersembunyi di balik niatan baiknya, menurut Harvard Business Review, 2010.

Nunjukin sedikit sisi galak atau egois lebih baik supaya dipandang sebagai orang yang engga sembunyiin niat buruk. Soalnya, engga ada kan satupun yang mau ditipu orang yang dianggap teman.

7. Merendah untuk meroket

via tenor.com

Merendah untuk meroket selalu nyebelin kata Harvard Business Review, Agustus 2017. Efeknya paling berpengaruh pada wawancara kerja tapi juga terasa dalam pergaulan sehari-hari.

8. Punya nama sulit

Nama yang susah disebutin macam Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwemuhwem Ossas bikin orang pada kesel. Riset di ScienceDirect, 2012 terhadap tingkat elektabilitas nyimpulin, politikus dengan nama gampang dieja lebih disukai daripada politikus bernama susah.

9. Gak suka sama seseorang

Semua orang seneng saat disukai orang lain. Gak perlu riset untuk mengonfirmasi hal itu. Begitu juga sebaliknya. Orang yang kebanyakan bilang doi gak suka orang lain atau sampai ngejelek-jelekin seseorang, imagenya jelek. Hal itu dikonfirmasi riset tahun 1959 yang terpublikasi di SAGE Journals, 1959.

10. “Eh, kenal sama si anu gak lo?”

Cici: “Kak. Kenalan, Kak. Aku Cici. Anak baru di kantor ini.”

Gilang: “Halo, Ci. Dulu tuh lo kuliah di mana sih?”

Cici: “Di Fikom UNPAD, kak”

Gilang: “Keren. Temen gue juga ada tuh yang kuliah di Fikom UNPAD. Lo kenal Cahya senior lo?”

Kamu pasti pernah merasa tertekan dengan pertanyaan macam itu seperti yang dirasain Cici atau mungkin juga jadi kayak Gilang. Bahan obrolan name dropping macam itu gak pernah ngenakin dari jaman dulu sampe sekarang. Riset Universitas Zurich, 2009, udah mengonfirmasi hal itu, loh. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.