Rabu, 22 Mei 2019

Genmuda – Ada nih orang yang skripsinya bisa rampung biar dikumpulin semester genap, tapi memilih menunda hingga semester ganjil. Begitu masa tenggat selanjutnya tiba, skripsinya ditunda lagi hingga semester berikutnya.

Coba tanya senior di kampus, pasti cerita itu diamini. Senior kamu mungkin bakalan menyebut lebih dari satu nama (salah satunya mungkin mereka sendiri) dan ceritain berbagai alasan di balik penundaan skripsi atau tugas akhir.

Beda sama alasan anak SMA yang umumnya menunda tugas penting karena males, anak kampus menunda skripsi karena 5 alasan ini.

1. Pengen hasil terbaik

via gfycat.com

Mahasiswa perfeksionis cenderung pengen skripsi terbaik. Standar doi bukan standar kampus S1, melainkan standar S2, S3, malah sampai es teler (baca: teler beneran). Tulisannya diedit supaya gaya bahasanya sangat akademik tapi gak meninggalkan unsur-unsur nyastra. Nah loh.

Tiap ngeliat skripsinya, tiap itu pula doi nemuin kalimat yang harus diganti,  Susunan data yang harus diatur letaknya, atau jarak kalimat yang harus dikoreksi. Akhirnya, skripsi itu gak kelar-kelar sampai injury time.

2. Topiknya “ketinggian”

via gfycat.com

Ada juga mahasiswa yang mikirin topik penelitian terlalu ketinggian sehingga tugas akhirnya gak realistis untuk dikerjain. Misalnya gini. Dia pengen banget bikin tulisan tentang perkembangan musik pada masa Romawi kuno.

Tapi dia gak punya akses memperoleh data apapun soal Romawi kuno lantaran gak ada dana berkunjung ke Italia. Kampus pun gak memberi doi beasiswa. Sebaiknya, ganti topik penelitian ke hal yang lebih realistis aja, misalnya perkembangan musik bagi masyarakat Bali atau daerah Indonesia lainnya.

3. Takut dicecar dosen penguji

via tumblr.com

Saking ketakutannya dicecar di ruang sidang, ada mahasiswa yang sengaja menunda skripsi. Ada! Katanya sih, pengen mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan kritis para dewan penguji.

Kenyataannya, doi cuma ketakutan aja tanpa ada persiapan. Lagipula, kalo gak melalui momen pencecaran dari dewan penguji, gimana caranya bisa lulus ujian skripsi, yakan?

4. Emang anak deadline

via speakgif.com

Bagi para deadliners, waktu tenggat lebih memotivasi daripada omelan orangtua, peringatan dosen pembimbing, dan sindiran pacar (kalo punya). Selama menunggu batas akhir tiba, dia lakuin banyak hal untuk manfaatin waktu. Kecuali, ngerjain skripsinya.

5. Sulit menentukan prioritas

via tumblr.com

Jenis mahasiswa terakhir paling kasihan. Di usia yang beranjak dewasa, dia belum fasih nentuin prioritas. Tugas skripsinya malah dinomor duakan karena dia tergabung ke banyak organisasi kampus.

Mahasiswa macam itu mending ngampus sambil mengikuti program softskill pendewasaan diri supaya doi tobat dan lebih memprioritaskan skripsi. Hayo. Skripsi gak bisa nunggu, loh. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.