Senin, 30 November 2020

Genmuda – Pencarian jati diri masih jadi tema utama adaptasi anime “Ghost in the Shell” (GITS) karya Rupert Sanders. Tapi, dialog filosofis Mayor Motoko Kusanagi soal eksistensialisme di anime berubah jadi monolog ala Mayor Mira Killian (Scarlett Johansson) yang lebih mudah dimengerti.

Ya, tim produksi mengubah nama mayor cyborg berotak manusia yang ikonik itu jadi nama orang kulit putih untuk menyesuaikan pemerannya. Sebuah langkah yang terbilang tepat supaya fans Kusanagi engga banyak marah-marah.

Film yang disutradarai Rupert Sanders dengan dukungan para produser Paramount Picture dan Dreamworks Studio ini ngegabungin beberapa poin menarik seluruh saga GITS, baik dari komik dan anime. Akan tetapi, plot besar kisahnya sesuai dengan alur cerita “The Puppeteers” di anime terbitan 1995.

Sebuah tim kompak

via Istimewa
Ka-ki: Ishikawa, Saito, Togusa, dan Batou siap beraksi jadi backingan si Mayor. (Sumber: Istimewa)

Film yang area syutingnya di Wellington, Selandia Baru ini dimulai dengan nyeritain momen terciptanya cyborg bercangkang buatan Hanka Robotics yang diisi otak Mira Killian. Untuk pertama kalinya, terciptalah entitas baru yang gabungin keunggulan manusia dan robot.

Perusahaan robot yang punya hubungan erat dengan pemerintah itu nugasin Mira ke Divisi 9 kepolisian. Setahun berlalu, karier perempuan “paling sempurna” itu melejit hingga bergelar mayor. Dia berpartner dengan Batou (Pilou Asbæk), Togusa (Chin Han), Ladriya (Danusia Samal), dan Ishikawa (Larusa Ratuere).

Mereka beroperasi di bawah komando inspektur tertinggi Aramaki (Takeshi Kitano) yang punya tangan kanan seorang penembak jitu, Saito (Yutaka Izumihara). Kerja tim yang sangat kompak ini selalu lancar, hingga akhirnya menyelidiki kasus peretasan robot sebagai alat pembunuhan.

Ketika menyelidiki kasus rumit itu, Motoko Kusanagi yang paling mengalami guncangan. Dia terancam kehilangan jati diri dan kepercayaannya terhadap manusia ketima menemukan kebenaran di balik skandal peretasan tersebut.

Casting pemeran pembantu yang tepat

via Istimewa
Takeshi Kitano (belakang) ladi diskusi dialog sama Rupert Sanders sang sutradara. (Sumber: Istimewa)

Terlepas dari kritik tajam terkait salah casting pemeran utama (harusnya orang Asia yang meranin Major, bukan orang kulit putih), casting pemeran pembantunya pas banget. Salut untuk sosok Batou, Pak Aramaki, dan Togusa.

Pilou Asbæk bener-bener nampilin Batou yang tenang dan bertangan dingin dengan baik. “Batou Moment” muncul saat adegan satu lawan banyak di sebuah club malam. Cowok kekar bermata cyborg ini menumbangkan belasan penjahat tanpa buang-buang banyak peluru.

Sementara itu, Takeshi Kitano dengan akting tenangnya menghidupkan sosok Aramaki yang bad ass. Dengan dialog Bahasa Jepang, aktingnya sebagai pemimpin tertinggi Divisi 9 Kepolisian mengeluarkan karisma layaknya samurai, daimyo, atau bahkan Shogun Jepang.

via Istimewa
Robot geisha ini bikin scene awal terasa banget serunya. (Sumber: Istimewa)

Chin Han juga relatif cocok peranin tokohnya. Muka aktornya yang emang udah ‘songong’ pas banget waktu dialog Togusa membanggakan kemurnian manusianya. Selain Pak Aramaki, doi satu-satunya anggota Divisi 9 yang sama sekali engga memasang perangkat cyborg ke tubuhnya dan bangga akan hal itu.

Dari sisi penjahatnya, karakter Kuze (Michael Pitt) yang paling bikin emosi terombang-ambing. Penonton dibikin galau antara mau bersimpati atau menentang, sama seperti yang dirasain Motoko Kusanagi waktu menyadari motif itu. Keempat aktor itu seolah-olah emang terlahir buat perannya di film ini.

Audio-visual yang oke

via Istimewa
(Sumber: Istimewa)

Daya tarik film adaptasi ini ada pada adegan-adegan laga, sementara daya tarik GITS 1990an terletak di dialog yang penuh misteri dan bikin penasaran. Secara umum, itu adalah kabar baik. Tapi, tetep ada plus-minusnya.

Plusnya, efek visual dan scoring mantap GITS modern yang memperkuat adegan laganya adalah sumber inspirasi baru buat para produser film sci-fi atau mecha. Sumpah. Keren banget, terutama waktu adegan terakhir, Mira Killian vs Spider Tank.

Minusnya, dialog-dialog antar karakter secara umum terasa hambar. Misteri besar yang seharusnya bikin penonton agak mikir malah diomongin secara tersurat. Genmuda.com yakin kalo pesan penting itu disajikan secara tersirat pasti efeknya lebih besar dalam mengaduk-aduk emosi dan logika penonton.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.