Sabtu, 22 September 2018

Genmuda – Mengambil latar awal tahun 90an, sebuah pertujukan Immersive Dining di Indonesia diperkenalkan oleh mahasiswa S1 Event Universitas Prasetiya Mulya pada Selasa, (10/7), di Dapur Babah Elite, Jakarta Pusat.

Menggabungkan seni pertunjukan teater sambil menikmati makanan, Genmuda.com dan tamu undangan lainnya, diajak untuk ikut terlibat dalam pertunjukan bertajuk “The Agony of Princess Wu”. Kolaborasi seni pertunjukan ini juga dikenal dengan nama Theatrical Appetite.

©THEATRICAL APPETITE/SMARA
©THEATRICAL APPETITE/SMARA

Pertunjukan dimulai dengan kehadiran para tamu sebagai cucu dari Oma yang dijamu oleh para asisten rumah tangganya. Sambil menikmati jamuan makan malam, pertunjukan dimulai dengan narasi dari Opa kepada para cucunya. Di sinilah pertunjukan teaternya tersajikan dengan keterlibatan antara pemain dengan para tamu.

Dari mulai menu pembuka, utama, hingga penutup, setiap tamu diberikan pengalaman menarik dari pertunjukan yang masih terbilang baru di Indonesia itu. Pertunjukan “Theatrical Appetite” ini juga menyimpan pesan akan pentingnya kesetian dan waktu dalam sebuah keluarga.

Berawal dari tugas kuliah

Ide pertunjukan ini emang berawal dari tugas kuliah anak-anak Fakultas Event. Namun demikian, Smara, sebagai tim penyelenggara, udah melakukan riset hampir 8 bulan belakangan untuk pementasan ‘The Agony of Princess Wu’.

Menurut Christopher Gunawan, project manager Smara, mereka lebih dulu melakukan riset pada ceritanya kemudian menggandeng grup teater dalam pementasan Theatrical Appetite. Menariknya, ide cerita pementasan kali ini juga terinpirasi dari kisah nyata di salah satu daerah Indonesia.

“Indonesia memiliki segudang cerita yang masih bisa diceritakan ke publik dengan berbagai pesan moral yang bisa diambil. Kedepannya kami akan terus mencoba untuk dapat menggali cerita lainnya untuk bisa dinikmati oleh masyarakat luas.”, jelas Christopher.

Baru di Indonesia, tapi cukup potensial

©THEATRICAL APPETITE/SMARA
©THEATRICAL APPETITE/SMARA

Gak seperti di Indonesia, pertunjukan Immersive Dining justru berkembang pesat di belahan dunia lain, seperti Queen of The Night dari New York, Secret Studio Lab dari Hong Kong, The Murder Express yang telah dikenal di London. Oleh sebab itulah banyak potensi yang bisa digarap dari industri hiburan tersebut.

Menurut, Reza Hidayat, salah produser film “Bangkit!” dan film “Susi Susanti” yang akan tayang tahun ini, Immersive Dining sangat penting untuk dikembangkan di Indonesia. Ditambah lagi banyak sekali sumber cerita daerah yang bisa dieksplorasi.

“Pengalaman kita sebagai penonton bisa ada di sebuah adegan itu jelas fun banget. Penghargaan luar biasa lagi, ini kan seni yang gak bisa dibajak. Lo tampil dan harus improvisasi kalo salah. Jadi potensinya buat berkembang ini ada banget dan wajib didukung banyak pihak.” papar Reza.

©THEATRICAL APPETITE/SMARA
©THEATRICAL APPETITE/SMARA

Menyinggung tentang adanya cerita daerah, diakui oleh Neki Reinarto, selaku dosen di mata kuliah Performing Arts, di Fakultas Event, Universitas Prasetiya Mulya, hal tersebut sudah menjadi syarat wajib yang diharus mahasiswanya angkat.

“Indonesia itu kaya akan folklore, oleh sebab itu dalam mata kuliah ini mereka diharuskan untuk mengeksplor tiap cerita daerah.” paparnya.

Neki juga berharap jika nantinya pertujukan seperti Immersive Dining dapat menciptakan bisnis kreatif baru. “Harapannya supaya setiap mahasiswa juga bisa ngerasain langsung rasanya membuat suatu acara, dan tentunya tidak melupakan nilai-nilai budaya mereka sendiri.”

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.