Minggu, 22 Oktober 2017
HiburanFilm

Ini Segelintir Alasan Kamu akan Berlinang Air Mata saat Nonton ‘Mereka yang Tak Terlihat’

©Genmuda.com/2017 TIMEstelle Linden tandatangani poster "Mereka yang Tak Terlihat" setelah konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/10). ©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda – Film “Mereka yang Tak Terlihat” nawarin cerita horor yang terbilang lengkap, malah cenderung eksperimental. Adegan jumpscare, thriller, dan suspense sebagai unsur dasar film horor dibalut sama plot drama menyentuh, sehinga menghasilkan subgenre drama-horor.

Karya baru Sutradara Billy Christian “Petak Umpet Minako” (2017) itu diputer terbatas di Jakarta, Rabu (11/10), beriringan sama konferensi pers. Hadir di acara itu, Sarjono Sutrisno (executive produser), Helfi Kardit (produser), Estelle Linden (Saras), Roweina Sahertian (Tante), dan para cast.

Pada kesempatan itu, mereka yang tergabung dalam rumah produksi Skylar Picture menceritakan pengalaman menghasilkan karya yang terbilang baru di Indonesia tahun ini. Nih, ringkasan ceritanya Genmuda.com kasih tau ke kamu.

Cerita asli dari temen Billy Christian

©Genmuda.com/2017 TIM
Sutradara Billy Christian (tengah) becanda sama seorang kru. ©Genmuda.com/2017 TIM

Film yang rilis 12 Oktober 2017 itu nyeritain pengalaman seorang anak yang berkemampuan melihat “makhluk halus” (indigo) dalam membuat orangtuanya percaya terhadap kemampuan tersebut. Billy Christian bilang, cerita itu dateng dari Citra Prima, temennya yang juga merupakan indigo.

“Citra yang sekarang periang ternyata punya masa lalu yang terbilang berat. Kemampuannya tidak dipercayai sebagian besar orang, termasuk orangtuanya. Cerita itu menginspirasi saya dalam merancang hubungan Saras dan ibunya di dalam film,” tutur Billy kepada Genmuda.com setelah konferensi pers.

Mereka bukan hanya tak terlihat, tapi tak terdengar

©Genmuda.com/2017 TIM
Ki-ka: Bianca Hello, Roweina Sahertian, dan Estelle Linden. ©Genmuda.com/2017 TIM

Konferensi pers itu juga dihadiri Frislly Herlind, anak indigo yang juga berperan sebagai Dinda di film. Dia adalah inspirasi Billy Christian dalam membentuk tokoh Saras, seorang cewek yang denger curhatan “para arwah.”

Frislly mengatakan, “Makhluk halus bermacam jenisnya. Ada yang murni hanya mengganggu, ada yang diam saja, namun ada yang ingin menyampaikan kisahnya. Cerita film ini dibangun berdasarkan penuturan mereka yang tak terlihat.”

Mereka adalah pendamping tiap manusia

Terkait keberadaan arwah, Billy Christian percaya kalo tiap manusia terlahir dengan sesosok pendamping yang tak kasat mata. Ketika seseorang wafat, pendamping itu lah yang kemudian mewujudkan diri dalam bentuk orang tersebut.

“Mereka itu lah yang ingin menceritakan sesosok yang sudah didampingi seumur hidup kepada orang lain. Seperti manusia, mereka juga ingin didengar,” kata Billy mengutip penuturan Citra Prima kepadanya. Pendapat itu pun diamini Frislly.

Wawancarai hantu

Kisah-kisah yang kemudian jadi inspirasi cerita itu Billy dapet melalui tahap wawancara hantu dalam kurun dua tahun. “Saya harus berterima kasih sebesarnya kepada Frislly karena dia bersedia jadi medium (narahubung .red) untuk makhluk-makhluk astral itu,” kata Billy.

Kisahnya menyedihkan

Semua arwah yang bercerita ternyata punya cerita pilu. “Ada yang bilang mereka meninggal karena diperkosa, bunuh diri karena dibully, dan masih banyak,” kata Billy. Tapi, gak semua cerita itu dituangin ke dalam naskah.

“Saya hanya memilih yang ceritanya punya nilai kekeluargaan, bukan yang sadis,” kata Billy.

Untuk ibu tercinta

Tema keluarga sengaja dipilih karena Billy pengen mendedikasikan film unik tersebut untuk ibunya. “Dilihat dari pemeran utamanya yang perempuan semua pun sudah jelas. Film ini saya buat untuk perempuan paling berjasa dalam hidup saya,” kata Billy.

Wawancara 17 anak Indigo

Billy Christian pun mewawancarai 17 indigo selama proses pembuatan naskah. Kisah-kisah mereka bermanfaat sebagai latar belakang pengalaman indigo berinteraksi dengan lingkungan dan dalam perancangan sosok hantu.

“Tiap pendeskripsian mereka saya gambar langsung dan saya kumpulkan. Tak terasa, terpilih hingga 67 sosok makhluk astral untuk ditampilkan di dalam film,” cerita Billy kepada Genmuda.com.

Menang MURI

Jumlah makhluk astral yang terbilang banyak dalam satu film itu akhirnya dapet penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Film dengan Penampilan Makhluk Astral Terbanyak.

Menyaksikan langsung

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Estelle Linden juga dapet banyak banget pengalaman dalam penggarapan film horor pertamanya. Pasalnya, cewek keturunan Belanda itu menyaksikan langsung proses wawancara Billy dengan para makhluk astral melalui medium Frislly.

“Saya melihat semuanya dari awal, dari saat bentuk bibir medium berubah, lalu pandangannya kosong, tubuhnya terkulai, kemudian bangkit lagi dengan kepribadian baru,” kata Estelle kepada para wartawan. Jadi, pendalaman karakter doi engga cuma lewat proses reading.

Mendengar curhatan para arwah pendamping manusia itu, Estelle Linden awalnya merasa takut. “Namun, lama-lama saya justru sangat berempati kepada mereka. Karena, hidup ternyata sesulit itu,” tuturnya.

Estelle sampai belajar tari

Pada satu adegan, terlihat Estelle sebagai Saras kerasukan arwah penari dan doi mempraktikkan tarian bali tersebut. Untuk adegan itu, Estelle butuh ikut latihan nari selama lima sesi. Hasilnya, liat sendiri deh di filmnya.

Optimis banget

©Genmuda.com/2017 TIM
Ki-ka: Helfi Kardit (produser) dan Sarjono Sutrisno (executive producer). ©Genmuda.com/2017 TIM.

Karya yang bisa dibilang dibuat dengan sangat niat ini diharapkan sukses nembus satu juta penonton. Sarjono Sutrisno selaku executive produsernya meyakini itu. Namun, Helfi Kardit yang bertitel producer lebih yakin lagi.

“Satu juta penonton itu kurang memuaskan saya. Lima juta baru puas. Saya yakin,” katanya di hadapan para wartawan.

Mereka berterima kasih

©Genmuda.com/2017 TIM
Frislly Herlind (tengah) bersama aktris senior Dayu Wijanto (kiri) dan pendatang baru Sharon Sahertian (kanan). ©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda.com juga sempet nanya gini kepada Frislly, secara doi merupakan medium yang bisa ngeliat hantu perempuan berbaju adat Jawa lagi berdiri di sebelah poster besar film, di belakang area konferensi pers.

Genmuda: “Bagaimana komentar mereka yang tak terlihat terhadap film ini, Kak Frislly?”

Frislly: “Sebagian besar merasa geregetan karena kisahnya tak terpilih. Namun, mereka yang kisahnya terpilih merasa sangat berterima kasih. Karena, ini kesempatan langka bagi mereka untuk membuat kisahnya didengar khalayak luas.”

Oke sip. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.