Rabu, 27 Januari 2021

Genmuda – Cinta anak SMA identik sama cinta monyet atau malah cinta pada pandangan pertama. Semua perasaan bisa campur aduk menjadi satu. Ada unyu-unyunya, romantisnya, hingga sisi gelapnya.

Cerita cinta itulah berusaha ditampilkan oleh Edwin sutradara “Babi Buta yang Ingin Terbang” (2008) dan “Poscard from the Zoo” (2012) dalam film terbarunya yang berjudul “Posesif.” Tayang sejak Kamis, 26 Oktober 2017, film ini menawarkan banyak pesan positif buat Generasi Muda. Nih, review lengkapnya, gengs!

Cinta anak SMA

©PALARI FILMS
©PALARI FILMS

Lala (Putri Marino), seorang atlet loncat indah dan siswi berprestasi tanpa sengaja bertemu dengan Yudhis (Adipati Dolken), murid baru di sekolahnya. Lala yang tengah mengerjakan ujian susulan di ruang guru, membantu Yudhis yang berusaha menggambil sepatunya karena disita. Tanpa sadar kedua malah ‘ketangkap bahas’ dan harus menjalani hukuman dari guru olahraga.

Dari situ Lala mulai merasakan cinta pertama pada sosok Yudhis, cowok yang baik dan sederhana. Setelah mereka resmi pacaran, cowok kalem itu mengucap janji setia kepada Lala. Biarpun romantis, namun janjinya malah menimbulkan masalah yang lebih rumit.

Janji setia Yudhis mulai menghalangi karir Lala yang tengah mengikuti seleksi atlet. Belum lagi, setelah pacaran, hubungan Lala dengan sahabatnya, Ega (Gritte Agatha) dan Rino (Chicco Kurniawan) semakin kompleks karena sifat Yudhis yang cemburuan.

Masalah demi masalah mulai menghampiri Lala. Ia seolah dihadapkan pada pilihan, karir, keluarga, teman, atau hubungannya dengan Yudhis. Terus apa ya yang akhirnya dipilih dan dikorbankan oleh Lala?

Tapi, pesannya ‘ngena’ gak cuma di anak SMA

©PALARI FILMS
©PALARI FILMS

Problematika kehidupan remaja yang diwakilkan oleh tokoh Lala dan Yudhis emang terasa ngena buat semua anak muda, gak terbatas cuma anak SMA doang. Karena pada usia muda itulah setiap keputusan bisa diambil secara gegabah tanpa memikirkan dampaknya di masa depan.

Naskah film yang ditulis oleh Mba Gina S Noer “Habbie Ainun” (2012), berhasil mengeksplor sebuah janji manis ‘cinta monyet’ menjadi sisi kelam yang bisa aja terjadi pada semua orang. Dan tanpa harus melulu fokus pada Lala, penonton juga diberikan gambaran nyata kenapa Yudhis bisa sebegitu posesifnya terhadap Lala.

Lewat kondisi remaja yang masih mencari jadi diri, film “Posesif” ikut pula menyentil peran besar keluarga. Beruntung ada sosok Cut Mini, –sebagai ibu kandung Yudhis, dan Yayu Unru, –sebagai ayah Lala. Akting kedua aktor senior tersebut berhasil membuat jalan cerita film lebih terasa sentimentil, terutama jika dikaitkan pada perkembangan kedua anak mereka.

Sinematografinya epik

Dalam durasi 102 menit, film “Posesif” berhasil menawarkan banyak kemungkinan terburuk dari sebuah hubungan percintaan. Jalan cerita yang ditulis oleh Mba Gina emang berhasil digarap dengan baik oleh Edwin. Dan sebagai penonton, kamu mungkin bakal terjebak pada alur cerita yang tarik-ulur, tapi tetep bikin penasaran.

Untuk kualitas akting, dua pemeran utama, Adipati dan Putri cukup berhasil memainkan emosi penonton sejak awal hingga akhir film. Dengan mengambil lokasi syuting di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tiap adegan di film dapat diambil sangat detil. (Bahkan saking detilnya, penulis bisa nemuin foto Nabilah JkT48 di buku tahunan Lala.)

Pemilihan musik dalam film juga cukup deket di kuping anak muda kok, contohnya lagu “Dan” Sheila On 7 dan “No One Can Stop Us” Dipha Barus bareng Kallula. Selain itu masih ada lagu-lagu dari Banda Neira, Matter Halo bareng Nadin, Afternon Talk, Gardika Gigih, hingga Pagi Tadi.

Secara keseluruhan, “Posesif” gak cuma menceritakan sisi manis cinta pertama, justru karena saat jatuh cinta itulah seseorang bisa melakukan apa aja yang kadang sulit diterima sama nalar. Ya, namanya juga cinta, kadang-kadang suka gak masuk akal kan? Buat kamu yang penasaran, tonton dulu nih cuplikan trailernya.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.