Selasa, 5 Juli 2022

Genmuda – Tukang mencontek selalu dijejali sama tuduhan anak malas, bodoh, nakal, dan deretan sifat negatif lainnya. Kalo kegep guru, dosen, atau pengawas ujian yang killer, hukuman segera menghampiri. Apakah mencontek tanda masa depan suram? Jawabannya bisa ya, bisa juga engga, gaes. 

Dalam dunia akademik, segala jenis plagiarisme (termasuk mencontek) emang engga bisa ditoleransi. Beberapa kampus malah dengan senang hati ngasih hukuman berat, misalnya dengan mengulang kuliah tahun depan. Saat harus ngulang, jelas masa depan jadi agak suram.

Tapi, dunia nyata engga sesadis di sekolah atau kampus kok. Banyak juga lagu, produk, atau barang elektronik hasil contekan yang kemudian jadi lebih sukses daripada yang dicontekin.

Penelitian Takeshi Okada dan Kentaro Ishibashi, dua ilmuwan cognitive science Universitas Tokyo, Oktober 2016, punya hipotesa kalo mencontek dengan cara yang baik dan benar merupakan teknik terbaik dalam menambah kreativitas. Sementara itu, orang yang selalu sibuk sama pikirannya sendiri justru kurang kreatif.

Gimana cara menconteknya?

via tumblr.com

Kamu harus tau dulu cerita soal penelitian Okada dan Ishibashi biar paham jawabannya. Saat riset, mereka mengundang dua kelompok mahasiswa yang sama sekali engga mengenyam pendidikan seni.

Di hari pertama, kelompok pertama diminta menggambar satu benda yang ada di ruangan, sementara kelompok kedua diminta menggambar benda yang sama tapi menconteknya dari sebuah gambar semi-abstrak.

Di hari kedua, kedua kelompok diminta menggambar objek apapun yang ada di dalam ruangan sesuai degan kreativitas mereka. Setelah gambarnya dinilai dua pakar yang bersikap netral, ternyata kelompok “pencontek” meraih skor kreativitas tinggi.

Eksperimen itu dicoba beberapa kali dan hasilnya selalu sama. Mereka yang berusaha keras mencontek gambar orang lain selalu menghasilkan karya lebih kreatif daripada mereka yang menggambar dengan melihat bentuk objek di dunia nyata.

Kenapa gitu ya?

via pandawhale.com

Karena, mereka yang mencontek secara engga langsung tuh lagi belajar. Seperti yang terjadi di penelitian dua pakar tadi, mahasiswa yang makin detil memperhatikan karya orang lain, makin keren karya mereka hasilkan sendiri. Makin susah bentuk benda yang dicontek, makin bagus juga karya original mereka kemudian.

Semua itu terjadi karena otak pencontek bekerja lebih banyak ketika mengamati karya orang lain. Kalo boleh berpendapat, cara “mencontek” mahasiswa yang diteliti Okada dan Ishibashi itu sebenernya, tak lain dan tak bukan, disebut “proses kreatif.”

Dipikir-pikir pakai logika sih, mencontek dalam “proses kreatif” emang sama dengan belajar.

Kamu pasti pernah denger singkatan Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM), kan? Nah, itulah “proses kreatif” yang dikenal orang Indonesia. Kamu harus coba kalo mau sukses seperti banyak seniman, musisi, atau ahli teknologi. Kalo selamanya cuma mencontek-menyalin, ya selama itu pula kamu bakal dihukum guru.

Praktisnya, penelitian itu nyimpulin dua hal. Pertama, mencontek itu engga ada gunanya karena kamu ujung-ujungnya mesti belajar. Kedua, kalo mau mencontek, langsung aja contek jawaban guru supaya dapet hasil terbaik. Udah gitu aja. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.