Sabtu, 25 Juni 2022

Genmuda – Masa remaja adalah satu fase terindah dalam kehidupan manusia. Begitu mengagumkan. Ribuan, bahkan jutaan cerita mampu tercipta dan terus melekat di setiap sel otak sepanjang waktu.

Namun, terkadang semua keindahan itu justru terganggu dengan munculnya intimidasi (selanjutnya kita sebut bully) yang kerap hadir di lingkungan bermasyarakat. Ya, engga ada kegiatan lain yang mereka senangi selain merendahkan dan menggeretak orang yang mereka anggap lemah. Akuilah, hal ini emang ada gaes.

Sekali jadi orang yang suka nge-bully, tetaplah pembully. Dan menurut sejumlah studi, para tukang bully itu sebenarnya punya penyakit jiwa loh, gaes. Engga percaya? Yuk kita liat penjelasannya yang udah Genmuda.com rangkum di bawah ini.

1. Mereka terjangkit narsisisme

via giphy

Singkatnya, narisisme adalah kondisi psikologis yang bikin orang terlalu mencintai dirinya dan nganggep diri sendiri punya derajat jauh lebih tinggi dari orang lain. Kalo mereka ngeliat ada orang yang posting prestasi di internet, bukannya ngasih pujian mereka malah nyinyir.

2. Udah gitu ada kecenderungan sadist

Bukan cuma narsis, para internet troll dan tukang bully pada umumnya tuh punya kecenderungan sebagai sadist. Mereka ini sangat seneng kalo ada orang lain yang merasa kesusahan atau kesakitan. Hal itu disimpulin para peneliti Kanada, tahun 2014 lalu.

3. Bisa jadi mereka psikopat

Salah satu ciri orang psikopat adalah sikap agresif. Kondisi mental orang kayak gitu umumnya engga stabil. Mereka ini juga suka ngerasa jauh lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Wajar aja kalo orang pada akhirnya mereka sering banget jadi pelaku bullying di dunia online ataupun offline.

4. Atau, mungkin juga tergolong Machiavellianism?

Ada yang tau istilah ini? Machiavellianism menurut harleytherapy.co.uk adalah seseorang yang terlalu fokus sama kepentingannya sendiri. Mereka engga ragu memanipulasi, menipu, atau menindas orang asal keinginannya tercapai. (Kalo di sinetron tokoh ini monolog, terus musiknya penuh drama) *lebay.

5. Kemungkinan besar, mereka tersisihkan di dunia nyata

via fusion.net

Studi dari yang sama juga bilang kalo mereka yang tersisihkan di dunia nyata punya kecenderungan jadi tukang bully di internet. “Mereka mungkin tidak akan berkomentar buruk terhadap orang secara offline, tapi di internet lain ceritanya,” seperti dikutip DailyMail.co.uk, Januari 2016.

Jadi, para tukang bully tuh sebenarnya butuh banget bantuan sekitarnya. Walau kesannya mereka itu superior, tapi sesungguhnya mereka justru ngerasa jauh dari pergaulan. Kawan Muda engga kayak gitu kan? He-he. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.