Jum'at, 15 November 2019
Ngobrol Bareng

Jerome Polin Jatuh Cinta dengan Matematika dan Dunia Pendidikan

©Genmuda.com/2019 LikiJerome Polin Sijabat dengan buku pertamanya "Mantappu Jiwa" yang mulai dirilis pada 19 Agustus 2019 ©Genmuda.com/2019 Liki

Genmuda – Muda dan punya banyak prestasi gak bikin sosok Jerome Polin Sijabat puas gitu aja. Anak kedua dari tiga bersaudara ini punya banyak banget mimpi dan ide yang ingin ia wujudkan sekaligus memberikan banyak inpirasi bagi banyak anak muda Indonesia lainnya.

Lewat buku terbarunya “Mantappu Jiwa” ia berusaha membagikan pengalaman dirinya dengan perumpamaan rumus matematika, sederhana, dan apa adanya. Gak melulu membahas soal matematika yang jadi jurusan kuliahnya di Universitas Waseda, Jepang, Jerome bercerita rumus hidupnya hingga bisa menjadi seperti sekarang.

Kepada Genmuda.com dan beberapa awak media lainnya, Jerome lantas bercerita seputar buku pertamanya dan segala segudang impiannya di masa depan. Kawan Muda penasaran? Berikut hasil wawancaranya.

 

Genmuda: Selamat buat Jerome atas peluncuran buku pertama kamu. Ceritain dong ke kita proses penggarapannya seperti apa?

Jerome: Kalo gak salah akhir tahun 2018 lalu bulan Desember, Kak Ruth (editor GPU) ke Jepang dalam rangka liburan. Kemudian dia DM aku. Entah kenapa dari sekian banyak DM ketemu DM dari dia. Intinya ingin menawarkan saya untuk menulis buku.

Kebetulan saya suka nulis cerita lewat caption di Instagram. Akhirnya sekalian aja dibuat buku supaya bisa lebih tersalurkan. Akhirnya bulan Februari mulai dirancang dan proses pengerjaannya sekitar enam bulan.

 

Genmuda: Untuk cerita di buku ini emang diputuskan dari kamu sendiri atau dari editor?

Jerome: Diskusi awalnya Jerome ini kan dikenalnya matematika dan Jepang. Kalo cuma biografi aja mungkin agak bosen juga kan. Akhirnya setiap bab dalam buku ini ada soal-soal matematika dimana setiap soal jawabannya dua.

Artinya apa? Sebenarnya untuk sampai di angka dua banyak banget jalannya. Ada yang butuh ilmu khusus atau usaha lebih, tapi ada juga yang gampang. Jadi dari sini kita tau jalan (red. hidup) ada banyak tapi gak semua jalan tingkat kemudahannya sama.

 

Genmuda: Apa alasan kamu suka membuat konten yang berhubungan dengan matematika?

Jerome: Pertama saat kita suka akan satu hal, kita pasti pengen dong orang lain juga ikut suka. Menurut saya matematika adalah ilmu yang sangat penting dan sangat fundamental. Kita bisa berpikir kritis secara logika. Karena banyak temen-temen saya yang gak suka dan banyak nanya ke saya, jadi saya ada keinginan untuk membuat konten-konten seperti itu.

Sejauh ini cukup banyak yang bilang, “Kak, dulu aku yang gak suka matematika, jadi suka.” Karena munurut saya, bisa itu dimulai dari suka. Bisa karena terbiasa. Kalo kita udah gak suka pasti gak akan terbiasa.

Orang sering bertanya, “Buat apa sih belajar matematika atau bilogi, emang kepake?” Padahal ada sisi positif yang bisa diambil yang bisa meng-upgrade diri kita. Entah itu cara menghafal atau cara berpikir.

 

Genmuda: Sejak sih kapan kamu suka matematika?

Jerome: Sejak SD. Dulu juga gak suka, tapi aku selalu ngabayangin ini (red. matematika) game atau lagi mencari harta karun. Pas ketemu jawabannya kita seneng gitu. Jadi semua balik lagi tentang mindset.

 

Genmuda: Dengan banyak respon positif sejauh ini, ada gak sesuatu yang ingin kamu bagi buat orang lain dari matematika atau dari diri kamu sendiri?

Jerome: Sebenarnya saya punya mimpi untuk jadi Menteri Pendidikan. Kenapa? Karena saya ingin memajukan Indonesia. Sekarang generasi muda ini yang suatu saat nanti memimpin Indonesia, jadi selain ingin menginspirasi aku pengen mengajak anak muda untuk saling membangun Indonesia bareng-bareng.

©Genmuda.com/2019 Liki
©Genmuda.com/2019 Liki

“Selama proses ini saya punya mimpi untuk bikin sekolah atau lembaga pendidikan sendiri…”

Genmuda: Gimana komentar kamu soal sistem pendidikan di Indonesia mulai dari zonasi sekolah, wacana rektor asing, hingga kurikulum yang selalu bergonta-ganti?

Jerome: Buat saya zonasi bagus juga karena di Jepang juga seperti itu, cuma Indonesia masih belum siap karena adanya sekolah favorit. Kalo semua faslitas dan kualitas sekolahnya sudah sama rata, okelah.

Karena orang-orang yang protes itu kan mereka yang telah berjuang keras untuk masuk ke sekolah favorit, sekarang kalo sekolah favorit itu gak ada mereka gak akan masalah dengan zonasi tersebut karena itu semua kan berantai mulai SD, SMP, SMA, hingga univeritas mau masuknya yang favorit.

Kalo untuk rektor asing buat saya sih engga masalah selama itu menguntungkan Indonesia. Tapi tetap ada aturan yang jelas ya.

Sedangkan untuk kurikulum, selama proses ini saya punya mimpi untuk bikin sekolah atau lembaga pendidikan sendiri dimana saya bisa menguji kurikulum saya sendiri yang digabungkan dari beberapa kurikulum yang bagus-bagus. Andai kata itu berhasil, itu bisa diterapkan di sekolah-sekolah lain.

Kalo sekarang kurikulum sering bergonta-ganti malah kasian murid-muridnya kan. Bukannya jadi suka belajar, malah jadi males. Setiap tahun pasti ada aja kan heboh-hebohnya yang menimbulkan kekhawatiran karena tidak adanya kepastian.

 

Genmuda: Lantas apa gak ada tahapan rencana kamu untuk merealisasikan itu semua?

Jerome: Pasti ada. Sekarang saya S1, ada rencana lanjut S2. Masih galau lanjut matematika atau education, terus ingin kerja juga untuk nambah pengalaman dan modal. Modal itu harus banyak untuk bisa bangun sekolah.

 

Genmuda: Gimana cara kamu ngebagi waktu?

Jerome: Sebenarnya ngebagi waktu itu berdasarkan prioritas. Cara membagi waktu yang baik adalah menggunakan waktu secara efisien. Kadang-kadang kita sering ngerasa kehabisan waktu tapi punya waktu untuk media sosial. Padahal tanpa kita sadari itu adalah waktu yang bisa dipakai untuk kegiatan produktif. Dari dulu saya juga punya kebiasaan untuk hapus aplikasi media sosial dari hp saya.

 

Genmuda: Selain belajar apa sih hobi yang Jerome lakuin sejak kecil?

Jerome: Main musik, ikut paduan suara, olahraga, pokoknya hal lain selain main.

 

Genmuda: Kenapa kamu juga menaruh soal-soal matematika di buku ini?

Jerome: Itu permintaan Kak Ruth sih, hahaha. Tapi semua soal-soal ini bisa diselesaikan tanpa rumus kok. Ini semua cuma analisa dan logika aja.

©Genmuda.com/2019 Liki
Jerome saat membedah salah satu soal matematika di buku Mantappu Jiwa ©Genmuda.com/2019 Liki

Genmuda: Ada saran gak buat temen-temen yang udah stres duluan saat ngelihat soal matematika?

Jerome: Saya juga sering kayak gitu, ternyata begitu kita ngerjain ternyata gak sesusah yang dibayangkan. Memang apa yang kita takutkan lahir dari yang kita bayangkan. Pikiran kita yang bikin kita takut.

 

Genmuda: Kalo boleh memilih satu dari sekian aktivitas dan hobi yang kamu miliki sekarang, apa satu profesi yang pengen kamu pilih?

Jerome: Menteri pendidikan. Aku bersyukur bisa berada di posisi seperti sekarang. Ketika aku ngomong pengen jadi menteri tapi tidak tidak menghidupkannya dan profile aku gak ya pasti orang-orang akan bertanya-tanya.

“Jangan sampai menjual mimpi doang!”

Aku juga berhasil ke Jepang, juga saat diwawancara aku ngomong bahwa mimpi aku ingin menjadi menteri pendidikan. Aku juga gak mau menjual mimpiku demi dapetin fans, tapi memang aku benar-benar mau. Jadi jangan sampai menjual mimpi doang.

 

Genmuda: Ada tips atau saran buat temen-temen yang sedang mencari beasiswa?

Jerome: Namanya seleksi harus siap gak keterima. Ketika kita siap, apa langkah selanjutnya yang akan kita pikirkan jika gagal. Contoh kasus dari 800 ribu perserta yang keterima cuma 100 ribu, jadi kita harus bisa ngalahin 8 orang yang kerja keras. Kalo ingin lolos, senggaknya kamu harus kerja keras buat ngalahin 8 orang itu.

Tips lainnya adalah tau juga kemampuan kompetitor lainnya. Seperti aku tulis di buku tetang Tes EJU (seleksi masuk universitas Jepang) aku push myself untuk mengalahkan orang-orang Korea Selatan dan China untuk dapat universitas bagus. Puji Tuhan di kelas mahasiswa asing Waseda angkatan saya, cuma saya orang Indonesia di kelas.

 

Genmuda: Bakal menduga gak buku kamu akan dapat banyak respon positif dari fans?

Jerome: ENGGAK. Awalnya preorder dibuka cuma 5 hari. Cuma aku bilang ke Kak Ruth, “Wah kayaknya kependekan deh.” Aku sendiri yang bilang dan gak yakin. Soalnya aku sadar kebanyakan kan mereka itu pelajar.

Cuma kakak dan ayah aku juga bilang, “Jer, nonton aja sekarang 50 ribu.” Jadi ada perbandingan value gitu. Karena aku kan juga dulu pelajar, tapi ya ada benarnya juga sih kata mereka. Cukup kaget sih respon bisa sebesar itu.

©Genmuda.com/2019 Liki
Suasana peluncuruan buku ‘Mantappu Jiwa’ di fX Sudirman, Jakarta, Jumat (16/8) ©Genmuda.com/2019 Liki

Genmuda: Ada rencana untuk buku selanjutnya?

Jerome: Kalo ada kesempatan mau-mau aja. Sebenarnya pengen juga bikin buku soal matematika, cuma gak terlalu serius.

 

Genmuda: Siapa sih sosok yang kamu idolakan dan kenapa?

Jerome: Papa mama jelas. Mulai dari kerja keras mereka hingga cara mendidik mental anak-anaknya untuk mensyukuri apa yang ada. Dalam hal asmara papa-mama kan pacaran sekali seumur hidup, mereka cinta pertama hingga akhirnya menikah, mereka selalu nekanin pacaran bukan untuk main-main cari yang benar untuk menikah. Jadi kayak gitu sih, mereka role model buat segala hal di kehidupan aku.

©Genmuda.com/2019 Liki
©Genmuda.com/2019 Liki

Genmuda: Apa yang gak banyak orang tau soal Jerome?

Di tengah wawancara, manajer sekaligus kakak kandung Jerome, Jehian ikut masuk dalam wawancara.

Jehian: Jerome itu sering kan cerita-cerita di caption, sebenarnya salah satu orang di balik layar itu adalah papa, mama, dan aku. Jadi sebelum bikin caption dia kirim dulu ke grup WhatsApp keluarga.

Jerome: Iya, kira-kira aman gak nih? Ada yang menyinggung kah atau yang salah? Kadang-kadang aku suka kasih motivasi bisa aja ada orang yang gak terima, jadi aku sharing dulu ke grup keluarga.

 

Nah, kalo kamu masih penasaran dengan kisah petualangan hidup Jerome Polin hingga bisa seperti sekarang, langsung aja baca buku “Mantappu Jiwa” yang mulai tersedia secara offline dan online mulai tanggal 19 Agustus 2019.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.