Jum'at, 7 Agustus 2020

Genmuda – Di pertengahan Mei ini, ternyata Printemps Français 2016 nyuguhin acara yang makin beragam, Kawan Muda. Kalau kemarin-kemarin festival seni tersebut lebih banyak acara musiknya, maka tadi malam giliran tari hip hop yang ngeramein festival seni tersebut.

Dalam rangkaian Festival Printemps Français 2016, Institut Prancis di Indonesia (IFI) udah ngenggelar pementasan tari hip hop ‘Autarcie’ oleh Compagnie par Terre pimpinan koreografer Anne Nguyen di Teater Salihara, Jakarta, Minggu (15/5). Dalam pementasan tersebut, empat penari perempuan yang terdiri dari Sonia Bel Hadj Brahim, Linda Hayford, Valentine Nagata-Ramos, dan Magali Duclos ngebenturin gerakan breaking frontal dan bebas yang diiringi dengan perkusi ritmis.

Lebih lanjut, selama sekitar 50 menit, para penari ngemanfaatin ruang dan perpaduan teknik yang berbeda. Mereka seakan terhisap dalam ruang kosong dan masing-masing ngeleburin diri buat ngejar kekuasaan, persekutuan, dan hierarki. Tarian yang nyiratin kegelisahan itu pun dimainin dengan ritme berdebar, diiringi pukulan gendang yang seolah bebas tanpa irama.

Lantas, siapa sih sebenarnya Anne Nguyen dan para penari Compagnie par Terre? FYI, memulai karir sebagai penari breakdance dan berhasil menangin ajang internasional Battle of The Year 2005, Anne ngedalamin tari hip hop dan ngembangin looping pop, gerakan baru yang maduin tari berpasangan dengan prinsip dasar kontraksi dan relaksasi otot dengan irama.

Nah, di tahun yang sama, Anne ngebentuk grup tari Compagnie par Terre yang berfokus pada keterikatan hukum alam dan gerakan tubuh manusia yang selalu terhubung dengan bumi dan lingkungan sekitar. Anne, yang udah nerima penghargaan Prix Nouveau Talent Chorégraphie SACD 2013 dan terdaftar sebagai salah satu seniman utama di Teater Nasional Chaillot (salah satu teater ternama di Paris), pun pada dasarnya ngelihat tarian bukan sekadar olah tubuh melainkan sebuah ritual.

Namun demikian, dengan ciri khas gerakan robotik mekanis, Anne juga ngeksplorasi berbagai seni artistik lain. Seperti dalam repertoar ‘Kata’ (2017) yang tengah digarapnya, beliay mengeksplorasi breakdance jadi sebuah cabang ilmu bela diri kontemporer. Keren deh pokoknya, Kawan Muda!

(Sumber: IFI Jakarta)
(Sumber: IFI Jakarta)

Sementara itu, Sonia Bel Hadj Brahim adalah penari spesialis popping dan wacking, yang ngebentuk grup La Mécanique des Naïfs (2009) bareng Pascal Luce dan Farrah Elmaskini serta bergabung dengan grup tari Point Zero (2011). Sebaliknya, Linda Hayford yang juga merupakan penari spesialis popping tergabung dalam grup tari Engrenage Dance Company pimpinan Marie Houdin di kota Rennes.

Selanjutnya, Valentine Nagata-Ramos yang dikenal sebagai B-Girl pernah tergabung dalam berbagai grup tari, tampil dan menangin beragam kategori MTV Dance Crew 2005-2006, serta ngebentuk grup tari Uzumaki dan bertindak sebagai koreografer. Lain halnya dengan Magali Duclos, beliau merupakan penari spesialis popping dan koreografer yang udah nyiptain beberapa karya tari serta pernah tampil pada Festival Printemps Français 2011 di Indonesia.

Itulah tantangan dari pertunjukan Autarcie ini. Kami berbeda keahlian dalam teknik menari namun pada akhirnya dapat belajar menyesuaikan satu sama lain. Gerakan-gerakan dalam pentas Autarcie menuntut kekompakan dan keseragaman para penarinya,” kata Magali terkait latar belakang dan pengalaman yang beragam dari para penari Compagie par Terre, dalam siaran pers yang diterima Genmuda.com.

Engga ketinggalan, elemen penting lainnya dalam pertunjukan ‘Autarcie’ adalah kostum tarinya. Kostum tari dalam pagelaran itu berasal dari rumah disain adibusana Prancis Courrèges. Koleksi rumah desain adibusana tersebut dipakai dan dipopulerin oleh Jacqueline Kennedy di tahun 1960-an serta menjadi favorit aktris Prancis Catherine Deneuve dan Françoise Hardy hingga musisi Amerika Miley Cyrus.

Pada awalnya, perancang adibusana Courrèges melihat pertunjukan kami di Paris dan tertarik untuk merancangkan baju khusus untuk pertunjukan Autarcie. Kostum tari dalam pertunjukan ini benar-benar dibuat berdasarkan ukuran tubuh para penarinya masing-masing. Kami tentu bangga mendapat kehormatan ini,” kata Sonia terkait kostum tari Courrèges.

So, buat kamu yang tadi malam engga sempat nonton penampilan Compagnie par Terre di Teater Salihara, Jakarta, mereka masih bakal tampil sekali lagi kok. Pertunjukan berikutnya sekaligus pertunjukan terakhir mereka di Festival Printemps Français 2016 bakal diadain di Yogyakarta pada hari Kamis (19/5) mendatang. Selamat nonton dan nikmatin pertunjukannya, Kawan Muda!

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer