Minggu, 28 November 2021

Genmuda – Musisi folk dan musik balada Amerika Serkat yang lahir pada 1941 dengan nama Robert Allen Zimmerman dinobatkan hadiah Nobel Kesusastraan 2016. Ya. Doi adalah Bob Dylan yang melantunkan lagu ‘Blowin’ in the Wind’ dan ‘The Times They are A-Changin’.

Karir musiknya pertama kali dimulai sekitar 1954 di warung-warung kopi Minnesota. Baru pada 1960-an Dylan menulis sejumlah lagu fenomena, diantaranya dua lagu yang udah Genmuda.com sebutin tadi. Dua lagu itu semacam jadi lagu wajib para pegiat gerakan anti perang dan hak-hak sipil era 1960-an. Bahkan hingga kini, lagu-lagu anti perang dan perdamaian dunianya masih relevan.

Selain kepada Bob Dylan, organisasi Nobel dunia juga berikan ke sejumlah tokoh terutama yang dinilai memajukan bidang Fisika, Kimia, Kedokteran, Perdamaian, dan Ekonomi. Inilah para pemenangnya.

1. David J Thouless, Duncan Haldane, dan Michael Kosterlitz

via thehindu.com
(Sumber: thehindu.com)

Tiga orang itu merupakan satu tim yang berjasa besar dalam bidang fisika. Mereka dinobatkan atas ‘jasanya menemukan teori fase-fase topologis sebuah zat (topological phases of matter) dan transisi fase topologis (topological phase transition).’

Berdasarkan bahan penelitiannya, mereka berhasil menemukan teori baru soal susunan atom di benda-benda, baik itu dalam kondisi biasa ataupun kondisi quantum, —alias kondisi dengan suhu nol.

2. JP Sauvage, Sir J Fraser Stoddart, dan Bernard Feringa

via twitter.com
(Sumber: twitter.com)

“Dinobatkan Nobel dalam bidang kimia atas karyanya mendesain dan merakit mesin molekuler.” FYI, mesin molekuler (molecular machine) itu adalah materi mikroskopik yang bisa bergerak sesuai dengan kontrol atau rangsangan dari luar susunannya.

Kalo di tubuh manusia, contohnya seperti protein di dalam sel yang bisa bergerak menegangkan atau mengendurkan otot. Meski belum bisa bikin mesin molekuler sesempurna susunan protein di tubuh manusia, tiga orang itu udah bikin terobosan besar.

3. Yoshinori Ohsumi

via latimes.com
Yoshinori Ohsumi (Sumber: latimes.com)

Doi berhak dinobatkan Nobel bidang kedokteran atas jasanya ‘menemukan mekanisme autophagy.’ Autophagy merupakan sebuah proses penghancuran sel yang terjadi secara alami di dalam tubuh makhluk hidup setiap saat.

Dalam suatu kondisi, proses penghancuran itu diganti dengan proses peremajaan sel. Nah, Ohsumi berhasil menemukan gimana cara sel-sel yang udah ‘uzur’ itu dihancurkan dengan sendirinya oleh daya kerja sel dan organ lain.

4. Juan Manuel Santos

via ku.ac.ke
Juan Manuel Santos, the Peacemaker (Sumber: ku.ac.ke)

Karena Manuel Santos mendedikasikan dirinya membawa perdamaian di tanah airnya, Kolombia yang dilanda perang sipil sejak 1964. Massa yang tergabung dalam Tentara Revolusi Rakyat Kolombia (FARC) kerap membunuh, memeras, dan berdagang narkoba untuk mendanai gerakannya.

Waktu pertama didirikan, kelompok itu tujuannya mengubah pemerintahan Kolombia jadi sosialis-komunis seperti Uni Soviet (sekarang Rusia). Sekarang, kelompok itu jadi pihak yang selalu bertentangan dengan pemerintah Kolombia dan engga ragu buat melawan dengan senjata.

Nah, waktu Juan Manuel Santos terpilih jadi presiden Kolombia pada 2010, doi langsung fokus menyelesaikan masalah sama FARC. Langkah awalnya dilakukan sekitar 2012, terus pada 2016 Kolombia dan FARC sepakat buat bikin perjanjian damai.

5. Oliver Hart dan Bengt Holmström

via npr.org
(Sumber: npr.org)

Tanpa Hart dan Holmstrom, dunia ekonomi mungkin engga bakalan kenal dengan yang namanya ‘kontrak kerjasama.’ Soalnya, mereka berdua yang mendesain secara detil isi yang seharusnya dibahas dalam kontrak kerjasama modern.

Hasil penelitian ekonomi mereka di tahun 1970-an itu kemudian jadi cikal-bakal kontrak kerjasama yang terus dimodifikasi ekonom, peneliti, dan pelaku industri di seluruh dunia.

Nah, itulah tokoh-tokoh peraih penghargaan Nobel 2016. Kamu juga bisa kok meraih penghargaan paling kece ini kalo kamu ngerasa nemuin terobosan di bidang-bidang yang udah Genmuda.com sebutin di atas. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.