Senin, 3 Agustus 2020

Genmuda – Rasa takut (fear) sering disama-samain artinya dengan perasaan lain, seperti cemas, gelisah, stres, dan grogi. Padahal, rasa ‘takut’ levelnya jauh lebih dalem daripada perasaan negatif lainnya.

Studi Dr Katherine Brownlowe, kepala Divisi Kesehatan Neurobehavioral Wexner Medical Center, Ohio, Amerika Serikat seperti dikutip livescience.com, Oktober lalu bilang kalo ketakutan yang sebenernya selalu berhubungan sama kematian atau keselamatan diri sendiri.

Karena itu orang takut sama ketinggian, hewan buas, petir, jelmaan malaikat pencabut nyawa, berhubung semua itu bisa mengganggu keselamatan. Selain itu, Brownlowe juga sebutkan fakta-fakta di bawah ini.

1. Insting bertahan hidup

via gfycat.com

Dalam kehidupan liar, rasa takut merupakan bagian dari insting bertahan hidup. Predator yang takut mati kelaparan pun bakal ngeluarin seluruh kemampuannya buat berburu. Hematnya insting udah pasti dimiliki sama setiap makhluk hidup.

2. Bisa ngasih kekuatan

Kalo dihadapi, rasa takut bisa ngasih kekuatan super. Misalnya aja waktu dikejar anjing. Karena takut digigit, kecepatan lari dan stamina mendadak meningkat jauh dari sebelumnya. Sungai selebar empat meter pun juga bisa dilompatin. *lebay

3. Rasa takut berevolusi

YOLO

Seperti halnya manusia, rasa takut juga berevolusi. Contohnya, manusia jaman sekarang lebih berani ngobrol dengan orang lain karena ada hukum dan norma yang melindungi seseorang dari perbuatan jahat orang lain. Sementara itu, di jaman tanpa hukum, manusia purba sangat berhati-hati dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Salah ngomong dikit aja bisa runyam.

4. Manusia bisa memilah rasa takut

Meski semua makhluk hidup mengalami ketakutan, cuma manusia yang bisa memilah-milahnya sesuai skala prioritas. Misalnya aja, ketika seseorang memilih cabut kerja buat jenguk pacarnya di rumah sakit. Itu berarti rasa takut kehilangan seorang pacar jauh lebih besar, daripada takut kehilangan pekerjaan. *drama

5. Makin sering dihadapi makin berani

via tumblr.com

Selain itu, cuma manusia yang ibaratnya bisa ‘naik level’ setelah menghadapi rasa takutnya. Misalnya aja, rasa takut berbicara sama orang lain akan terasa sepele begitu orang itu berhasil hadapi ketakutan yang lebih besar lagi, misalnya aja sewaktu dia sekarat.

Kesimpulannya, manusia takut karena ngerasa engga bisa menghadapi suatu hal. So, engga perlu takut lakuin hal baru karena nantinya kamu bakal terbiasa. Asal jangan terjun payung tanpa parasut aja. Tulis komentar kamu di bawah ini, dong. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.