Rabu, 19 September 2018

Genmuda – Perdebatan besar soal pembatasan peran cewek dalam kehidupan bermasyarakat terus berlangsung. Problem yang ada sebelum Kartini bisa nulis surat itu akhirnya melahirkan gerakan perempuan, atau sebut saja feminisme.

Pada perkembangannya, gerakan itu jadi gerakan solidaritas. Lihat aja Women’s March 2018 yang disisipi sejumlah gerakan dan LSM lain. Lewat aksi damai, pegiat feminisme minta tim mereka diberi kesempatan dan perlakuan yang adil dalam kehidupan sehari-hari.

Intinya kayak gitu. Tapi, feminisme diinterpretasikan dengan banyak sudut pandang sehingga terbilang banyak macamnya. Yah, apapun feminisme kamu teriakkan dengan lantang, pastiin kamu udah baca 10 buku ini supaya teriakan kamu gak sekadar nyaringnya tong kosong.

1. You Don’t Have to Like Me

via goodreads.com
(Sumber: goodreads.com)

Alida Nugent sepaham bahwa feminisme bisa memiliki banyak arti. Lewat buku You Don’t Have to Like Me, doi menjabarkan makna-makna penting feminisme menurut telaahnya.

Dia bilang, feminisme sangat erat kaitannya sama proses pendewasaan, mengutarakan pendapat, dan menemukan makna feminisme itu sendiri. Dengan tulisan yang mengalir, pembahasan sulit itu jadi mudah dipahami.

2. Letter to My Daughter

via citybirds.club
(Sumber: citybirds.club)

Maya Angelou, penulis bukunya cuma punya satu anak, yaitu anak cowok. Lewat Letter to My Daughter, penulis sekaligus pujangga, profesor, dan aktivis itu sebarin pesan kehidupan berdasarkan buat semua cewek di dunia.

Pengalamannya tumbuh sebagai perempuan di tengah masyarakat yang lebih peduli sama cowok, puisi, cerita inspirasi, dan pastinya soal cinta tertuang di buku ini. Meski terbit tahun 2008, bukunya masih relevan sampai sekarang.

3. In Praise of Difficult Women

via twitter
(Sumber: twitter)

Buku karya Karen Karbo inilah yang harus dibaca saat ingin mencari semangat ngambil risiko. Mengisahkan 29 cerita dari cewek berpengaruh sepanjang sejarah, buku ini bilang, tampil jadi diri sendiri dan berani ambil risiko akan menuntun pada hidup lebih memuaskan.

Beberapa tokoh cewek yang diangkat ceritanya, di antarany Frida Kahlo (pelukis), Elizabeth Taylor (aktris), Carrie Fisher (aktris), Hillary Clinton (politikus), Amy Poehler (aktris), dan Shonda Rhimes (produser).

4. Fierce: How Competing for Myself Changed Everything

via Time
(Sumber: Time)

Aly Raisman, cewek Amerika Serikat peraih emas Olimpiade cabang gimnastik berbagi banyak tips supaya jadi pribadi lebih baik lewat autobiografinya, Fierce. Selain bercerita soal proses latihan gimastik, dia juga curhat tentang pengalamannya dicengin karena punya badan gak ideal.

Buku ini fenomenal karena Aly mengaku dilecehkan secara terselubung oleh pelatih gimnastiknya, Larry Nassar saat sesi latihan. Perjalanannya menyadari bahwa tindakan Nassar adalah salah terdeskripsikan di buku ini.

5. Sour Heart

via elle.com.au
(Sumber: elle.com.au)

Jenny Zhang nawarin tulisan penuh petualangan. Bercerita tentang para perempuan yang pindah ke AS dari Tiongkok, buku ini bahas isu feminisme dan percampuran kebudayaan dalam sebuah cerita tentang remaja cewek yang sedang mencari jati diri.

6. Sister Outsider

via amazon.com
(Sumber: amazon.com)

Berisi berbagai esei dan pidato Audre Lorde, Sister Outsider menyinggung banyak hal selain feminisme, misalnya isu ras, kelas, dan kehidupan bermasyarakat. Buku yang terbit 1984 itu termasuk karya lintas-batas karena masih relevan sampai masa kini.

7. Speak

via meloukhia.net
(Sumber: meloukhia.net)

Novel 2001 dengan cover agak horor ini ceritain kisah Melinda Sordinoyang berjuang beradaptasi di sekolah baru setelah doi dilecehkan kakak-kakak kelas. Pengalamannya lebih buruk karena teman sekelas malah menghakimi dia. Bukannya nolongin. Laurie Halse Anderson menulis ceritanya dengan apik.

8. Men Explain Things to Me

via mightygirl.com
(Sumber: mightygirl.com)

Judul buku yang provokatif ini berisi banyak banget quotes menampol karya Rebecca Solnit. Esei dalam buku ini juga bahas soal masa pernikahan, kekerasan seksual, dan pastinya gerakan feminisme.

9. Too Fat, Too Slutty, Too Loud

via npr.org
(Sumber: npr.org)

Anne Helen Petersen juga “menonjok” banyak pihak lewat buku Too Fat, Too Slutty, Too Loud. Pihak yang paling kena omel di buku itu tentu saja Hollywood yang sering kali nampilin cewek sebagai sesosok langsing, tinggi, dan berambut cerah.

10. This Bridge Called My Back

via near.st
(Sumber: near.st)

Bersiaplah mengalami banyak mindblown selama membaca kumpulan esei soal perempuan dan identitas ini. Soalnya, bukunya diedit sama Cherrie Moraga dan Gloria Anzaldua, dua aktivis feminisme.

Saking mindblownnya, buku ini telah membuka banyak pikiran dan menarik orang mendukung gerakan feminisme sejak terbit tahun 1981. Jadi, bisa dibilang inilah “kamusnya gerakan feminisme modern.” (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.