Sabtu, 8 Agustus 2020

Genmuda – Ngadain acara di musim ujan kayak sekarang ini bisa dibilang emang gambling-nya minta ampun. Hal serupa terjadi pula pada LaLaLa Festival, yang sempat terganggu guyuran hujan tapi akhirnya tetap berakhir meriah.

LaLaLa Festival pada dasarnya merupakan sebuah festival musik hutan internasional pertama di Indonesia. Acara tersebut diselenggarain di Cikole, Lembang, Bandung, Sabtu (5/11) dengan ngehadirin beragam bintang tamu dari dalam dan luar negeri.

Jan, hujan, turun lagi…

via ©Genmuda.com/2016 TIM
Vokalis MYMP saat menyanyikan lagu ‘Especially For You’
©Genmuda.com/2016 TIM

Mulanya, LaLaLa Festival berjalan mulus saat baru dimulai sekitar pukul 13.00 WIB, salah satunya lewat penampilan Teza Sumendra di panggung utama LaLaLa Stage. Walau ada beberapa booth yang tampak masih sibuk persiapan, seengganya hal tersebut bukan penghalang yang berarti buat keseluruhan acara.

Justru, yang bikin acara jadi ngaret minta ampun engga lain dan engga bukan adalah hal yang Genmuda.com bahas di awal, yaitu masalah hujan. Hujan deras yang terus ngeguyur sepanjang siang akhirnya maksa sebagian besar artis buat nunda penampilannya selama beberapa jam, dimulai dari Kimokal di LaLaLa Stage dan MYMP di Future Stage. Bahkan, ada pula yang penampilannya sampai dibatalin, yaitu penampilan dari Isyana Sarasvati.

Untungnya, hujan deras yang engga berhenti-berhenti cuma terjadi di siang hari. Di malam harinya, paling cuma terjadi gerimis-gerimis kecil aja, itupun 5 menit udah kelar. Alhasil, palingan para penonton cuma harus berhadapan dengan beceknya lokasi, yang udah kayak medan pertempuran ‘Benteng Takeshi’. Apalagi buat yang dari siang udah stand by di LaLaLa Festival, pasti bakal mager banget deh buat pindah atau jalan ke mana-mana lagi.

Makin malam, makin seru

via ©Genmuda.com/2016 Gabby
Penampilan Maliq & D’Essentials di LaLaLa Festival di Hutan Pinus Cikole, Lembang, Bandung, Sabtu (5/11) ©Genmuda.com/2016 Gabby

Sementara itu, dari segi penampilan yang cukup ditunggu-tunggu di LaLaLa Festival, di malam hari salah satunya ada penampilan dari Jasmine Thompson. Dengan busana pepaduan warna biru dan hitam, doi tampil ngebawain sejumlah lagu bareng band-nya, baik lagunya sendiri maupun lagu cover. Namun demikian, lagu terakhir yang doi bawain tampaknya merupakan lagu yang paling berkesan buat para penonton, yaitu ‘Ain’t Nobody’.

Menyusul setelah Jasmine, ada Maliq & D’Essentials yang tampil kompak seperti biasanya. Tadinya, mereka dijadwalin tampil lebih dulu sebelum Jasmine Thompson. Tapi, berhubung ada penyesuaian jadwal, mereka akhirnya baru tampil sekitar pukul 21.00 WIB. Beberapa lagu andalan pun sukses mereka bawain dengan enerjik dan tanpa jeda, mulai dari ‘Setapak Sriwedari’, ‘Himalaya’, sampai ‘Pilihanku’.

Hingga kemudian di puncak acara, yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tampil juga. Yup, Kodaline hadir di atas panggung tepat pukul 22.30 WIB. Hampir semua penonton yang hadir ikutan nyanyi di setiap lagu yang mereka bawain, khususnya ‘Ready’, ‘The One’, dan ‘All I Want’. Mereka juga nyambut baik setiap kali personil Kodaline nyebut kota Bandung dan nyapa mereka.

Banyak hal perlu dievaluasi

via ©Genmuda.com/2016 Gabby
Penampilan Jasmine Thompson di LaLaLa Festival di Hutan Pinus Cikole, Lembang, Bandung, Sabtu (5/11) ©Genmuda.com/2016 Gabby

Well, secara keseluruhan, lineup LaLaLa Festival sebetulnya keren-keren banget, Kawan Muda. Tapi, dari segi penyelenggaraan dan penanganan acara, sayangnya ada banyak hal yang masih perlu dievaluasi oleh pihak penyelenggara. Salah satu contoh yang paling signifikan adalah masalah keamanan.

JSYK, di acara apapun, seharusnya ada pengumuman tentang panduan keselamatan kalo terjadi keadaan darurat, mulai dari lokasi titik kumpul, lokasi tim medis, sampai letak pintu keluar darurat. Namun demikian, Genmuda.com engga ngelihat adanya pemberitahuan semacam itu sepanjang acara. Kalopun ada, itu pun cuma sekali dan justru cuma ngebahas soal barang-barang yang engga boleh dibawa.

Selain itu, buruknya penerangan di venue LaLaLa Festival juga jadi masalah tersendiri bagi penonton. Apalagi buat mereka yang pengen ke tempat penjualan makanan dan harus ngelaluin jalanan yang super becek, hal itu jelas bisa aja ngebahayain mereka. Ditambah dengan engga adanya papan informasi dan kesulitan buat ngehubungin langsung PIC utama acara (perwakilan resmi EO, promotor, atau semacamnya) di samping kru yang mayoritas volunteer, penonton pun bisa makin tersesat.

Engga ketinggalan, pihak LaLaLa Festival juga kurang sigap dan komunikatif dalam ngeinfoin adanya perubahan jadwal artis, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Selama kurang lebih empat jam waktu kosong di antara penampilan Teza Sumendra dan Kimokal, penonton kayak dibiarin bengong gitu aja ngelihatin panggung yang kosong. Banyak pengungjung yang mengharapkan minimal ada pemberitahuan supaya penonton bisa tetap tenang dan tertib disampein beberapa kali dalam kurun waktu tersebut.

Intinya, secara konsep LaLaLa Festival emang lain daripada yang lain. Tapi, dalam nanganin konsep yang demikian, tentu dibutuhin persiapan yang amat sangat matang buat ngehindarin hal-hal yang engga dipengenin. Berhubung pihak penyelenggara udah berani ngambil risiko dengan ngegunain embel-embel “The FIRST International Forest Festival in Indonesia“, otomatis penonton punya ekspektasi yang tinggi. So, kalo tahun depan acara tersebut bakal diadain lagi, semoga aja bisa lebih baik dari tahun ini. (sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer