Rabu, 25 April 2018

Genmuda – Craig Weightman rutin ngajarin di jurusan Computing and Digital Effects Staffordshire University Inggris. Doi suka maian game. Kerennya lagi, doi gak cuma main sebatas hiburan, tapi juga bikin karya ilmiahnya. Wadaw!

Pendapat dosen matkul Games and Visual Effect itu sering tampil sebagai artikel di sejumlah media teknologi di dunia. Salah satu pendapatnya yang nyelekit bagi developer adalah tentang game terburuk selama 35 tahun belakangan.

Penilaiannya dibuat berdasarkan data penjualan, tingkat kesempurnaan coding, pesan yang disampaikan, dan pastinya efek audio-visual pada game itu. Semoga kamu belum dan gak akan pernah mainin game ini.

1. “ET: The Extra Terrestrial” (1982-1983)

via arstechnica.net
Kaset game “ET” yang digali di New Mexico. (Sumber: arstechnica.net)

Ratusan ribu fosil kaset game “E.T” ditemukan tim penggali di tempat pembuangan sampah Alamogordo, New Mexico, Amerika Serikat, sekitar 2014. Semuanya merupakan kepingan kaset gak laku, reject, dan dikembaliin konsumen yang ngerasa game itu gagal total.

Koding “ET” cuma dibuat dalam lima minggu karena para bos Atari pengen produknya meluncur gak lama setelah film “ET” rilis. Maka, terciptalah game dengan peraturan paling kompleks, grafis seadanya, dan jalan cerita bosenin untuk ukuran tahun 1982-1983.

2. “Catfight” (1996)

Kebangkitan kembali industri game era 199oan setelah hancur lebur tahun 1983 atas bangkrutnya Atari ditandai sama populernya game berantem. Saat itu, “Mortal Kombat” yang menguasai pasar. Saking populernya, konsep “Mortal Kombat” ditiru secara sembarangan.

Munculah judul “Catfight.” Weightman menilai, game yang mengadu karakter cewek dalam pertarungan sampe mati itu jelek banget. Selain terkesan SARA, grafisnya jauh di bawah standar PC game pada masanya, kontrol gak responsif, dan musik yang kacrut.

Pilihan soundtracknya adalah musik heavy metal yang volumenya gak seimbang sama efek suara gamenya. Setingannya gak bisa diubah karena menu “option” game itu jelek. AI gamenya lebih jelek lagi karena bisa diatur supaya lawannya diem aja tanpa melawan balik.

3. “Superman Returns” (2006)

“Game yang super-membosankan! Game ‘Superman Returns’ adalah hal yang akan terjadi apabila sang pahlawan bangun sebagai Bill Murray di film ‘Groundhog Day’ lalu dikutik menjalani hari itu lagi-itu lagi,” tulis Weightman.

Game produksi EA itu terlalu repetitif. Musuhnya gampang dan berulang tiap stage. Pertarungan raja terakhirnya pun sangat ENGGAK memuaskan. Bukan ngelawan General Zod atau Lex Luthor, Superman di game malah ngelawan tornado. Lucu kan?

4. “Assassin’s Creed 3” (2012)

Kesempurnaan serial “Assassin’s Creed” (AC) dari jagoannya Altair di game perdana hingga Ezio Auditore di “AC: Revelations” (2011) rusak berat di “AC 3.” Game ini punya setingan kontrol gerak yang beda jauh dari game sebelumnya.

Udah gitu, cutscene di filmnya banyak banget. Jalan sedikit ada cutscene. Pindah tempat sedikit, cutscene lagi. “Saya nyalakan AC 3 karena ingin main game. Kalau saya malah disuguhi cuplikan, lebih baik saya streaming film aja,” tulis Weightman.

5. “Kinect Star Wars” (2012)

Dibuat khusus untuk konsol Microsoft Kinect, game ini awalnya sangat diantisipasi lantaran bikin para fans Star Wars penasaran rasanya main game light saber dengan gerakan tangan.

Konsol Kinect kan dikontrol dengan gerakan. Nyatanya, itu adalah ide buruk. Game Star Wars pun berubah jadi macam “Dance-Dance Revolution” versi luar angkasa.

BONUS: “Death Stranding” (2018)

Sebagai tambahan, Weightman pesimis banget sama game anyar buatan Hideo Kojima ini. “Dilihat dari trailernya saja, game ini sama sekali gak masuk akal. Gak ada pesan apapun yang ditangkap dari sana, kecuali sejumlah orang secara acak melayang ke udara,” tulis Weightman.

Karakter bayi di dalam botol, makhluk tak terlihat, dan adegan pemandangan di bawah air pun sama sekali gak masuk akalnya. “Bahkan tim produksi dan artisnya gak paham dengan jalan cerita game itu ketika diterangin Hideo Kojima,” lanjutnya.

“Desain yang baik harus komunikatif. Kalau tidak, kita semua tau game ini akan buruk sepanjang sejarah,” tuturnya.

Tapi, mungkin juga “Death Stranding” keren lantaran diperanin Norman Reedus dan Mads Mikkelsen. Kamu setuju gak sama pendapat Weightman? Tulis komentar di bawah dong! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.