Sabtu, 20 Juli 2019
Kekinian

Demi Regenerasi Seniman Muda Indonesia, Hellofest Kembali Digelar

©Genmuda.com/2016 TIMKiri-kanan: Perwakilan Badan Ekonomi Kreatif Hari Sungkari, sutradara Angga Dwimas Sasongko, pencetus Hellofest Wahyu Aditya, dan festival director Arie Octaviani waktu press conference, Kamis (1/9). (©Genmuda.com/2016 TIM)

Genmuda – Hellofest rencananya kembali diadain tahun ini, tepatnya pada 24-25 September di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat dengan lebih mengusung konsep movie concert. Selain sebagai pagelaran film pendek karya anak negeri, acara ini bisa jadi langkah penikmat seni buat masuk ke ranah profesional.

Soalnya panitia berhasil mengundang deretan tokoh perfilman Indonesia bahkan melibatkan Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf). Kontes film pendek pun rencananya diadakan sepanjang acara tersebut. Panitia udah ngumpulin 501 film yang jadi pesertanya.

Sebanyak 136 film merupakan film animasi, 121 non animasi, dan 244 film merupakan short movie yang durasinya cuma 8 detik. “Kreativitas sineas jadi teruji karena perlu menyampaikan pesan lewat film dengan durasi yang pendek,” kata Wahyu Aditya (Waditya), penggagas Hellofest waktu konferensi pers, Kamis (1/9).

Selain nonton ratusan film dengan HTM mulai dari Rp 52.500 untuk presale, Rp 77.500 on the spot, dan Rp 82.500 tiket terusan, Waditya bilang masih ada alesan lain buat Kawan Muda dateng ke Hellofest. Apa aja itu, yuk liat penjabaran sang kreator di bawah ini:

1. Bisa jadi juri film

©Genmuda.com/2016 TIM
Sutradara Angga Dwimas Sasongko (tengah) lagi cerita soal keikutsertaannya di Hellofest yang sangat mengasah kemampuan perfilmannya, menjawab pertanyaan Sogi Indra Dhuaja (paling kiri) yang jadi MC. (©Genmuda.com/2016 TIM)

Semua fans short movie dan movie goers pada umumnya bisa jadi juri kontes film pendeknya, loh. Soalnya panitia udah nyiapin kategori film animasi, non-animasi, dan film pendek 8 detik favorit pilihan penonton. Cara jadi jurinya gimana? Dateng aja dulu. Kapan lagi yekan bisa menentukan nasib orang lain layaknya seorang dosen pas ujian.

2. Banyak inspirasi

Waditya bilang, film pendek pada umumnya mengandung banyak inspirasi. “Sineas yang ikut kontes ini biasanya sangat kreatif dalam memanfaatkan durasi 8 menit dan 8 detik yang kami sediakan. Filmnya pun mengandung pesan yang sangat inspiratif,” kata Waditya.

3. Tempatnya makin nyaman

Supaya pengunjung engga protes kepanasan, panitia menggelar kegiatan di Plenary Hall & Main Lobby JCC, Senayan. “Kami ingin acara ini ‘naik kelas,’ jadi mengadakannya di JCC,” kata Waditya kepada Genmuda.com

Bukan cuma itu, panitia pun ngedesain area acara menjadi sebuah taman indoor. “Ada rumput-rumputnya juga buat nongkrong sambil nonton film. Tapi rumputnya dari plastik, bukan rumput beneran. Hehe…” jelas Waditya.

4. Kontennya makin beragam

©Genmuda.com/2016 TIM
Waditya berfoto untuk para wartawan. (©Genmuda.com/2016 TIM)

Bukan hanya jadi pestanya sineas dan penikmat film pendek, acara taun ini dirancang juga buat anak-anak digital dan penggemar media sosial. Sejumlah tokoh medsos yang diundang misalnya Pinot artis Vine, bomber grafiti yang dikenal dengan nama Popo, dan komik Si Juki yang lagi viral di medsos.

5. Bisa dapet lisensi hak cipta / hak kekayaan intelektual

Waditya bilang, kerjasama dengan BEKraf dilakukan buat ngedorong orang-orang kreatif Indonesia mendapat lisensi buat karyanya. “Peserta Hellofest juga berkesempatan mendapat lisensi itu secara gratis,” kata Waditya.

Hari Sungkari yang mewakili BEKraf di konferensi pers bilang, “Kami sedang mencari karakter unik untuk lebih di tonjolkan di media. Diharapkan karakter itu bisa tenar dan jadi brand tanpa perlu dibuatkan film. Kalau di luar negeri, seperti Hello Kitty misalnya.”

So, yakin deh kalo Hellofest 2016 bakal berjalan makin kece karena konsep dan kesiapan panitianya udah mateng banget. Sekarang giliran kamu yang bersiap-siap buat nonton salah satu festival film dan seni visual tergokil bulan ini. Are you ready? (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.