Rabu, 30 September 2020

Genmuda – Kesunyian sangat membantu otak manusia menumbuhkan dan menghubungkan sel di bagian hippocampus, bagian otak yang berhubungan dengan ingatan, emosi, dan belajar. Artinya, otak akan semakin berkembang dalam kesendirian.

Fakta ini didapatkan dari penelitian Imke Kriste di Duke University sekitar 2013. Efek kesunyian itu ditemukannya secara engga sengaja sewaktu doi meneliti efek yang ditimbulkan panggilan bayi tikus, musik, dan kesunyian terhadap otak tikus dewasa. Doi mengira, panggilan bayi tikus yang akan menimbulkan efek besar.

Tapi, Kriste dikejutkan ketika kesunyian malah yang berdampak jangka panjang. “Dua jam kesunyian per hari bisa merangsang produksi sel otak di bagian hippocampus. Kesenyapan justru punya efek lebih nyata daripada rangsangan suara,” ucapnya seperti yang tertulis di Jurnal Brain, Structure, and Function, 2013.

Kriste menjelaskan, “Kesunyian terasa sangat kontras dengan rangsangan yang biasa diterima, otak justru semakin sensitif dan waspada. Meski begitu, rangsangan lingkungan seperti mainan atau kehadiran tikus lain di sekitar tikus penelitian memang merangsang otak tikus untuk bekerja normal.”

Default Mode: Otak terus bekerja bahkan saat diam

kesunyian
(Sumber: revelwallpapers.net)

Faktanya, otak justru tetap bekerja dalam mode berbeda dalam kesunyian. Sebuah seminar penelitian yang dipimpin Marcus Raichle pada 2001 menyatakan hal itu. Menurut hasil penelitiannya, “Otak yang sedang ‘beristirahat’ justru sebenarnya sedang mengolah informasi yang diterima sebelumnya.”

Penelitian lanjutan akan hal itu dilakukan oleh Joseph Moran sekitar 2013 dan dipublikasikan di Jurnal Frontiers in Human Neuroscience. Di jurnal itu, doi menulis bahwa otak akan kembali ke mode default ketika terbebas dari rangsangan apapun.

“Mode defaultnya adalah merefleksi diri ketika otak sedang beristirahat dari kegiatan sehari-hari,” tulis Moran dan tim penelitinya. Ketika itulah otak bisa menghubungkan informasi-informasi yang sudah tersimpan, dan itu lah kemampuan otak yang sebenarnya.

Dan, ketika itu pula, manusia bisa mengenal jati dirinya. Seperti kata ethnomusicologist Finlandia Noora Vikman yang dikutip Majalah Nautilus, Agustus 2014, “if you want to know yourself you have to be with yourself, and discuss with yourself, be ableto talk with yourself.

Kesenyapan paling menenangkan

birdy high res kesunyian
(Sumber: la-belle-epoque.co.uk)

Hal serupa juga dijelaskan Luciano Bernardi sekitar 2006 ketika doi meneliti efek berbagai jenis musik terhadap kerja tubuh (physiological effect of music). Dalam penelitiannya, tekanan darah, jumlah karbon dioksida, dan sirkulasi oksigen di otak dapat berubah sesuai dengan aliran musik yang didengar.

Namun, hasil yang lebih mengejutkan justru ditemukan ketika jeda dua menit antara lagu yang diputar. Dua menit kesunyian itu justru jauh lebih menenangkan daripada efek yang ditimbulkan waktu mendengar musik lembut.

“Mungkin, rangsangan yang diterima (dalam hal ini musik) itu hanya membuat otak terkonsentrasi ke satu arah. Lalu, ketika rangsangan itu hilang, otak bisa menenangkan diri lebih dalam,” katanya. Bernardi menyimpulkan, efek kesunyian bisa makin besar dalam suasana kontras. Artinya, di tengah hiruk-pikuk, sunyi sejenak rasanya bagai oase.

Michael Wehr peneliti University of Oregon pada 2010 juga menemukan hasil serupa dengan penelitian Bernardi. “Ketika otak tiba-tiba berhenti menerima rangsangan suara yang didengarnya, otak akan semakin waspada.”

Berkaca dari Finlandia

finlandia
Pemandangan alam Filandia yang berkontur gunung dan danau selalu jadi poster Visit Finlandia. (Sumber: worldlynomads.com)

Finlandia bukan merupakan negara kaya raya seperti Amerika atau Tiongkok, namun mendapat urutan ke-9 di daftar negara paling sejahtera menurut CNN, jauh mengalahkan Amerika dan Tiongkok yang engga masuk 10 besar.

Selain itu, Finlandia juga merupakan negara yang penduduknya paling banyak membaca buku menurut penelitian John Miller, presiden Central Connecticut State University Amerika Serikat, Maret 2016 lalu. Salah satu faktornya disebut-sebut karena negara itu merupakan negara paling sunyi.

Bahkan, negara itu menjadikan kesunyian sebagai branding negaranya. Sejak 2011, Kementerian Pariwisata Finlandia bahkan gunain caption “Silence, Please” sebagai slogan resmi pariwisata negaranya. Majalah Nautilus bilang, “Dalam dunia hiruk-pikuk ini, kesunyian sangat menjual.

Intinya gaes, engga perlu bingung kalo kamu engga ada kerjaan waktu lagi ngabuburit atau lagi engga ada jadwal buka bareng. Engga ada salahnya nyoba bengong (bukan ngelanjor) buat kasih otak kamu ketenangan yang dibutuhin buat berkembang. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.