Jum'at, 27 November 2020

Genmuda – Di medsos, hampir tiap postingan punya sela yang bisa disanggah. Awalnya cuma pengen komentar, lama-lama berkembang jadi debat gak sehat yang ngerusak pertemanan. Topiknya bisa macem-macem, mulai ngomongin politik, agama, atau malah perselingkuhan seleb-seleb.

Selain itu, ada juga sih komentar nyeletuk gak penting yang bikin obrolan selanjutnya bikin ngakak sendiri. Nah, kalo lo pengen mencerahkan kolom komentar supaya dipenuhi jokes dan becandaan, mending hindari menggunakan kata-kata super sensitif dan nyinyir seperti di bawah ini.

1. “Ini cuma rekayasa”

via giphy.com

Sah-sah aja untuk gak mempercayai sebuah postingan, tapi bukan berarti lo harus jadi orang paling menyebalkan di galaksi yang sembarangan nulis komentar “rekayasa.” Meski lo bener, komentar pedes itu selalu bikin perdebatan. Pasti nanti ada yang menyanggah dan ngasih penjelasan panjang lebar kalo yang diposting tuh gak palsu.

Atau, bisa-bisa bernasib kayak Ahmad Rifai Batubara yang bilang bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta adalah rekayasa semata. Gak lama setelah komentar itu, doi ditangkap polisi hingga akhirnya bikin surat permohonan maaf resmi kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

2. “Naikin rating aja nih”

via favim.com

*Percakapan di bawah ini hanyalah fiktif untuk menunjukkan contoh komentar nyinyir yang nyebelin. Kesamaan nama, dialog, dan perilaku hanyalah ketidaksengajaan semata.

Abi: “Dit, lo udah liat belum? Penyanyi favorit mantan lo curhat tuh soal keretakan rumah tangga orangtuanya.”

Editha: “Yang mana sih?”

Abi: “Ih, itu yang rame diomongin di grup WhatsApp.”

Editha: “Ah, paling dia cuma pengen naikin rating aja karena udah lama gak manggung.”

My dear, coba bayangin nyeseknya menghadapi komentar nyinyir kayak gitu ketika lo lagi down. Lo jangan kayak gitu ya.

3. “Ah, pencitraan!”

via cewekbanget.id

Teman posting foto sama pacarnya, dibilang pencitraan. Saudara posting pakai hijab, dibilang pencitraan. Rekan kerja posting lagi jalan-jalan pakai mobil, dibilang pencitraan, bahkan temen yang lagi jadi relawan sosial aja lo bilang pencitraan.

Terus, apa yang gak pencitraannya dalam hidup lo? Jangan-jangan, justru komentar pencitraan lo yang hanyalah pencitraan supaya lo keliatan pinter.

4. “Pasti mau ngeluarin produk baru, deh”

via giphy.com

Pasangan seleb A dan B berantem lagi. Berhubung keduanya punya banyak produk, terus kamu berkomentar kalo percekcokan mereka semata-mata buat mencari ketenaran karena pengen ngeluarin produk baru. Setelah itu, pasti, haqqul yakin, kamu bakal dicecar sampai jadi daging giling oleh para bala nemo selebnya.

5. “Sukurin!”

via imgur.com

Kalo gak parcaya, coba aja. Ketika ada temen yang curhatin kesedihannya di medsos, coba kamu komentar “sukurin.” Kemungkinan besar kamu bakal dihujat bukan sama yang curhat doang, tapi sama semua friends, follower, dan orang tua kamu sendiri.

Yuk, ah. Kurang-kurangin nyinyir biar kolom komentar bisa diisi sama jokes garing ala om-om yang bikin ketawa “heh” doang. Mending gitu kan daripada isinya berantem doang. Gimana menurut kamu? Share juga pendapat kamu di bawah ini, yaw. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.