Minggu, 22 September 2019

Genmuda – Nama Kunto Aji beberapa tahun belakangan ini kembali ngeramein industri musik Tanah Air. Setelah sempat ngilang dari panggung hiburan, doi akhirnya udah siap buat kembali berkarya dengan idealismenya sendiri.

Sosok Kunto Aji mulai dikenal masyarakat sejak doi ikutan musim kelima ajang pencarian bakat Indonesia Idol di tahun 2008 yang lalu. Walau belum mampu buat keluar sebagai juara, seengganya doi udah sukses melaju sampai ke babak empat besar sebelum akhirnya harus rela tereliminasi.

Namun demikian, usai Indonesian Idol, Kunto Aji sempat engga terdengar kabarnya selama beberapa saat. Hingga akhirnya, doi mendadak kembali dengan sebuah single fenomenal berjudul ‘Terlalu Lama Sendiri’ di tahun 2014 dan ngerilis sebuah album bertajuk ‘Generation Y’ di akhir tahun lalu. Buat lebih jelasnya, berikut ini hasil penuturan Kunto Aji terkait perjalanan karir dan kehidupannya.

Genmuda: Halo Mas, bisa diceritain engga Mas gimana awal mula tertarik ke industri musik?

Kunto Aji: Jadi, awalnya tuh musik adalah hobi saya. Passion saya sebenarnya dari kecil di bidang entrepreneur. Dari kecil saya suka jualan hadiah ciki, saya pernah bikin bisnis sendiri, dan sampai kuliah saya sempat bikin clothing-an karena waktu itu juga banyak distro.

Tapi musik adalah bagian dari hidup saya. Menginjak masa SMP, SMA, dan sampai kuliah, saya mencari penghasilan tambahan dari musik. Pada saat itu saya lebih banyak ke ngebandnya sih. Kalo yang solo saya ikut festival lomba nyanyi dan segala macam.

Sampai akhirnya, saya kuliah pun ambil akuntansi. Saya engga mengambil musik karena tadi emang passion saya awalnya adalah ekonomi. Lalu, di sela-sela masa penantian wisuda, itu ‘kan orang nunggu wisuda biasanya engga ada kegiatan atau kerjaan. Nah, saya didaftarkan oleh salah satu teman untuk ikut ajang pencarian bakat itu.

©Genmuda.com/2016 Everlyn
Kunto Aji menceritakan perjalanan kariernya di dunia musik kepada Genmuda.com ©Genmuda.com/2016 Everlyn

Tapi, pada saat itu saya masih merasa apa iya saya bisa menembus industri. Saya sendiri ‘kan tinggal bukan di Jakarta dan saya melihat emang barrier-nya itu cukup tinggi untuk kami yang ada di daerah untuk bisa menembus Jakarta. Terutama emang ya saya mengakui saya punya idealisme saya sendiri dalam bermusik. Sampai akhirnya didaftarkan teman, saya iseng coba dan itu pertama kalinya saya ikut ajang pencarian bakat.

Saat lolos, akhirnya tiba-tiba saya udah berada di tengah-tengah industri musik. Saya engga kenal siapa-siapa pada saat itu, tapi dibantu oleh beberapa orang yang akhirnya menjadi kenal. Saya kebingungan harus melakukan apa karena saya engga menang pada saat itu. Kuliah saya D-3 udah selesai, tapi saya sempat mau lanjut S-1 di UI. Saya punya nazar kalo saya engga masuk, saya mau fokus di musik. Dan karena pada saat itu engga masuk, ya udah saya lanjut untuk di industri musik.

Pada masa setelah selesai Indonesian Idol itu, ya saya belajar di dalam industri musik dan industri hiburan itu networkingnya, proser produksi, dan marketing harus seperti apa. Sampai kemudian, saya berada di satu titik yang saya merasa saya siap. Akhirnya, sekarang saya mengeluarkan karya saya sendiri dengan manajemen saya sendiri, karena idealisme yang saya punya bisa dibilang engga nyambung dengan yang ada di dalam industri.

 

Genmuda: Tapi, dari keluarga ada latar belakang musik engga sih, Mas?

Kunto Aji: Kebetulan ibu saya seorang penyanyi café. Dia seorang perantau juga dari Sumatera ke Jogja. Dia seperti saya menghasilkan uang tambahan dengan bernyanyi dari café ke café, tapi masih sebatas itu.

 

Genmuda: Terus, dari tahun 2008 sampai 2014 sempat ngilang, itu sebenarnya Mas ngapain aja sih?

Kunto Aji: Bisa dibilang vakum, karena saya engga punya karya. Cuma yang jelas pada saat itu sebenarnya saya mencoba banyak hal. Saya sempat mencoba main film, jadi presenter, dan segala macam, dalam artian itu adalah upaya saya untuk mengerti apa yang sedang saya hadapi, karena saya benar-benar datang dari desa dan saya engga tau di Jakarta bakal kayak apa. Itu salah satu upaya saya untuk mengenal orang-orang yang ada di dalam industri.

Saya masih nyanyi off air dan segala macam sebagai singer. Cuma, untuk menuju apa yang saya mau, saya butuh bekal ilmu. Makanya, saya mencoba banyak hal dan ketemu banyak orang untuk tau segala macam.

Cuma saya percaya suatu saat bakal menjadi ‘renaissance kedua’, bahwa di era digital semua pola industri akan berubah.”

Saya juga menyadari era digital ‘kan sedang datang. Saya mencoba YouTube juga, tapi YouTube saat itu belum sebesar sekarang. Cuma saya percaya suatu saat bakal menjadi ‘renaissance kedua’, bahwa di era digital semua pola industri akan berubah. Pada saat itu, saya udah berpikir bahwa era ini akan datang, di mana suatu saat seniman bisa mempunyai karyanya sendiri sesuai dengan apa yang dia mau.

Sampai akhirnya, saya merasa siap dengan ilmu yang saya punya. Saya bikin manajemen sendiri dan saya berproses untuk kemungkinan saya akan bikin label sendiri.

 

Genmuda: Dengan waktu enam tahun, menurut Mas itu worth it engga sih?

Kunto Aji: Worth it atau engga menurut saya timing dari yang Di Atas itu yang paling benar. Saya menyadari sekali kalo misalnya saya keluar katakanlah tiga tahun yang lalu, mungkin karya saya engga akan bisa diterima seperti sekarang karena kondisi industri musiknya pada saat itu, di mana sedang eranya musik melayu, lalu band, lalu eranya boyband, dan segala macam. Mungkin ketika saya mengeluarkan karya saya secara idealisme saya, saya engga akan diterima seperti sekarang. Jadi, karena era digital inilah yang justru membantu saya.

Jadi, menurut saya ya itu pasti worth it. Worth it atau engga ‘kan kita menilainya dari banyak hal, apakah worth it di waktunya atau di apa yang didapatkan sekarang. Apa yang didapatkan sekarang pun sudut pandangnya banyak sekali. Tapi, yang jelas timing-nya adalah yang terbaik.

 

Genmuda: Lalu, saat Mas akhirnya bisa ngerilis single di 2014, itu sempat ada kekhawatiran kayak bakal diterima pasar atau bisa bangkit lagi engga, Mas?

Kunto Aji: Justru sebaliknya, pada saat itu ‘Terlalu Lama Sendiri’ saya buat untuk market yang kecil. Di era digital, pada saat itu udah sangat menjanjikan untuk musisi bisa hidup dari market yang dia mau. Dalam artian, saya ingin menciptakan market saya sendiri yang engga usah besar-besar atau luas-luas banget, tapi mereka mau menghargai karya saya, membeli CD saya, datang ke setiap saya manggung, dan mereka support saya. Tapi, Alhamdulillah menurut saya itu emang rejeki banget dan itu faktor keberuntungan juga bahwa lagu saya bisa diterima seperti sekarang.

 

Genmuda: Terus, dari yang tadinya terkenal, sempat ngilang, terus terkenal lagi, itu prosesnya sebenarnya kayak gimana? Apa yang orang engga tau dari proses panjang itu?

Kunto Aji: Banyak yang orang engga tau adalah ke mana aja, ngapain aja, dan segala macam. Saya selalu bilang bahwa saya berproses. Selama enam tahun itu ‘kan saya bukannya engga ngapa-ngapain. Sekarang saya bisa berdiri sendiri dengan kaki saya dari yang engga tau apa-apa sama sekali ‘kan itu butuh waktu untuk bisa belajar.

Sampai sekarang pun saya masih belajar, karena masih ada banyak hal yang belum sesuai untuk saya bisa berjalan dengan tim saya yang kecil ini secara independen. Tapi, udah sangat cukup untuk saya bisa menghidupi diri sendiri dan karyawan-karyawan saya.

Jadi, enam tahun itu proses belajar yang sebentar menurut saya. Banyak orang yang belajarnya sampai 10 atau 20 tahun. Ketika saya jelaskan berproses dan belajar, mungkin beberapa orang engga menangkap, tapi saya tunjukkan dengan apa yang saya hadapi sekarang.

 

Genmuda: Ada kiat khusus gitu engga Mas buat bersaing dengan pendatang baru?

Kunto Aji: Seperti tadi saya jelaskan bahwa sebenarnya saya engga menyasar untuk market yang besar. Saya mengejar market yang kecil tapi loyal. Cuma, Alhamdulillah saya dapat rejeki untuk yang banyak. Jadi, kembali lagi untuk tujuan dan target saya di awal.

Menurut sepenglihatan dan riset saya bersama teman-teman di manajemen, market yang besar itu sangat fluktuatif sekali dan itu faktor keberuntungan banget. Kalo saya sih saya fokus pada market yang saya mau, karena mereka bisa menerima musik saya.

Musisi sekarang dituntut untuk tau dulu sisi bisnisnya di musik. Jadi, ketika dia menciptakan karya dia tau karyanya ini akan dijual di mana, marketnya siapa, bagaimana cara menyampaikan ke mereka, dan bagaimana cara engage dengan mereka. Bukan berarti musisi sekarang jadi kurang idealis dengan karyanya, tapi justru malah sebaliknya. Musisi yang tau bisnisnya itu bisa menjaga idealisme mereka dalam bermusik.

 

Genmuda: Nah, untuk album ‘Generation Y’, sejauh apa album tersebut ngewakilin idealisme dan pemikiran Mas sendiri?

Kunto Aji: Album ini Alhamdulillah saya udah dapat 100% yang saya mau, cuma emang di kepala saya masih banyak hal yang mau saya tulis dan kembangkan. Tapi, secara treatment, album ini udah 100% banget saya pegang kendali, semua saya yang nentuin. Saya puas banget untuk album ini dan untuk diri saya sendiri.

 

Genmuda: Tapi, di era digital kayak sekarang ini, kenapa Mas masih tertarik jualan CD plus box set dan dengan konsep jualan lewat Go-Jek?

Kunto Aji: Satu hal, era digital bukan berarti mematikan hal-hal yang substansial, dalam arti kita membangun engagement dengan penggemar. Kenapa saya masih nyetak CD karena CD ini saya persembahkan untuk orang-orang yang emang menghargai karya dan mau men-support saya. Oke lah ada layanan streaming, tapi kadang ada orang yang benar-benar pengen men-support dan engga mungkin ‘kan saya menggalang dana dan minta mereka transfer ke rekening saya?

Saya menyediakan CD yang bukan hanya dibungkus plastik dan kertas, tapi CD yang benar-benar saya konsep langsung dengan salah satu seniman seni rupa yang lagi naik daun, yaitu Mas Farid Stevy. Tahun lalu, dia menang AMI untuk desain grafis terbaik lewat album Sheila On 7.

Saya brainstorm dengan dia untuk bikin karya yang ada activity-nya di situ. CD saya cover-nya itu bisa di-customize sesuai dengan apa yang dimau oleh yang punya CD. Itu adalah salah satu cara saya untuk membangun engagement dan menerjemahkan apa yang ada di albumnya.

“Kita harus mengolah kreativitas kita dengan mencari stream revenue di bidang lain untuk bisa menghidupi karya kita.”

Activity dan kolaborasi itu ‘kan merupakan bentuk-bentuk anak sekarang banget, Generasi Milenial, Generation Y. Kreativitas mereka begitu tinggi untuk menyuarakan kata hatinya dan apa yang ada di kepalanya dengan media yang banyak sekali. Jadi, CD ini saya jual terbatas untuk penggemar setia saya yang mau menghargai saya, tapi bukan sekedar beli CD aja.

Saya buat CD ini dengan sangat niat dan ini adalah salah satu bentuk kepuasan saya. Saya juga toh engga nyetak banyak. Saya mungkin naif, tapi saya engga bodoh, dalam artian mau melawan pembajakan itu engga akan mungkin. Kita harus mengolah kreativitas kita dengan mencari stream revenue di bidang lain untuk bisa menghidupi karya kita. Banyak banget yang bisa digali.

©Genmuda.com/2016 Everlyn
©Genmuda.com/2016 Everlyn

Kalo Go-Jek itu adalah salah satu bentuk kreativitas juga. Itu idenya spontan banget sebenarnya, saya dan teman-teman gila-gilaan aja. Orang Go-Jek pun pas kami temui bertanya kami yakin atau engga. Sampai akhirnya, penjualannya lumayan bagus dan mereka terkesan untuk membuat hal yang seperti itu. Hal-hal yang seperti ini engga bisa saya jalankan kalo saya berada di kendali orang lain.

Kedua, Go-Jek adalah salah satu bentuk saya untuk engagement dengan pendengar. Di era digital ini, gap antara musisi atau seniman dengan orang yang mendengarkan karyanya itu semakin tipis. Itu hal yang bagus dan saya suka banget karena karya saya dua arah. Kalo kita membangun jarak, orang malah engga begitu suka. Yang terlalu selebriti gitu anak-anak sekarang kayaknya engga suka, mereka suka yang dekat dengan mereka.

Nganterin langsung beberapa CD dengan Go-Jek itu ‘kan bentuk engagement yang saya bangun dengan penggemar saya. Jadi, semua yang saya lakukan itu linear dan melambangkan tentang Generation Y yang kolaboratif, lebih tech savvy, ekspresif, dan lain-lain.

 

Genmuda: Kalo activity dalam karya Mas sendiri seperti apa?

Kunto Aji: Activity ‘Akhir Bulan’ itu pun bentuk engagement, seru-seruan aja dengan hal-hal yang kecil. Saya juga engga mau terdengar terlalu serius, karena ‘kan album saya kesannya aja udah serius banget. Single saya yang baru judulnya ‘Akhir Bulan’ dan dari awal saya pikir itu bisa diolah banget.

Emang itu paling gampang dan paling enak [bikin lagu cinta], tapi ‘kan engga harus selalu itu dan masih banyak tema lain.”

Isunya banyak orang yang alamin, cuma kenapa engga ada yang ngangkat? Kenapa lagu semua harus tentang cinta? Emang itu paling gampang dan paling enak, tapi ‘kan engga harus selalu itu dan masih banyak tema lain.

Dengan adanya activity ‘Akhir Bulan’, itu justru lebih menarik dan banyak orang bisa relate sama mereka. Misalnya saya bikin yang terakhir #KeceAkhirBulan. Saya bikin kuis dan yang menang bisa potong rambut gratis bareng saya selama satu tahun. Hal-hal gitu ‘kan buat saya dan tim tinggal kerja sama dan eksekusi, tapi buat mereka itu berkesan.

 

Genmuda: Terus, Mas sendiri ‘kan udah berkeluarga dan sebentar lagi jadi bapak. Gimana caranya Mas bisa tetap nunjukin jiwa muda Mas?

Kunto Aji: Kalo menurut saya ini fase kehidupan. Yang jelas, itu masalah kesiapan. Di lagu ‘Terlalu Lama Sendiri’ juga ‘kan saya tulis bahwa “nanti pasti ada waktunya”. Saya ngejalanin dengan jadi diri saya aja sendiri. Engga usah terlalu yang membuat gap dengan teman-teman, misalnya tiba-tiba saya bergaulnya dengan bapak-bapak atau gimana.

“Intinya lebih menjadi diri sendiri dan engga terlalu serius aja dengan kehidupan”

Saya santai aja dan kebetulan istri saya juga termasuk yang santai. Mungkin orang melihatnya antara yang berjiwa muda sama yang engga itu dari sisi bersenang-senangnya, padahal engga juga. Intinya lebih menjadi diri sendiri dan engga terlalu serius aja dengan kehidupan.

 

Genmuda: Dengan kesibukan dan karir yang lagi memuncak, sepenting apa keluarga dan gimana Mas bagi waktunya?

Kunto Aji: Penting banget. Buat saya, keluarga nomor 1. Keluarga adalah support system utama saya. Saya engga mungkin sampai di sini tanpa support mereka. Mereka selalu support saya dari nol banget. Apa aja buat keluarga saya pokoknya.

 

Genmuda: Nah, ngomongin soal hobi, Mas ‘kan salah satu hobinya main games. Gimana cara Mas bagi waktu, mengingat orang main games ‘kan bisa ngabisin waktu berjam-jam? Terus, main games itu masih sejalan atau nunjang pekerjaan Mas juga engga sih?

Kunto Aji: Saya yakin sih pasti bisa bersilangan, maksudnya mungkin bisa di-monetize tapi saya belum menemukan caranya. Yang jelas, hobi itu ya emang saya suka. Saya masih sempat main games dulu sebelum tidur di rumah.

Mau punya anak pun saya kepikiran nanti anak saya mau saya ajarin dan kalo dia tertarik dia akan saya sekolahin buat bikin games atau semacamnya. Di era digital ini, industri games pun bisa jadi profesi, bukan hanya pemain tapi juga pencipta games-nya dan segala macam. Jadi, saya santai aja.

 

Genmuda: Apa aja games favoritnya, Mas?

Kunto Aji: Wah, banyak banget. Semua games saya mainin dan yang paling saya suka itu RPG. CS sama Dota saya juga main. CS saya tim mana aja. Tapi, Dota parah banget, dalam artian sangat menyita waktu. Akhirnya saya sampai uninstall dan udah deh saya beralih ke games yang lain aja.

 

Genmuda: Ngomongin soal kesehatan, Mas pernah kolesterol sampai dirawat 3 bulan ya. Terus, gimana sekarang kiat Mas buat jaga kesehatan? Ada pesan engga buat Kawan Muda biar engga ngalamin hal serupa?

Kunto Aji: Iya saya sempat kolestrol. Dengan profesi seperti ini, saya dilema sekali. Kita ‘kan hampir tiap weekend ke luar kota dan weekdays juga masih kerja. Kalo kita engga makan, kita sakit. Kalo sok-sok diet, itu susah nyari makanannya. Keluar kota ‘kan engga mungkin engga makan enak.

Kayaknya anak-anak muda sekarang lifestyle-nya lebih sehat. Jadi, jangan saya sih yang kasih saran hehehe. Tapi, kalo saya sendiri sih ya lebih banyak minum air putih aja untuk nyeimbangin makannya yang parah dan jam tidurnya juga kurang.

 

Genmuda: Balik lagi ke musik, Mas ‘kan udah dapat beberapa penghargaan, termasuk Anugerah Planet Muzik. Menurut Mas, itu udah cukup belum sih buat kembali nunjukin eksistensi Mas di industri musik?

Kunto Aji: Penghargaan itu bentuk apresiasi yang penting sekali menurut saya. Penghargaan yang objektif adalah kunci untuk menciptakan industri yang lebih sehat. Untuk menunjukkan comeback sih bukan itu tujuan saya. Tapi, untuk apresiasi ini, saya amat sangat senang dan bersyukur sekali.

Penghargaan sangat membantu saya untuk membangkitkan spirit saya dalam membuat sesuatu yang lebih bagus lagi, apalagi melihat nominator yang lain juga keren-keren semua. Jadi, menurut saya bukan jadi bentuk saya untuk comeback, dengan saya bisa berkarya dan karya saya diterima orang banyak itu udah jadi pembuktian untuk diri saya sendiri bahwa saya bisa.

©Genmuda.com/2016 Everlyn
Dalam kesehariannya cowok satu ini ngaku kalo ‘menjadi diri sendiri’ adalah kunci paling penting dalam proses kreatif miliknya ©Genmuda.com/2016 Everlyn

Genmuda: Lantas, rencana atau impian besar apa yang masih mau Mas wujudin?

Kunto Aji: Banyak banget. Saya baru punya album satu, pengennya bisa punya banyak album dan bisa terus berkarya. Saya juga belum punya konser sendiri. Dari yang konvensional kayak album dan konser pun menurut saya banyak yang bisa dikembangin. Saya masih ingin mewujudkan ide-ide yang liar.

 

Genmuda: Tiga kata apa yang bisa ngegambarin diri Kunto Aji?

Kunto Aji: Kompleks, santai, dan idealis. Kalo kompleks, maksudnya untuk membuat sesuatu saya memperhitungkan banyak hal. Saya percaya bikin karya engga ada matematikanya, tapi harus ada pengetahuan dasarnya dulu dan ngerti apa yang diomongin. Saya juga kompleks karena saya suka membuat sesuatu yang konsepnya linear.

Itu berkaitan dengan idealisme yang saya bawa dalam berkarya. Kalo santai, mungkin ya saya ketika serius saya bisa sangat serius dan ketika bercanda saya bisa sangat bercanda. Jadi, saya santai, tapi kalo udah bikin sesuatu saya benar-benar mikir.

 

Genmuda: Terakhir, apa pesan Mas buat Kawan Muda yang juga pengen berkarya?

Kunto Aji: Satu, menambah referensi. Kenapa menambah referensi? Karena tujuannya adalah untuk menciptakan karakter sendiri. Karakter itu dalah suatu hal yang sangat penting untuk menjadi musisi atau seniman. Kalo referensinya engga banyak, jadinya akan nyontek atau ngekor doang.

(sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer