Kamis, 24 September 2020

Genmuda – Dear, anak sekolah ambisius. Meski penting untuk banyak belajar, kebanyakan belajar di depan buku justru lebih banyak mudorat daripada manfaatnya. Ambisius gak harus gitu juga, keleus.

Cara seimbangin waktu belajar dengan waktu main, istirahat, dan pacaran berbeda bagi tiap orang tergantung kebutuhan masing-masing. Yang pasti, di bawah ini adalah dampak yang terjadi bila kamu kebanyakan belajar.

1. Stres

via popkey.co

Punya kekuatan super sih kalo ada manusia yang berhasil banyak belajar tanpa merasa suntuk sedikitpun. Otak manusia emang komputer paling canggih di dunia, tapi bukan berarti enggak butuh istirahat, kan?

2. Penuaan dini

Kasusnya terjadi pada balita berusia 2 tahun di Tiongkok, Tong Tong. Karena pengen dimasukin ke TK bergengsi, bocah itu dijejali les Bahasa Inggris, matematika, piano, seni, dan hosting. Akibatnya, rambut Tong Tong rontok. Dia botak sebelum waktunya.

Kebotakan dini itu juga dialami sebagian siswa SMA yang kebanyakan belajar demi memenuhi tuntutan yang tinggi supaya masuk perguruan tinggi bergengsi. Makin tahun, makin besar persaingannya.

3. Gampang sakit

via Istimewa

Meski umumnya dilakukan sambil duduk (atau tiduran), belajar termasuk kegiatan yang menguras energi. Otak dipacu untuk terus mikir, sehingga energi terkuras lebih banyak. Sakit sulit dihindari kalo asupan makanannya kurang.

4. Obesitas

Kekurangan gerak pada akhirnya bikin anak sekolah yang kebanyakan belajar rentan obesitas, alias kegemukan. Apalagi, saat belajarnya sambil ngemil. Makin meroket aja itu jarum timbangan.

5. Susah berkomunikasi

vi gif-finder.com

Terlalu banyak berkutat sama buku pun merusak kesimbangan kehidupan sosial. Kebanyakan belajar bikin orang susah berkomunikasi. Itu bukan bawaan lahir, tapi karena gak tau caranya.

Kalo udah begitu, justru nanti makin sulit nyari kerja yang pas. Soalnya, pekerjaan mana yang sepenuhnya bebas dari interaksi? Bahkan developer komputer pun harus ngomong sama klien atau supervisornya.

6. Gampang tersinggung

Orang yang kebanyakan belajar cenderung berharap lebih berprestasi dari teman sebayanya. Saat situasi berkata lain, doi mudah tersinggung dan sensitif. Sikapnya gak adem, jauh berkebalikan sama ubin Masjid yang selalu sejuk dan menenangkan. Wadaw!

7. Apatis

via imgur.com

Karena jiwa kompetitifnya dan kurang sosialisasi, orang yang kebanyakan belajar pada akhirnya bakal melupakan permasalahan lain di dunia, selain yang terjadi pada pelajaran dan nilai ujiannya. Menyebalkan banget.

8. Hilang kreativitas

Ini kata Pak Ahok dan ada benernya juga. Logikanya, kreativitas kan berasal dari pikiran. Maka, mana mungkin anak muda bisa kreatif kalo kepalanya terus-terusan dipake untuk kebanyakan menyerap ilmu. Ilmu jangan diserap mulu, gengs. Aplikasikan juga, dong secara kreatif.

9. Susah belajar dari pengalaman

via tumblr.com

Karena kebanyakan belajar pake buku (dan Wikipedia), lupa lah deh sama pelajaran nyata yang dari pengalaman hidup dia dan lingkungan sekitarnya. Padahal, dunia orang dewasa kan dipenuhi pelajaran hidup, bukannya pelajaran di buku cetak.

10. Jomblo

Ada pacarnya. Buku.

Melalui artikel ini, Genmuda.com sama sekali gak bermaksud ngajak Kawan Muda males ngerjain PR (itu bodoh), gak baca buku (itu sia-sia), atau cabut sekolah (itu nekat). Tapi, pengen ngajak hidup lebih seimbang aja karena hidup itu “work hard, play hard.” (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.