Senin, 14 Oktober 2019

Genmuda – Crowdsourcing dan crowdfunding jadi dua istilah yang disebut-sebut sebagai fungsi utama internet yang ngedukung inovasi terbaru. Lewat dua hal itu bisa bikin netizen ngediriin perusahaan bermodalkan internet, atau bahkan menggalang pengumpulan dana bagi para korban bencana.

FYI, crowdsourcing diartiin sama kamus Merriam-Webster sebagai upaya ngumpulin barang, jasa, atau informasi (biasanya sih informasi) lewat komunitas-komunitas yang ada di internet. Sementara crowdfunding disebut sama Entrepreneur.com sebagai upaya ngumpulin dana melalui netizen yang jumlahnya ratusan juta dan tersebar dari seluruh dunia.

Nah, dua hal itu ternyata bisa dimanfaatin netizen buat bikin solusi menanggulangi krisis yang terjadi di dunia dan bikin netizen lain jadi makin care. Penasaran? Yuk cek kisah-kisahnya di bawah ini:

1. Ridwan Kamil galang ratusan juta dana bantuan lewat KitaBisa.com

via Genmuda.com
(Sumber: Istimewa)

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil lewat akun Instagramnya mengajak semua netizen buat nyumbang buat korban Banjir Garut dan Sumedang lewat KitaBisa.com. Kang Emil nargetin sumbangannya mencapai 100 juta rupiah. Dalam beberapa jam aja, sumbangannya langsung membeludak. Waktu Genmuda.com cek, Jumat sore (23/9), sumbangannya udah mencapai Rp 436.672.697. Masih ada 5 hari lagi buat ikutan nyumbang.

2. Organisasi sosial menggalang relawan di IndoRelawan.org

via Indorelawan.org
(Sumber: IndoRelawan.org)

LSM kanker anak Yayasan Pita Kuning, LSM pendidikan Umbrella Freedom, dan LSM keluarga SOS Children Village merupakan sekian dari ratusan nama besar di dunia organisasi sosial yang merekrut relawan lewat IndoRelawan.org. Semua organisasi di situs itu punya tujuan mulia buat ngebantu orang-orang yang membutuhkan. Tim IndoRelawan.org juga ngelakuin verifikasi buat mastiin kalo lapak yang dibuka emang beneran buat membantu dan bukan sekadar ‘tipu-tipu.’

3. Journalismfund.eu yang ‘nganterin’ berita faktual di antara hoax internet

via UN.org
Wartawan lagi pada kerja. (Sumber: UN.org)

Wartawan, editor, dan netizen di Eropa yang peduli sama dunia jurnalistik juga bergerak buat diriin JournalismFund.eu. Itu adalah situs yang menyajikan berita, artikel, atau tulisan lain yang berkualitas. Situs ini dibuat dengan harapan supaya warga Eropa punya satu sumber berita yang informasinya tepat, di antara sumber-sumber berita lain yang cuma nyari sensasi. Gak heran juga kalo situs ini menjadi pedoman wartawan Eropa buat nulis berita.

4. Nyari solusi buat krisis air bersih lewat situs crowdfunding

via gizmag.com
Menara bambu yang memanen uap air di udara buat mengatasi krisis air di Afrika. Menara ini hasil pendanaan salah satunya berasal dari situs crowdsourcing, loh. (Sumber: gizmag.com)

Peneliti pun punya ruang berkarya berkat adanya situs-situs crowdfunding. Mereka jadi bisa menghasilkan produk buat mengatasi krisis air bersih yang masih terjadi di belahan dunia lain, terutama di Afrika. Namun semua itu bisa terjadi, selama netizen mau menyumbang lewat situs crowdfunding-nya. Kemudian para ilmuwan dapat langsung ngelanjutin penelitian mereka meski tanpa bantuan pemerintah. Jadi kesimpulannya invoasi bisa terjadi karena ada internet. Ntap!

5. Mengurangi pengangguran

via kompas.com
Anggota komunitas Rewo-Rewo, komunitas desainer Desa Kaliabu sedang ngumpul. (Sumber: Kompas.com)

Kalo engga percaya, kisah nyatanya terjadi di Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di desa terpencil itu, ratusan warganya merupakan desainer logo yang nyari ide terus menjual karyanya di internet. Bahkan, Kompas.com, tahun 2015 lalu ngabarin kalo ngedesain logo merupakan mata pencaharian utama mereka saat ini. “Kalau menang kompetisi, hadiahnya bisa ratusan juta dolar,” kata Yunan Hamami, warga yang diwawancarai Kompas.com.

Jadi kalo ada yang bilang internet itu bisa memicu kelahiran inovasi baru, bantu orang, bahkan sampai ngebuka lapangan kerja. Semua itu bisa aja terjadi. Selama kita semua ada kemaun untuk lebih baik. *tsah! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.