Kamis, 3 Desember 2020

Genmuda – Main game atau nonton video dengan suasana ekstra immersive atau bahkan 4D sebenernya cuma jadi satu manfaat kecil perangkat VR yang ada di pasaran. Karena, ilmu kedokteran manfaatin perangkat ‘gaming’ itu sebagai alat terapi yang efektif.

Perangkat-perangkat itu sebenernya bisa bantu pasien stroke buat kembali gerakin anggota tubuhnya. Game yang bikin badannya bergerak di rumah sakit pasti bikin rehabilitasi gerak terasa lebih seru, engga ngebosenin dan penuh stres.

Veteran-veteran perang pun bisa kembali bangkitkan gairah hidupnya dengan ‘berperang’ di kondisi yang aman. Soalnya, sekali terjun ke medan perang, kondisi psikologis para veteran bakal bikin mereka semacam merindukan momen penuh perjuangan tapi berbahaya itu.

Mirip kacang goreng

via pandawhale.com

Cara-cara terapi itu sebetulnya udah terpikir di dunia medis sejak puluhan tahun lalu. Hanya saja, teknologi di masa itu belum memungkinkan. Belom ada yang bisa buat perangkat VR yang ngeluarin grafis hampir mirip dunia nyata. Apa lagi bikin motion sensor.

Sementara sekarang, teknologi VR bisa diibaratkan seperti ‘kacang goreng.’ Ada di mana-mana. Harganya pun relatif murah. Sebut aja Samsung Gear VR, Google Daydream View, XiaoMi VR Play, VicoVR, dan perangkat lain yang harganya sekitar 1 juta hingga 3 jutaan rupiah.

“Tinggal menghitung detik saja ada penelitian kedokteran soal manfaat VR untuk kesehatan dan terapi,” ujar Andrea Stevenson Won, asisten profesor di Universitas Cornell Amerika Serikat. Doi belajar soal virtual embodiment. Pendapatnya dikutip situs Live Science, 14 November lalu.

Merangsang indra sensoris

Begitu penelitian dasar tadi terbit, Stevenson Won yakin kalo perusahaan-perusahaan VR bakal bikin inovasi lebih ‘gila’ lagi. Hal yang sama juga dibilangin Danielle Levac, asisten profesor Jurusan Physical Therapy Universitas Northeastern AS.

“Saya yakin akan muncul perangkat yang membuat kulit merasa sentuhan seperti dalam game. Hidung pun lama-lama bisa mencium aroma yang ada di game dengan perangkat masa depan itu,” tuturnya.

Teknologi itu berguna banget buat bantu pasien lumpuh buat terdorong supaya kembali jalan. Level dalam game ‘rehabilitasi’ ini pun bisa diatur sesuai kondisi pasiennya. Pasien yang lumpuhnya parah main game yang paling mudah, begitu juga sebaliknya.

Merangsang otak

via sheawong.com

“Sejumlah penelitian bilang, teknologi VR bisa merangsang tubuh melakukan gerakan yang kemungkinan besar belum pernah terpikirkan sebelumnya,” kata Levac. Engga tertutup kemungkinan orang yang engga bisa salto jadi bisa salto gegara dilatih menggunakan VR.

Pendapat itu udah dibuktiin Stevenson Won ke salah satu pasiennya yang kesakitan kalo bergerak. Pasiennya disuruh main game VR yang memaksa doi menendang-nendang balon hingga pecah.

Karena merasa senang dan terdorong dapet high-score, para pasien engga ngerasa kesakitan waktu bergerak waktu mereka main VR. Karena itulah Stevenson Won dan Levac yakin perangkat itu sejatinya bukan merupakan perangkat game, tapi perangkat terapi fisik.

Skor masing-masing pasien pun bisa jadi pedoman buat bikin diagnosis terbaru. Pasien yang skornya paling tinggi ada kemungkinan udah hampir sembuh dari lumpuhnya. Sementara yang paling rendah mungkin masih perlu direhab lagi. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.