Kamis, 28 Mei 2020

Genmuda – Setelah diundur hampir sebulan lebih dari perilisannya di Amerika Serikat, film “Little Women” akhirnya tayang di Indonesia mulai tanggal 7 Februari 2020. Diadaptasi dari novel karya Louisa May Alcott dengan judul serupa, filmnya bakal ngajak Kawan Muda pergi ke tahun 1800-an.

Gak cuma menonjolkan perjuangan perempuan dalam meraih impian mereka, filmnya juga digarap oleh sutradara perempuan Greta Grewig, yang sukses menggarap “Lady Bird” (2017). Kayak gimana filmnya? Berikut Genmuda.com bahas review lengkapnya buat kalian!

Impian empat perempuan muda

©Sony Pictures/2019

Tokoh utama film adalah Jo (Saoirse Ronan) anak pertama yang berambisi menjadi seorang penulis novel. Ia merantau ke New York untuk mewujudkan impian menerbitkan tulisannya di penerbit besar. Walau gak semulus yang dibayangkan, Jo cuma mendapatkan bayaran murah buat membantu ekonomi keluarganya.

Cerita lantas ditarik mundur 7 tahun ke belakang ketika Jo masih tinggal bersama adik-adiknya, yakni Meg (Emma Watson), Amy (Florence Pugh), Beth March (Eliza Scanlen) dan Marmee (Laura Dern) sebagai ibu mereka. Mereka juga tinggal berdekatan dengan Laurie (Timotheé Chalamet) serta tante March (Meryl Streep) bibi dari ayah mereka yang kaya.

Baca juga: Akal-akalan Supaya Untung dalam ‘Secret Zoo’

Keempat anak perempuan ini berusaha mati-matian mewujudkan impian mereka mulai dari meraih karir hingga masalah asmara yang menentukan nasib ekonomi keluarga ke depannya. Sekilas mungkin premisnya emang dekat dengan kehidupan perempuan di abad ke-19 yang gak bisa berbuat banyak untuk kehidupan mereka. Lewat film inilah banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa diperjuangkan oleh banyak perempuan di zaman modern.

Plot maju-mundur yang cukup membingungkan

©Sony Pictures/2019

Meski sinematografinya jempolan tapi penulis ngerasa plot maju-mundur dalam film ini terasa membingungkan. Sejak diajak dalam cerita ‘Tujuh Tahun Sebelumnya” penonton langsung dijejeli oleh perpindahan alur di masa lalu dan sekarang yang berlangsung begitu cepat tanpa jeda.

Sialnya lagi di awal-awal film tampilan Jo dan adik-adik nyaris gak ada yang berbeda dengan masa sekarang. Tentunya bagi sebagian orang, –apalagi lo yang suka skip, bakal kebingungan buat masuk ke dalam alur cerita. Tentu benang merahnya tetep rapih, karena jalan cerita yang dibangung berjalan sangat lambat.

Baca juga: ‘Birds of Prey’: Harley Quinn dan Perkumpulan Wanita Sakit Hati

Namun demikian film ini juga memiliki cerita dan pesan moral yang cukup berkaitan hingga saat ini. Kendati ceritanya fokus pada Jo penonton turut diberikan sudut pandang lain dari karakter perempuan lainnya. Pastinya beda orang, beda juga life goals mereka. Inilah yang siap memberikan lo kejutan sekaligus kehangatan buat setiap orang.

Kesimpulan

©Sony Pictures/2019

Masuk dalam enam nominasi di Oscar jelas menjadi garansi tambahan kalo film ini punya kemasan yang gak biasa. Tapi bukan berarti hal yang ‘gak biasa’ itu bisa masuk ke setiap orang ya, gengs. Buat urusan akting setiap pemainnya terasa sangat menjiwai karakter mereka.

Baik tokoh ibu, ayah, dan anak-anak mereka memiliki konflik yang nyaris dirasain oleh siapa aja. Banyak pesan moral dan pengorbanan yang dibangun penuh kehangatan dan suka cita sehingga membentuk sebuah cerita utuh yang menyentuh. Ada momen dimana lo bisa tertawa, kesel, baper, hingga sedih saat menontonnya.

Masih penasaran? Buruan deh tonton filmnya di bioskop terdekat di kota lo. “Happy watching!”

Comments

comments