Rabu, 19 Desember 2018

Genmuda – Kata orang jadi jomblo itu bebas mau ngapain aja, saking bebasnya kelamaan menjomblo bikin mereka cuma asik kayak lagunya Kunto Aji. Gak cuma itu, jomblo yang asik sendiri biasanya udah terjebak dalam zona nyaman mereka doang.

Sepenggal praha jomblo itulah yang dihadapi sama Gading Marten di film “Love for Sale”. Digarap sama Andibactiar Yusuf film drama komedi ini juga ngasih banyak kritik sosial dan pelajaran berharga buat para Jomblo. Penasaran kayak gimana? Langsung aja baca review ini sampe selesai.

Jomblo yang pasti ada di sekitar kita

©Visinema Pictures
©Visinema Pictures

Diceritain Richard (Gading Marten) adalah seorang cowok lajang berusia 41 tahun. Saat temen-temen geng nobarnya udah mulai punya hubungan serius dengan seorang perempuan, Richard ternyata masih aja jadi jomblo. Status itupun kemudian selalu jadi bahan cengan di antara gengnya hingga karyawan di percetakan miliknya.

Ketika salah satu geng nobarnya akan melangsungkan pernikahan minggu depan, Richard dijadiin ajang taruhan sama sohibnya. Taruhannya sih sederhana (tapi dalem), “Apakah Richard bakal bawa gandengan ke acara nikahan nanti?” Saat sohibnya cuma tahuran uang, Richard mau gak mau harus mempertaruhkan harga diri dan gengsi.

Richard mulai putar otak mencari seorang cewek yang mau dijadiin temen kondangan. Mulai cari kenalan dari kartu nama klien di percetakan, ngajak karyawannya jalan, sampe minta bantuan ke sahabat baiknya, Panji (Verdi Solaiman) supaya bisa dikenalin ke temen ceweknya. Tapi semua rencana itu gagal total karena Richard ngerasa gak ada cewek yang bisa ngertiin dia banget.

Setelah dirasa udah mentok, Richard gak sengaja menemukan sample brosur aplikasi biro jodoh bernama Love.inc di percetakannya. Dari situlah ia dipertemukan dengan seorang gadis bernama Arini (Della Dartyan).

Alih-alih cuma jadi temen kondangan, ternyata Love.inc mengharuskan semua karyawannya untuk menyelesaikan kontrak dengan kliennya sampe masa perjanjiannya selesai. Mau gak mau, Richard harus menyetujui peraturan tersebut. Dan kehadiran Arini di rumahnya seolah mampu mengubah kehidupan Richard yang kaku dan pelan-pelan mulai membuka hatinya buat orang lain.

Isunya kekinian banget

©Visinema Pictures
©Visinema Pictures

Secara garis besar “Love for Sale” mungkin bisa jadi ajang paling pas buat menertawakan kejombloan seseorang. Menariknya Andibactiar Yusuf dan Irfan Ramli sebagai penulis naskah film mampu menyampaikannya secara kekinian mayoritas permasalahan jomblo. Walau zaman sekarang banyak aplikasi kencan, tapi Love.Inc berusaha menarasikan kalo jadi jomblo pun gak segampang yang orang pikir.

Sejumlah isu kekenian di republik ini juga berhasil dikritik dalam bentuk gimmick yang memancing tawa penonton. Gak dibuat lebay, tapi justru mengalir gitu aja. Belum lagi penampilan Adriano Qalbi dan Albert Halim sebagai pemeran pembantu turut mewakili sebagian besar tipe karyawan yang cuma bisa ngedumel saat bosnya ngomel.

©Visinema Pictures
©Visinema Pictures

Sedangkan akting kedua pemeran utamanya Gading dan Della boleh dibilang cukup oke. Gading mampu jadi sosok pria konyol, melankolis, tapi bisa juga serius. Sebaliknya Della adalah sosok cewek anggun yang penuh teka-teki dan bisa nyampur aduk perasaan para cowok. Keduanya sukses ngebangun chemistry sebagai pasangan yang lagi fall in love, lengkap dengan scoring yang pas di tiap adegannya.

Kalo pun ada hal yang kurang buat penulis mungkin ada pada kurangnya penggambaran motif di sosok Arini kepada Richard yang seperti muncul begitu aja. Meski demikian, sang sutradara mengembalikan hal tersebut sesuai interpretasi penonton.

Kesimpulannya, “Love for Sale” bukan cuma film yang menertawakan jomblo, tapi juga mengajak mereka buat keluar dari zona nyaman. Bentuknya seperti apa? Ya tonton aja sendiri filmnya mulai tanggal 15 Maret 2018.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.