Rabu, 5 Agustus 2020

Genmuda – Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Tanah Air udah terbilang ngeprihatinin nih, Kawan Muda. Tapi, kebanyakan kasus tersebut sampai sekarang masih tergolong sulit buat diselesain secara hukum dan ujung-ujungnya malah si korban yang disalahin.

Kalau menurut data Komnas Perempuan, kekerasan seksual berada di urutan kedua tertinggi dalam daftar kasus kekerasan terhadap perempuan. Tahun lalu aja misalnya, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 293.220 kasus. Setiap 2 jam pun ada 3 perempuan yang jadi korban kekerasan seksual alias tiap harinya ada sekitar 35 perempuan yang jadi korban kekerasan seksual. (Ngeri banget ya?)

Yang lebih bikin prihatinnya lagi, data yang ada juga nunjukin kalau lebih dari 60 persen kasus kekerasan seksual ternyata terjadi di rumah. Pelakunya bahkan engga lain dan engga bukan adalah orang-orang terdekat korban, sebut aja ayah, kakak, om, atau bahkan suami korban.

Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin bilang ke BBC Indonesia, kalau tingginya angka kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi karena banyak korban masih nilai kekerasan seksual sebagai hal yang ‘wajar’. Tapi, engga bisa diungkiri juga kalau budaya patriarki turut berkontribusi dalam ngedorong terjadinya hal tersebut.

(Ilustrasi: Huffington Post)

Kalau ngelihat dari pernyataan Mariana dan kasus yang makin marak dan engga pernah kelar, bisa dibilang perempuan yang lemah dan laki-laki yang engga mau ngalah sama-sama punya andil dalam nyebabin tingginya kekerasan seksual terhadap perempuan.

Kok gitu? Ya coba aja kalau perempuan lebih bernyali buat ngungkapin apa yang udah mereka alamin dan berjuang buat ngebela diri mereka, kasus-kasus serupa pasti bisa dicegah lebih dini. Sebaliknya, kalau laki-laki mau berusaha buat ngurangin ego mereka, mereka mungkin bisa lebih nganggap perempuan sebagai rekan atau pasangan mereka yang setara.

Sayangnya, tentu aja anggapan tersebut bakal terlalu terkesan nyudutin kedua belah pihak, khususnya para perempuan yang jadi korban. Hal itu pun lagi-lagi berhubungan dengan berbagai prasangka yang udah tertanam di masyarakat, kayak misalnya si perempuan yang ‘mancing’ atau bahkan ‘minta’ buat dianiaya maupun cap kalau si perempuan udah ‘kotor’.

(Ilustrasi: Shutter Stock)

Bukan cuma itu, kasus kekerasan seksual di Tanah Air sampai sekarang juga masih sulit buat diselesain secara hukum karena Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ngeharusin adanya saksi mata dan bukti. Padahal, kebanyakan (atau lebih tepatnya hampir semua) kasus kekerasan seksual justru terjadi di ranah pribadi. Kalau pun ada di tempat publik, pasti situasinya sepi dan memberikan ancaman bagi si korban.

Oleh karena itu, kasarnya banyak perempuan masih takut buat angkat bicara dan hanya ‘ngaminin’ kasus kekerasan seksual karena udah keburu mikir bakal dinilai negatif oleh masyarakat. Apesnya lagi, hukum pun engga semata-mata memuluskan itu semua karena harus disertakan bukti-bukti mendukung. Ribet sih emang. Tapi hal itulah yang kemudian menjadikan kasus seperti ini engga ada padahal nyata.

Terus, gimana dengan kamu, kita, dan orang lain di luar sana yang engga pernah berada di posisi korban atau pelaku? Simpati? Atau cuma bisa apatis?

Hmm… Ibarat lagu Lady Gaga ‘Til It Happens to You’. Kita engga bakal pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai kita benar-benar berada di posisi pihak yang bersangkutan, tapi jangan sampai kita nutup mata dan keburu bikin penilaian. Bukan cuma simpati, rasa keprihatinan, atau buah bibir yang belarut-larut dan kemudian berulang. Apa kamu masih mau diam? (sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer