Jum'at, 10 Juli 2020

Genmuda – Perkembangan teknologi di Indonesia terbilang porak-poranda. Kemunculan teknologi baru jauh lebih cepat daripada perkembangan undang-undang, peraturan, dan pendidikan yang merupakan fondasi penting. Akibatnya, kemajuan teknologi mendorong perubahan secara keseluruhan.

Pesan penting itu disampaikan para narasumber pembukaan dan konferensi pers pameran teknologi Indocomtech di Jakarta Convention Center Senayan, Rabu (1/11). Hadir sebagai pembicara, yaitu Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo Ismail MT dan Ketua Umum Yayasan Apkomindo Hidayat Tjokrodjojo.

Ada juga Direktur Consummer Bank BRI Handayani, Direktur Utama BRI Indra Utoyo, Ketua Apkomindo Rudi Muljadi, dan pastinya Direktur Traya Events Bambang Setiawan sebagai penyelenggara. Meski mereka semua bilang kemajuan teknologi yang cepat sebagai hal positif, anak muda harus selalu siap menghadapi perubahannya. Misalnya, hal di bawah ini.

1. Data pribadi gak pribadi lagi

Dengan masuknya berbagai aplikasi ke dalam ponsel, berbagai perusahaan makin masuk ke kehidupan tiap orang. “Mereka kan selalu bisa melacak, merekam, dan mengolah jejak-jejak digital tiap pengguna internet, sesuai data penggunaan aplikasinya,” kata Pak Ismail.

Dia lanjutin, “Tiap kali aplikasi meminta izin mengakses informasi tertentu, tiap itu pula informasinya masuk ke dalam bank data mereka.” Salah satunya, tiap aplikasi bisa melacak keberadaan, pola hidup, dan daya beli tiap orang. Dari segi positifnya, Big Data seperti itu bermanfaat dalam urusan perbankan.

“Cukup melihat data perilaku konsumen dari jejak digitalnya, bank bisa menentukan kredit atau program lain yang pas untuk orang itu. Tak perlu lagi proses penelitian (assessment) yang panjang,” tutur beliau. Buruknya, tiap perusahaan jadi bisa melacak keberadaan netizen.

Di Indonesia, menggunakan data pribadi buat melacak keberadaan seseorang belum diatur ketat sama undang-undang. Pak Ismail bilang, pemerintah kini sedang merancang undang-undang perlindungan privasi. Peraturannya masih dalam “tahap pembahasan awal.”

2. Mobile Information and Communication Technology

Atau, disingkat MICT, menurut Pak Hidayat. Beliau memprediksi, segala kegiatan manusia di dunia nyata pada akhirnya bisa dilakuin lewat telepon genggam. “Kasusnya kali ini sudah terjadi. Misalnya, dengan munculnya segala aplikasi yang membuat orang bisa melakukan banyak hal hanya dengan gerakan jari,” tuturnya.

Salah satu ciri MICT, yaitu perubahan bentuk teknologi dari yang dulu besar kemudian menjadi lebih mudah dibawa ke mana-mana. Beliau pun gak menutup kemungkinan nantinya tercipta alat lain yang gantiin teknologi lama.

“Misalnya, sebuah alat kecil yang diciptakan khusus untuk transaksi digital,” tuturnya kepada Genmuda.com.

3. Otomatisasi segalanya

“Segala pekerjaan manusia yang bisa digantikan mesin, pada akhirnya akan tergantikan. Maka, bersiaplah,” tutur Pak Indra Utoyo dalam sesi konferensi pers siang. Dalam dunia perbankan, kegiatan yang sifatnya transaksional kini sudah mulai terganti.

Kecuali,  pekerjaan macam marketing, advokasi, dan bidang lain yang pasti butuh manusia karena erat kaitannya dengan kreativitas, tutur Pak Indra. Contohnya gak usah jauh-jauh. Coba aja liat peralihan gerbang tol dari transaksi tunai ke transaksi cash-less.

“Dari satu sudut pandang, nasib para pekerja yang kemudian digantikan mesin memang terlihat kasihan. Dari satu sisi, justru mereka memperoleh kesempatan baru. Pertama, untuk hidup jauh dari polusi. Kedua, untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi,” kata Pak Hidayat.

Ibu Handayani punya usul. “Segala perubahan yang terjadi akibat kemajuan teknologi sebenernya memudahkan tiap orang untuk menjadi pengusaha. Tak perlu modal untuk sewa tempat, tiap orang kini bisa buka toko,” tuturnya.

4. Voting digital

Oke. Poin ini gak Genmuda.com dapet dari narasumber di atas, melainkan dari Pak Rudy guru SMK 1 Cimahi, Jawa Barat, yang pada acara itu menangin lomba karya tulis tentang pemanfaatan teknologi. Beliau bercerita, hampir semua kegiatan di sekolah berbasis digital.

Beberapa materi pelajaran bahkan ujian pilihan ganda di sekolah itu dilakuin secara digital loh, gaes. “Saat ini, para siswa juga sedang melaksanakan pemilihan ketua OSIS berbasis digital. Menggunakan server sekolah, mereka merancang program voting beserta sistem keamanan datanya sendiri,” tutur Beliau.

5. Mini PC

Kebayang gak sih punya PC kelas Intel i7 generasi 5 yang besarnya cuma segede sneakers, bisa masuk tas, dan gampang dibawa ke mana-mana? Gak usah bingung ngebayanginnya. Sekarang udah ada. Misalnya, mini PC keluaran Shenzen Share Technology, perusahaan komputer mini asal Tiongkok.

Karena bentuknya yang mini, harga komputer tersebut juga terbilang mini. Yaitu di bawah 2 juta rupiah untuk komputer standar kerja, hingga 3 jutaan untuk komputer yang dilengkapi chip i7. Semua itu udah termasuk VGA card bawaan.

Eva Su, selaku Overseas Sales Director menyiratkan, komputer ringan tersebut akan sangat berguna buat pemakaian di sekolah dan kantor pemerintahan. Ketika brand yang berdiri tahun 2000-an ini bikin komputer hi-end untuk ngegame, barulah para PC Gamer lirik-lirik.

Kesimpulannya, pendidikan itu penting, gaes! Bukan cuma pendidikan teoritis di sekolah, tapi juga pendidikan praktik di jalan (atau yang juga disebut street smart / street knowledge). Karena, cuma dengan kreativitas macam itu, anak muda bisa nikmatin kemajuan teknologi. Bukanya pasrah doang sebagai konsumen. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.