Minggu, 22 Oktober 2017
Gaya HidupKesehatan

Meski Gaji Pas-Pasan, Kamu bisa Tiru Cara Bankir, Model, Fotografer, dan Psikolog Ini Supaya ‘Tajir Melintir’

©Genmuda.com/2017 TIM©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda – Jumlah uang tabungan, total likes di medsos, dan gaya hidup kekinian engga akan jadi patokan kesuksesan anak muda lagi begitu jadi lebih dewasa. Setelah menikah, sukses itu jika mampu tingkatin kesejahteraan keluarga, punya memori berkesan, dan pastinya ninggalin warisan.

Dengan kata lain, tiap anak muda cuma bisa mentingin kebutuhan pribadi dan foya-foya sampai nikah doang. Kalo setelah ijab-kabul masih mentingin kebutuhan diri sendiri, ya siap-siap aja dicap engga sukses oleh mertua, orangtua, bahkan masyarakat.

Dengan kata lain, anak muda harus ngatur keuangan mereka sejak menerima gaji pertama supaya cukup tabungan tapi tetep bisa ngikutin gaya hidup kekinian. Gimana caranya? Yuk simak tips ampuh menurut para narasumber yang Genmuda.com wawancarai di acara Wealth Wisdom Permata Bank, Jakarta, Rabu (2/8).

1. Kata Ayu Gani: “Mix n Match gak harus beli pakaian baru terus”

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Dengan mix n match, model kekinian ini engga perlu beli baju baru terus untuk hasilkan foto yang selalu fresh di medsos. “Aku sering kok pakai baju-baju lama yang dikombinasikan dengan aksesoris lain. Sejauh ini, para follower belum pada tau kalau pakaian aku sebenernya dair bertahun-tahun lalu,” tutur Ayu Gani.

Dengan mengakali seperti itu, uang yang engga terpakai belanja pakaian baru bisa ditabungin baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Atau, bisa juga dipakai sebagai modal bisnis layaknya Ayu Gani yang punya usaha frame kacamata.

2. Kata Ratih Ibrahim: “Minta bantuan orangtua saja”

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Bantuan yang dimaksud nih bukan sokongan dana mentah loh, gaes. Tapi, bantuan supaya diingetin untuk engga kebanyakan belanja. “Orangtua dan anak muda itu tidak bisa terpisahkan.

“Karena itu, tak ada salahnya anak muda meminta orangtua untuk mengatur limit pengeluaran apabila tak bisa mengaturnya sendiri,” tutur psikolog dari Personal Growth Counseling and Development Center ini.

Ketika anak muda sudah punya kartu kredit sendiri, saran dan strategi keuangan dari orangtua jadi makin penting. Sebab, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan kartu kredit sering menjebak anak muda untuk menimbun hutang.

3. Kata Kasandra Putranto: “Bergaul dengan teman yang lebih dewasa”

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Senada dengan Ratih, Kasandra juga menganjurkan anak-anak muda untuk belajar dari pengalaman orang dewasa. Kata psikolog lembaga A2G Center ini, sosok yang “dituakan” itu juga bisa dateng dari temen atau para senior dalam pergaulan.

“Kalau bertemannya hanya dengan orang seumuran, anak-anak muda tidak akan bisa mengerem pengeluarannya. Sebab, pikirannya masih sama-sama belanja, belanja, dan belanja,” ungkap Kasandra. Secara psikologis, pemikiran itu bakal berubah seiring bertambahnya usia, kok.

4. Kata Bianto Surodjo: “Manfaatkan produk finansial sebaik-baiknya”

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Sebagai petinggi Bank Permata, Pak Bianto jelas menganjurkan nabung dan investasi. “Tiap bank pasti punya produk finansial terbaik, seperti halnya Permata Bank yang punya berbagai pilihan terbaik untuk generasi muda,” katanya.

Apabila cerdas mengerem keinginan belanja dan manfaatin tabungan janga pendek, panjang, hingga investasi, Pak Bianto yakin anak muda engga bakal pusing masa depan meski penghasilan mereka masih tergolong pas-pasan. Jadi, baiknya “melek finansial” sedini mungkin. Caranya, tanya-tanya aja sama orang bank.

5. Kata Anton Ismael: “Satu karya untuk idealisme, satu lagi untuk jualan”

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Lain dari narasumber sebelumnya yang berfokus pada nabung dan menahan diri, fotografer sekaligus founder perkumpulan Kelas Pagi ini menyiratkan kalo anak muda perlu punya lebih dari satu penghasilan. “Aku tuh gini, ya. Aku bikin satu karya yang aku patok harga tinggi dan satu karya lagi yang bisa dijual berapapun,” tuturnya.

Karya harga tinggi tuh maksudnya karya idealisme sementara karya satu lagi merupakan karya hasil request orang. “Bukannya ngajak anak muda atau pegiat seni ninggalin idealisme, ya. Aku ingin mengajak kita semua melihat masa depan. Kalau tak punya penghasilan, bagai mana bisa berkarya 5 hingga 10 tahun lagi?” tuturnya.

Selain oleh lima narsum di atas, konferensi pers bertajuk Wealth Wisdom itu juga dihadiri Tony Prasetiantono selaku ekonom merangkap Komisaris Independen Parmata Bank. Kira-kira, tips keuangan mana nih yang udah kamu lakukan sejauh ini? (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.