Minggu, 22 Oktober 2017
National[IS]me

Yang Fakta dan Yang Diperdebatkan dari Peristiwa 30 September – 1 Oktober 1965 (Dari dulu sampe Sekarang)

via IstimewaKi-ka: Presiden Soekarno lagi becanda sama Mayjen Soeharto. (Sumber: Istimewa)

Genmuda – Sebentar lagi, Indonesia akan menghadapi hari sakral dan terpenting dalam sejarah. Yaitu, hari 30 September dan 1 Oktober. Serangkaian peristiwa terjadi pada tanggal itu dan benar-benar mengubah kondisi Indonesia sampe saat ini.

Sebelum 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan salah satu partai terbesar yang menangin Pemilihan Umum 1955. Partai beranggotakan 3,5 juta kader itu juga mendirikan organisasi wanita, pemuda, buruh, petani, dan seniman. Anggota organisasi “sayap PKI” belum tentu merupakan anggota PKI-nya.

Setelah peristiwa yang dikenal sebagai G30S, PKI dicap sebagai organisasi terlarang yang harus dimusnahin dari Indonesia. Segala pengikut organisasinya pun dianggap sebagai anggota partai dan ikut dipersalahkan.

Alasan politis dan keterbatasan sumber sejarah membuat peristiwa penting itu justru yang paling gak terjelaskan dalam berbagai sejarah Indonesia. Buktinya, dari dulu sampai sekarang selalu muncul perdebatan di bawah ini.

1. Tujuh Perwira Militer Korban Pembantaian

via suratkabar.id
(Sumber: suratkabar.id)

Faktanya:

Jenderal Ahmad Yani, Letjen Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Letjen S Parman, Letjen DI Panjaitan, dan Kapten Pierre Tendean tewas mengenaskan.

Perdebatannya:

Film “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984) karya sutradara Arifin C Noer dan narasi pada relief Monumen Pahlawan Revolusi atau juga disebut Monumen Kesaktian Pancasila nyatain kalo para perwira militer tersebut tewas setelah disiksa. Mata mereka dicongkel, tubuh disilet-silet, lalu dimutilasi sebelum akhirnya dibuang ke sumur mati Lubang Buaya.

Namun demikian, hasil visum dokter menyatakan kalo ketujuh perwira tersebut tewas karena luka bayonet dan tembakan peluru. Masing-masing perwira tewas mengenaskan dengan luka lebih dari satu tembakan, tapi gak ada yang sampe disayat, dimutilasi, atau dicongkel matanya.

2. Gerakan 30 September

via republika.co.id
Letkol Untung (Kiri) dibawa ke dalam Mahkamah Militer Luar Biasa. (Sumber: republika.co.id)

Faktanya:

Radio Republik Indonesia (RRI), 1 Oktober pagi, menyiarkan informasi terkait Gerakan 30 September (G30S) layaknya baca berita biasa. Namun, siaran itu merupakan paksaan dari anggota gerakan yang sedang menduduki RRI itu.

Siarannya bilang, G30S bergerak di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung selaku petinggi pasukan Cakrabirawa Pengawal Presiden. Mereka telah mengamankan sejumlah jenderal yang diduga kuat merupakan anggota Dewan Jenderal, yaitu sekelompok pimpinan militer yang berniat merebut kekuasaan dari Soekarno.

Jelang siang, muncul siaran lanjutan G30S melalui RRI. Disebutkan, kalo pangkat militer tertinggi pada saat itu adalah Letnan Kolonel dengan Letkol Untung sebagai pemimpin tertingginya. Perwira militer yang pangkatnya lebih tinggi harus melapor kesetiaan pada G30S untuk kembali memperoleh kekuasaan, sementara tentara lain yang mendukung gerakan itu akan dihadiahi kenaikan satu pangkat.

Perdebatannya:

Gerakan itu terjadi akibat hasutan Biro Chusus, sebuah lembaga rahasia di luar partai hasil bentukan pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit. Karena itulah, pemerintah Orde Baru bilang kalo PKI merupakan dalang G30S.

Namun demikian, peneliti sejarah Ben Anderson dan Ruth McVey lewat buku Preliminary Analysis bilang, G30S merupakan permasalahan internal antara perwira junior dengan perwira senior Angkatan Darat. Soalnya, gak ada bukti kuat yang memberatkan keterlibatan PKI dalam peristiwa itu.

3. Pasukan tak dikenal

(Sumber: Buku Pretext of Mass Murder, John Roosa)
(Sumber: Buku Pretext of Mass Murder, John Roosa)

Faktanya:

Pada saat RRI didudukin, Batalyon 454 Jawa Tengah dan Batalyon 530 Jawa Timur menduduki Lapangan Merdeka (di Monas). Pasukannya tersebar di sisi utara yang ngadep Istana Presiden, sisi barat yang ngadep stasiun radio RRI, dan sisi selatan yang ngadep kantor Telkom. Sisi timur yang ngadep Markas Kostrad gak didudukin.

Setelah diminta menyerahkan diri, Batalyon 530 membubarkan barisan dan pergi menyerah ke Markas Kostrad. Sementara itu, Batalyon 454 membubarkan barisan lalu mundur ke Halim Perdanakusuma, lokasi tempat berkumpulnya Petinggi G30S pada saat itu.

Perdebatannya:

Dua batalyon itu disebut sebagai simpatisan PKI yang mendukung G30S dengan tujuan sebenarnya menggulingkan pemerintahan Soekarno. Pemimpin tertinggi Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto menyebut batalyon itu sebagai pasukan tak dikenal yang harus diamankan karena mengganggu keamanan.

Sementara itu, riset John Roosa bilang kalo dua batalyon itu bergerak ke Monas setelah dapet perintah langsung dari pemimpin Kostrad untuk baris-berbaris di Lapangan Monas sebagai persiapan sambut parade Hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober mendatang.

4. Biro Chusus PKI

via merdeka.com
Foto Sjam Kamaruzaman, petinggi Biro Chusus. (Sumber: Merdeka.com)

Faktanya:

Soejono Pradigdo, mantan petinggi Politbiro PKI ditangkap dan diinterogasi, Desember 1966. Dia mengakui keberadaan Biro Chusus bentukan DN Aidit yang kemudian dimpin seorang non-petinggi partai bernama Sjam Kamaruzaman. Tugasnya, menyusup ke militer untuk menggalang dukungan.

Perdebatannya:

Kesaksian itu dimanfaatkan rezim Orde Baru untuk memperkuat tuduhan terhadap PKI sebagai dalang G30S. Sjam dicap sebagai orang PKI yang memporak-porandakan kesetiaan sejumlah serdadu dan perwira Angkatan Darat terhadap Pancasila.

Namun demikian, ada versi lain yang bilang Sjam merupakan agen Angkatan Darat yang bertugas jadi agen Biro Chusus. Semacam double agent. Tugas utamanya hanya satu, yaitu membuat PKI salah langkah sehingga bisa diberantas keberadaannya.

5. Keterlibatan CIA

via BBC.co.uk
(Sumber: BBC.co.uk)

Faktanya:

Dokumen CIA yang diungkap Tim Weiner bilang, CIA sepakat untuk mendukung segala aksi penumpasan PKI dengan mengirim bantuan beruba obat-obatan senilai 500.000 dollar AS dan pasokan komunikasi canggih untuk pemimpin Angkatan Darat Indonesia, akhir 1965. Dengan harapan, komunisme gak berkembang di Indonesia.

Perdebatannya:

Harapan CIA bukan hanya membendung komunis di Indonesia. Tapi, supaya AS punya jalan untuk dapetin sumber daya alam Indonesia. Keberadaan Freeport di Papua dipercaya sebagai “hadiah” dari Indonesia untuk CIA.

Versi resmi CIA bilang kalo mereka hanya “menunggangi” Peristiwa 1965 untuk punya pengaruh di Indonesia. Namun, sebagian orang percaya kalo G30S merupakan project yang sengaja dibuat CIA supaya mudah digagalkan rezim Orde Baru.

6. Jumlah korbannya

via spengetahuan.com
Penumpasan PKI juga dilakuin warga sipil, bukan hanya militer. (Sumber: spengetahuan.com)

Faktanya:

Brigadir Jenderal Sucipto yang merupakan bawahan Soeharto membentuk Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu). Bersama kelompok itu, sejumlah warga menangkap, menculik, dan membunuh warga yang diduga PKI.

Korbannya bukan hanya yang anggota partai, melainkan yang punya hubungan dengan organisasi bentukan PKI. Setelah kejadian itu, penduduk Indonesia berkurang drastis. Laporan CIA bilang, desa-desa jadi lebih sepi dari biasanya.

Perdebatannya:

Laporan CIA yang diolah Tim Weiner menyatakan, jumlah warga sipil yang terbunuh dalam upaya pembersihan komunis mencapai 500 ribu jiwa. Namun demikian, diduga korbannya hingga satu juta bahkan satu setengah juta orang.

7. Dalangnya

via duniaku.net
Foto ikonik Mayjen Soeharto (baju loreng, megang tongkat) yang selalu ada di buku-buku tentang G30S/PKI. (Sumber: duniaku.net)

Faktanya:

Sampai sekarang pun, belum ada satupun teori, analisis, ataupun pengakuan yang pasti mengenai dalang di balik G30S. Peristiwa yang sebenarnya merupakan sejarah penting Indonesia justru merupakan peristiwa yang paling gak terjelaskan secara historis.

Perdebatannya:

Profesor Willem Frederik Wertheim, seorang ilmuwan pakar Indonesia asal Belanda, dalam tiap essay dan bukunya terkait G30S curiga kalo Soeharto merupakan dalang gerakan tersebut. Salah satu alasannya, karena beliau merupakan satu-satunya jenderal yang untung paling besar dalam peristiwa tersebut.*

Sementara itu, narasi Orde Baru secara terang-terangan bilang kalo PKI merupakan pelaku utama G30S dan patut ditumpas hingga ke akar-akarnya. Hingga sekarang pun, pemahaman itu masih tertanam di sejumlah pihak.

Ada lagi versi CIA yang secara serampangan bilang kalo G30S merupakan hasil kelalaian Presiden Soekarno di usia tua. Kegagalan kepemimpinannya itu dimanfaatin berbagai pihak untuk cari untung sendiri. (sds)

 

*sebelumnya, tertulis Soeharto merupakan satu-satunya Jenderal yang bertahan hidup dalam peristiwa tersebut. Namun demikian, faktanya, Jenderal AH Nasution pun tetap hidup. Poin artikelnya telah diralat dengan mengutip alasan lain yang diajukan Wertheim.

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.